Sifat-sifat Kimia dan Dimensi Serat Kayu Manglid (Magnolia blumei Prantl.)
Abstract
Kayu merupakan sumber serat terpenting bagi industri pulp dan kertas saat ini. Menurut Casey (1980), kelebihan kayu sebagai bahan baku pulp dan kertas dibandingkan dengan bahan baku lain diantaranya biaya produksi yang rendah, penyimpanan dan penanganan bahan baku yang mudah, kualitas pulp akhir yang tinggi dan keragaman sifat serat dari jenis kayu yang berbeda. Mengingat besarnya pengaruh karakteristik bahan baku terhadap proses produksi pulp dan kertas, pemanfaatan jenis kayu lain dengan sifat dan kualitas yang lebih baik merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi
produksi serta kualitas produk pulp dan kertas Indonesia.
Kayu manglid (Magnolia blumei Prantl.) adalah salah satu jenis kayu cepat tumbuh khas daerah Jawa Barat. Pemanfaatannya selama ini baru terbatas sebagai bahan baku bagi produk-produk mebel atau perabotan rumah tangga Akan tetapi, sifat tumbuh pohonnya yang cepat menyebabkan kayu manglid berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber bahan baku baru bagi industri pengolahan kayu di Indonesia.
Pengetahuan tentang sifat-sifat kimia dan dimensi serat kayu manglid diperlukan guna memperoleh landasan teknis yang tepat bagi kemungkinan perluasan pemanfaatan jenis kayu ini sebagai bahan baku serat bagi industri pulp
dan kertas, maupun industri pengolahan kayu lainnya. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui sifat-sifat kimia dan dimensi serat kayu manglid (Magnolia blumei Prantl.) serta kemungkinan penggunaannya sebagai bahan baku pulp dan kertas. Pengujian sifat-sifat kimia kayu manglid dilakukan dengan mengacu pada
standar TAPPI Test Methods 1991, sedangkan proses pemisahan serat untuk penentuan ukuran dimensi serat dan turunannya dilakukan menurut standar Forest
Product Laboratory (FPL). Parameter yang diuji pada penelitian ini adalah sifat- sifat kimia dan dimensi serat kayu manglid. Sifat-sifat kimia kayu yang dianalisis meliputi kadar selulosa, a-selulosa, holoselulosa, hemiselulosa, lignin, abu dan silika. Sedangkan dimensi dan turunan dimensi serat kayu yang dianalisis meliputi panjang serat, diameter serat, diameter lumen, tebal dinding serat, nisbah Runkel, nisbah fleksibilitas, koefisien kekakuan, daya tenun dan nisbah Muhlsteph.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu manglid memiliki kadar zat ekstraktif bagian gubal 4,45% dan bagian teras 6,71%, kadar selulosa 48,87%,
kadar a-selulosa 34,90%, kadar holoselulosa 71,72%, kadar hemiselulosa 22,85%, kadar lignin 21,96%, kadar abu 0,56% dan kadar silika 0,08%. Selain itu, kayu manglid memiliki panjang serat 1666,4 um, diameter serat 28,50 um, diameter
lumen serat 20,2 m, tebal dinding serat 4,15 um, nisbah Runkel 0,42, nisbah
fleksibilitas 0,71, koefisien kokakuan 0,15, daya Muhlsteph 49,84%. tenun 58,76 dan nisbah Menurut klasifikasi sifat kimia kayu Indonesia (Departemen Pertanian,
1967 dalam Safitri, 2003), kayu manglid memiliki kadar selulosa tinggi, kadar lignin sedang, kadar zat ekstraktif tinggi dan kadar abu sedang. Selanjutnya, menurut klasifikasi mutu serat kayu Indonesia (Nurrachman dan Siagian, 1976 dalam Iskandar, 1993), serat kayu manglid termasuk kelas mutu II. Dengan mempertimbangkan pula warna kayu dan massa jenis, kayu manglid menurut klasifikasi mutu kayu FAO (FAO, 1980 dalam Safitri, 2003) termasuk kelas mutu baik. Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut, kayu manglid memiliki kelayakan untuk dijadikan sebagai sumber bahan baku pulp dan kertas.
Collections
- UT - Forestry Products [2466]
