Analisis pendapatan usahatani dan pemasaran Ketimun (Cucumis sativus L) (Studi kasus Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor)
Abstract
Salah satu daerah yang menghasilkan ketimun di Kabupaten Bogor adalah
Desa Citapen. Rata-rata produktivitas ketimun di Kelompok Tani Pondok
Menteng Desa Citapen hanya mampu mencapai 6,29 ton perhektar. sedangkan
produktivitas ketimun yang ada di kabupaten Bogor dapat mencapai 12,80 ton
perhektar. Kondisi ini menunjukkan bahwa produktivitas yang terjadi di Desa
Citapen belum mampu memenuhi rata-rata produktivitas yang ada di Kabupaten
Bogor. Kegiatan pasca panen pada umumnya menjadi masalah bagi petani
ketimun, harga hasil ketimun fluktuatif sehingga mempengaruhi pendapatan
petani ketimun di Desa ini. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menganalisis
pendapatan usahatani ketimun di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten
Bogor. (2) Menganalisis Saluran Pemasaran dan Fungsi-fungsi pemasaran
Ketimun di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. (3) Menganalisis
Efisiensi Pemasaran Ketimun di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten
Bogor.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten
Bogor pada bulan Mei hingga Juni 2012. Sedangkan pengumpulan data
dilaksanakan pada bulan maret hingga april 2012. Data yang digunakan terdiri
dari data primer dan data sekunder. Jumlah responden dalam penelitian ini
berjumlah 30 orang, dimana responden diambil dengan menggunakan metode Snowball Sampling. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan
kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif meliputi gambaran umum perusahaan,
proses produksi atau teknik budidaya Ketimun, saluran pemasaran, lembaga
pemasaran, dan fungsi pemasaran yg digunakan dalam memasarkan ketimun
tersebut. Analisis data secara kuantitatif antara lain analisis pendapatan usahatani,
penerimaan usahatani, biaya usahatani, R/C rasio, analisis Margin pemasaran,
Farmer’s Share dan rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran. Data yang
dianalisis secara kuantitatif akan diolah dengan bantuan program Microsoft Office
Excel 2007, kemudian disajikan secara tabulasi dan diinterpretasikan serta
diuraikan secara deskriptif.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa usahatani ketimun yang
dilakukan oleh petani responden di Desa Citapen secara umum dikatakan
menguntungkan dan layak untuk diusahakan, karena nilai R/C atas biaya tunai dan
R/C atas biaya total menunjukkan nilai yang lebih dari satu, yakni sebesar
2,32 dan 1,94 dengan artian bahwa penerimaan yang diperoleh petani responden
dalam mengusahakan ketimun dapat menutupi biaya usahatani yang dikeluarkan.
pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total yang diperoleh petani
selama periode tanam per satu hektar adalah masing-masing sebesar Rp.
45.757.275 dan Rp. 38.967.976.
Saluran pemasaran ketimun di Kelompok Tani Pondok Menteng ada tiga
saluran, yang terdiri dari : saluran pemasaran I (Petani, Pedagang Pengumpul,
Pedagang besar, pedagang kecil), saluran pemasaran II (Petani, pedagang
pengumpul, pedagang pengecer) dan saluran pemasaran III ( Petani, pedagang
pengumpul).
Lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam kegiatan pemasaran
ketimun menjalankan fungsi-fungsi pemasaran untuk memperlancar proses
penyampaian barang. Fungsi pertukaran terdiri dari fungsi pembelian dan fungsi
penjualan ketimun, Fungsi fisik meliputi kegiatan penyimpanan, pengumpulan,
pengolahan, dan pengangkutan, sedangkan Fungsi fasilitas terdiri dari fungsi
standarisasi dan grading, penanggungan risiko, pembiayaan atau pembayaran,
dan informasi pasar.
Berdasarkan ketiga saluran pemasaran diatas, dapat diketahui bahwa
Margin pemasaran disetiap saluran pemasaran ketimun di Kelompok Tani Pondok
Menteng berbeda. Margin pemasaran pada saluran pemasaran I, saluran
pemasaran II, saluran pemasaran III masing-masing adalah Rp. 4.000, Rp. 2.800,
dan Rp. 2.000 per kilogram. Sehingga saluran pemasaran III merupakan paling
efisien, karena nilai Margin pemasarannya paling kecil. Rasio keuntungan biaya
yang diperoleh saluran pemasaran I, saluran pemasaran II dan saluran pemasaran
III masing-masing adalah 4,04; 4,37 dan 6,13. Jadi saluran pemasaran III
memperoleh keuntungan yang paling besar dibandingkan dengan saluran
pemasaran yang lainnya. Farmer’s Share pada saluran pemasaran I, saluran
pemasaran II, dan saluran pemasaran III masing-masing adalah 33,34 persen;
45,45 persen; dan 55,56 persen. Saluran pemasaran III juga mendapatkan
Farmer’s Share cukup tinggi, sedangkan Farmer’s Share terendah terdapat pada
saluran pemasaran I sebesar 33,34 persen, akibat dari jauhnya jarak konsumen
akhir ketimun. Berdasarkan kondisi dilapangan saluran III tidak efisien karena
tidak ada jaminan dalam penjualan kapasitas banyak. Sehingga perputaran produk
ketimun tidak cepat, sementara buah ketimun mempunyai sifat mudah busuk.
Collections
- UT - Agribusiness [4776]
