Pengaruh pemupukan N dan P terhadap pertumbuhan tanaman melati(Jasminum sambac var. grand duke of tuscany)
Abstract
Tanaman melati sudah dikenal masyarakat Indonesia dan biasanya dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Tanaman melati biasa ditanam sebagai tanaman pagar karena sebagian besar jenis melati tumbuh merambat. Pertumbuhan Jasminum sambac var. 'Grand Duke of Tuscany cenderung tegak dengan ukuran bunga yang lebih besar dan bentuknya yang menarik dibandingkan dengan jenis melati lainnya, sehingga tanaman ini cocok untuk dijadikan tanaman hias dalam pot. Penampilan tanaman hias yang menarik dengan produksi bunganya yang banyak dapat diperoleh dengan tindakan budidaya yang tepat dan intensif, di antaranya adalah dengan pemupukan organik dan anorganik.
Penelitian ini bertujuan mendapatkan dosis pemupukan N dan P optimal yang dapat mempercepat pertumbuhan dan pembungaan pada tanaman melati dalam pot.
Penelitian dilaksanakan di Taman Buah Mekarsari, Cileungsi (Bogor). Pelaksanaan penelitian dimulai bulan Januari 1996 dan berakhir bulan Juli 1996.
Bahan tanaman yang digunakan adalah J. sambac var. 'Grand Duke of Tuscany' hasil cangkokan yang telah berumur 5 minggu. Media tanam yang di- gunakan adalah campuran antara tanah, pupuk kandang, dan sekam dengan perbandingan masing-masing 1:2:3 sebanyak 5 kg media/pot. Setiap perlakuan diberi pupuk KCI sebanyak 1.5 g KCl/pot. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk N dengan 4 taraf: tanpa pupuk Urea (NO); 3 g Urea/pot (N1): 6 g Urea/pot (N2); 9 g Urea/pot (N3). Sedangkan faktor kedua adalah dosis pupuk P dengan 4 taraf: tanpa pupuk TSP (NO); 1 g TSP/pot (N1); 1.5 g TSP/pot (N2); 2 g TSP/pot (N3). Setiap perlakuan diulang 3 kali dan masing-masing ulangan berisi 3 pot, sehingga ada 48 perlakuan percobaan.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah perlakuan dosis 6 g Urea/pot mempercepat pemunculan tunas pertama, meningkatkan jumlah cabang, meningkatkan jumlah daun, mempercepat pemunculan bunga pertama, dan menghasilkan bobot kering tanaman yang tertinggi. Perlakuan dosis 2 g TSP/pot mempercepat pemunculan tunas pertama, meningkatkan jumlah cabang, secara umum menghasilkan produksi bunga per minggu yang cukup tinggi, dan menghasilkan bobot kering tanaman yang tertinggi. Kombinasi perlakuan dosis 6 g Urea/pot dan 2 g TSP/pot menghasilkan pertumbuhan tanaman melati yang terbaik.
Semakin besar ukuran tinggi tanaman maka semakin sedikit jumlah cabang dan jumlah daun. Pada tanaman yang mempunyai jumlah cabang yang terlalu banyak maka pemunculan bunga pertamanya terlambat. Tanaman melati yang pemunculan bunga pertamanya cepat menghasilkan bunga yang jumlahnya relatif sedikit. Pada tanaman yang mempunyai percabangan yang relatif banyak maka dapat menghasilkan bunga yang jumlahnya juga banyak.
