Pengaruh perlakuan awal dan tingkat pemadatan terhadap sifat fisis mekanis kayu sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen)
Abstract
Program sengonisasi yang dilaksanakan di Pulau Jawa khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya telah berhasil menghasilkan tegakan sengon dengan potensi besar. Keberhasilan program ini harus diimbangi dengan peningkatan pemanfaatan kayu sengon, sehingga kayu yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara optimal. Sebagai kayu cepat tumbuh kayu sengon mempunyai sejumlah kelemahan, khususnya dalam hal kekuatan dan keawetan. Sifat-sifat kayu sengon dapat ditingkatkan dengan memodifikasi sifat-sifat yang ada dalam kayu sengon. Salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan sifat fisis dan mekanis kayu adalah dengan pemadatan (densifying by Compression).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan awal (kering udara, perendaman, pengukusan) dan tingkat pemadatan (30 %, 45 %, 60 %) terhadap sifat fisis dan mekanis dari kayu sengon terpadatkan dalam rangka perbaikan kualitas kayu sengon, sehingga produk yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan sebagai bahan untuk furnitur, bahan interior, dan bahan konstruksi kayu.
Pemadatan dilakukan dengan kempa panas bersuhu 130° C dalam 3 siklus/tahap pengempaan. Tahap pertama sortimen uji dengan ketebalan awal 2 cm dikempa sampai ketebalan sasaran (30 %, 45 5,60 %) selama 4 menit, tahap kedua 6 menit dan tahap ketiga selama 10 menit dimana antar tahap tekanan dilepaskan. Selanjutnya sortimen uji dikeringkan dalam oven sampai dengan kering udara. Setelah pengeringan untuk mengetahui apakah terjadi pengembangan tebal ketika sortimen uji berhubungan dengan udara luar, sortimen uji diangin-anginkan dalam suhu kamar selama 3 minggu. Akhirnya sortimen uji siap untuk diuji, dengan pengujian mengacu kepada British Standard for Testing Small Clear of Timber (BS 373) dan Japan Industrial Standard (JIS Z 2113).
Hasil penelitian menunjukan bahwa pemadatan meningkatkan kerapatan kayu sengon secara nata. Kerapatan kayu sengon meningkat secara berturut-turut dari 0,3 menjadi 0,41, 0,50, dan 0,60 akibat pemadatan dengan tingkat pemadatan 30 %, 45 %, dan 60 %. Berdasarkan PPKI 1971 yang menggunakan berat jenis untuk menduga kelas kuat kayu maku kayu sengon yang terpadatkan pada tingkat pengempaan 30 % dan 45 % termasuk kedalam kelas kuat III, untuk tingkat pengempaan 60 % masuk kedalam kelas kuat II.
Adanya pemulihan tebal (Spring back) menunjukan bahwa pengempaan dengan suhu 130 °C dengan waktu kempa selama 30 menit belum mencapai kondisi drying ser, sehingga memicu internal stress pada papan yang dikempa dengan tingkat pengempaan tinggi. Besarnya nilai spring back Serkisar dari 0,0 % sampai dengan 11 %. Uji statistik menunjukan bahwa pengaruh perlakuan awal ering udara, rendam, kukus) tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai spring back, edangkan tingkat pemadatan berpengaruh nyata terhadap nilai spring back.
Collections
- UT - Forestry Products [2469]
