Pengamatan Keaslian, Variabilitas dan Jarak Genetik Ayam Kampung di Kabupaten Magetan dan Sragen Berdasarkan Karakter Genetik Eksternal
View/ Open
Date
2005Author
Widiastuti, Yeni Adi
Mulyono, Rini Herlina
Ulupi, Hj. Niken
Metadata
Show full item recordAbstract
Ayam Kampung atau disebut juga ayam sayur merupakan ayam yang dipelihara
secara tradisional oleh sebagian besar penduduk Indonesia dalam skala rumah
tangga. Populasinya cukup tinggi dan menyebar secara merata di seluruh pelosok
tanah air. Penampilan ayam Kampung menjadi lebih indah dan menarik karena
memiliki keanekaragaman warna bulu. W arna bulu merupakan sifat genetik
eksternal yang menjadi ciri genetik suatu jenis ayam. Selain warna bulu, sifat
genetik ekstemal juga dicerrninkan dari warna kulit, shank dan bentuk jengger.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui laju introgresi ayam New
Hampshire, White Leghorn dan Barred Plymouth Rock terhadap ayam Kampung di
Kelurahan Magetan dan Kalang Kecamatan Magetan Kabupaten Magetan, Kelurahan
Jeruk dan Brojol Kecamatan Miri Kabupaten Sragen, Kelurahan Gemolong dan
Banjarsari Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen berdasarkan karakter genetik
ekstemal. Melalui laju introgresi tersebut akan dibandingkan keaslian ayam
Kampung pada masing-masing daerah pengamatan. Berdasarkan karakter genetik
ekstemal juga akan ditentukan variabilitas (keragaman) dan jarak genetik ayam
Kampung.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Pebruari-Maret 2004. Materi yang
digunakan adalah ayarn Kampung dewasa 300 ekor, sebanyak 50 ekor (19 ekor
jantan, 31 ekor betina) berasal dari Kelurahan Magetan, 50 ekor (17 ekor jantan, 33
ekor betina) berasal dari Kelurahan Kalang, 50 ekor (10 ekor jantan, 40 ekor betina)
berasal dari Kelurahan Gemolong, 50 ekor "(13 ekor jantan, 3 7 ekor betina) berasal
dari Kelurahan Banjarsari, 50 ekor (18 ekor jantan, 32 ekor betina) berasal dari
Kelurahan Jeruk, 50 ekor (14 ekoi jantan, 36 ekor betina) berasal dari Kelurahan
Brojol. Karakteristik genetik eksternal yang diarnati pada penelitian ini meliμuti
warna bulu (putih/II atau Ii, berwama/ii); pola wama bulu (hi tam/EE atau Ee+ atau
Ee, liar/e+e+ atau e+e dan kolumbian/ee); corak warna bulu (lurik/zBzB atau zBzb dan
ZBW, polos/zbzb dan zbW); kerlip bulu (perak/zSzS atau zSzs dan zsw, emas/ZSZS
dan ZSW); wama shank (putih atau kuning/ZIdzld atau zrdzid dan zIdw, hitam atau
abu-abu/zidzid dan zidW); bentuk jengger (kapri/PP atau Pp, tunggal/pp dan ros/RR
atau Rr). Hasil pengarnatan yang diperoleh akan diuji menggunakan rumus-rumus .
yang disaranan oleh Nishida et al. (1980) dan Stanfield (1982) untuk menentukan
frekuensi gen, laju introgresi ayarn ras unggul luar negeri, tingkat keaslian dan
frekuensi gen asli. V ariabilitas dan jarak genetik dihitung berdasarkan rumus yang
disarankan oleh Hashiguchi et al.(1982) dan Nei (1987).
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ayam Ka.mpung di Kelurahan Magetan,
Kalang, Banjarsari, Jeruk dan Brojol sudah tidak asli lagi. Kandungan gen asli ayam
Kampung di lokasi pengamatan adalah 9%-43%. Tingkat keaslian ayam Kampung
paling tinggi ditemukan di Kelurahan Gemolong (43%). Tingkat keaslian ayam..dst
