Penggunaan Model AGNPS (Agricultural Non-Point Source Pollution) Untuk Menduga Aliran Permukaan dan Sedimen di Sub DAS Ciliwung Hulu
View/ Open
Date
2005Author
Marjan, Raden Ludi A
Hidayat, Yayat
Sudarmo
Metadata
Show full item recordAbstract
Penelitian ini dilakukan dari bulan Februari Maret 2004 yang bertempat di Sub DAS Ciliwung Hulu, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menduga aliran permukaan dan sedimen pada Sub DAS Ciliwung Hulu dengan menggunakan model AGNPS, validasi hasil prediksi model AGNPS (volume aliran permukaan, debit puncak aliran permukaan, dan sedimen) dengan hasil pengukuran langsung di lapang dengan menggunakan uji-t untuk data berpasangan, dan mengaplikasikan model dalam simulasi perubahan penggunaan lahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediksi debit puncak dan jumlah aliran permukaan dengan model AGNPS lebih rendah dibandingkan dengan pengukuran di lapang. Nilai tertinggi debit puncak yang diprediksi model AGNPS sebesar 2.90 m³/detik dan jumlah aliran permukaan sebesar 21 209 m³ per kejadian hujan, sedangkan hasil pengukuran di lapang untuk debit puncak sebesar 2.21 m³/detik dan jumlah aliran permukaan sebesar 21 852 m³ per kejadian hujan. Berbeda dengan debit puncak dan aliran permukaan, jumlah sedimen hasil prediksi model AGNPS lebih tinggi dibandingkan dengan pengukuran di lapang. Jumlah sedimen yang diprediksi model AGNPS sebesar 206.70 Ton per kejadian hujan atau 124 Ton/Ha per kejadian hujan sedangkan hasil pengukuran sebesar 35.32 Ton per kejadian hujan atau 0.21 Ton/Ha per kejadian hujan.
Berdasarkan uji-t data berpasangan pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa debit puncak, aliran permukaan dan hasil sedimen prediksi model AGNPS tidak berbeda nyata dengan hasil pengukuran. Berdasarkan hal tersebut, maka model AGNPS dapat digunakan untuk memprediksi parameter-parameter tersebut di Sub DAS Ciliwung Hulu.
Jika kegiatan penghijauan yang dilakukan oleh petani setempat berhasil, maka skenario yang memberikan hasil penurunan debit puncak, volume aliran permukaan, dan sedimen yang paling besar adalah skenario dua. Hal ini disebabkan oleh kemampuan hutan untuk menahan dan mengurangi jumlah aliran permukaan, maupun sedimen yang relatif lebih besar dibandingkan dengan kebun teh, kebun campuran, dan pemukiman.
