Pengurangan pengaruh kejutan pindah tanam bibit kelapa sawit di pembibitan utama
Abstract
Tujuan percobaan ini adalah untuk melihat kemampuan adaptasi tanaman dengan metode pindah tanam cabutan bibit kelapa sawit dengan mengurangi laju transpirasi.
Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok faktorial dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama terdiri dari dua cara metode pindah tanam yaitu pemindahan tanaman secara konvensional (Mo) dan penundaan tanam selama dua hari secara cabutan (M.). Faktor kedua (pengurangan laju transpirasi) terdiri dari empat bagian yaitu Po (kontrol), (1). Pemangkasan sebagian daun terdiri dari dua taraf yaitu P, (pemangkasan dengan satu daun dengan besar pangkasan setengah daun), Pa (pemangkasan dengan dua daun dengan besar pangkasan setengah daun), (2). Daminozide dengan tiga taraf konsentrasi yaitu Ps (Daminozide 1500 ppm), P. (Daminozide 2000 ppm), Ps (Daminozide 2500 ppm). (3). Herbisida Codal 400 EC terdiri dari tiga taraf konsentrasi yaitu P. (Herbisida Codal 400 EC 100 ppm setara dengan bahan aktif Metolachlor 40 ppm), P, (Herbisida Codal 400 EC 150 ppm setara dengan bahan aktif Metolachlor 60 ppm), Pa (Herbisida Codal 400 EC 200 ppm setara dengan bahan aktif Metolachlor 80 ppm). (4). Paclobutrazol yang terdiri dari tiga taraf konsentrasi yaitu P, (Paciobutrazol 750 ppm), Pro (Paclobutrazol 1000 ppm) dan P₁ (Paclobutrazol 1250 ppm). Pada setiap satuan percobaan terdapat tiga bibit dengan tiga ulangan.
Hasil percobaan menunjukan metode pindah tanam cabutan dengan atau
tanpa perlakuan pengurangan transpirasi menunjukkan persentase hidup bibit yang
tinggi yaitu 96-100%.
Metode pindah tanam secara konvensional dan penundaan pindah tanam selama dua hari dengan cabutan menunjukan perbedaan yang nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah pelepah, diameter batang dan luas daun. Penundaan pindah tanam secara cabutan terjadi keterlambatan tumbuh tanaman selama 26 hari untuk tinggi tanaman, 28 hari pada jumlah pelepah dan diameter batang serta selama 49 hari untuk luas daun ke empat.
Perlakuan dengan pengurangan laju transpirasi berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada pengamatan minggu ke 2 dan 8 setelah penanaman dan tidak memberikan pengaruh nyata pada jumlah pelepah, diameter batang dan luas daun tetapi terdapat interaksi antara metode pindah tanam dan pengurangan laju transpirasi terhadap jumlah pelepah pada pengamatan 14 minggu setelah pena- naman dan tinggi tanaman pada minggu ke 8 setelah pemberian perlakuan.
Perlakuan metode pindah tanam memberikan pengaruh nyata terhadap bobot kering tanaman dan perlakuan dengan mengurangi laju transpirasi hanya berpengaruh nyata pada bobot kering akar. Bobot kering tanaman yang mendapat perlakuan pindah tanam secara cabutan nyata lebih rendah dari pada metode pin- dah tanam secara konvensional.
Perlakuan metode pindah tanam secara cabutan dengan Daminozide 2500 ppm juga menunjukan keterlambatan tumbuh bibit kelapa sawit terhadap tinggi tanaman, jumlah pelepah dan diameter batang serta bobot kering tanaman tetapi tidak terjadi pengurangan keterlambatan tumbuh pada luas daun ke empat. Jika dibandingkan dengan metode pindah tanam secara konvensional, terjadi pengurangan keterlambatan tumbuh pada jumlah pelepah menjadi 14 hari, diameter batang 17 hari dan tidak terjadi pengurangan keter lambatan tumbuh pada tinggi tanaman.
