Perbandingan estrus dan kebuntingan pada kejadian retensio sekundinae dengan penanggulangan antibiotik dan hormon
Abstract
Retensio sekundinae (RS) merupakan komplikasi postpartus penyebab infertilitas yang paling sering terjadi. Dampak spesifik dari kejadian RS terhadap produktivitas reproduksi adalah memperlambat siklus estrus. dan memperpanjang selang kelahiran (calving interval) Studi kasus yang dilaksanakan di PT Taurus Dairy Farm (PT TDF) ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kejadian RS dan dampaknya terhadap kemampuan reproduksi serta mengkaji efektivitas penanggulangan RS dengan metode antibiotik dan hormon dari segi kemampuan reproduksi (estrus dan kebuntingan).
Data yang digunakan dalam studi kasus ini terdiri atas data primer dan sekunder. Sampel yang diambil sebanyak 20 ekor atau 31,25 persen dari 64 ekor sapi yang mengalami kejadian RS selama tahun 2001. Pengambilan sampel dilakukan acak (random). Sapi yang mendapat terapi dengan antibiotik berjumlah 16 ekor, sedangkan yang mendapat terapi dengan metode hormon berjumlah 4 ekor. Data yang terolah dianalisis dengan metode deskriptif. Indikator keberhasilan penanganan RS dilihat dari jarak partus dengan estrus pertama (involusi uterus), jarak partus dengan kebuntingan (days open), service per conception (S/C) dan conception ratio
(CR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kejadian RS per bulan di PT TDF selama tahun 2001 cukup tinggi (21,68 persen atau 64 kasus dari 291 partus). Penyebab kejadian RS di PT TDF belum dapat ditentukan secara spesifik. Kemungkinan penyebab yang memiliki hubungan cukup kuat dengan kejadian RS adalah abortus.
Metode penanganan kejadian RS yang diterapkan di PT TDF dengan pengupasan manual, pemberian antibiotik (oxytetracycline, hydrochloride, nystatine, chlortetracycline, trimetroprim, sulfadiazina, penicillin, streptomycin dan gentamycin) dan hormon (PGF) dalam bentuk spull dan bolus serta kombinasi dari ketiganya telah memenuhi standar penanganan secara kilinis. Pada sapi yang mendapat terapi antibiotik menunjukkan waktu jarak rata-rata partus dengan estrus pertama (involusi uterus) yang lebih pendek (82,81) hari) dibandingkan sapi yang mendapat terapi hormon (115,5 hari). Demikian juga dengan jarak partus dengan kebuntingan (days open), sapi yang mendapat terapi antibiotik menunjukkan jarak rata-rata partus dengan kebuntingan (days open) yang lebih pendek (137,88 hari) dibandingkan sapi yang mendapat terapi hormon (147,25 hari).
