Analisis usahatani anggrek Phalaenopsis pada rumah bunga Rizal (RBR) di Bandung Jawa Barat
Abstract
Bisnis Phalaenopsis saat ini sedang berkembang pesat, sebab laju
produksi dan harga meningkat tajam (Trubus, 2005). Rumah Bunga Rizal (RBR)
merupakan salah satu produsen anggrek Phalaenopsis di Jawa Barat yang
memulai usaha pada tahun 1984 dengan membudidayakan pembesaran anggrek
mulai dari compot, seedling, remaja sampai dewasa. Namun sejak tahun 1994
sampai sekarang pertumbuhan luas lahan ataupun produksi anggrek dari waktu ke
waktu relatif tetap, padahal permintaan anggrek terdapat kecenderungan
meningkat karena pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan. Hal ini
menimbulkan pertanyaan sampai sejauh mana pendapatan dari usaha anggrek ini?.
Sampai sejauh mana perubahan harga input dan output berpengaruh terhadap
pendapatan anggrek?. Berdasarkan permasalahan diatas maka tujuan penelitian ini
adalah; (1) menganalisis keuntungan usaha anggrek di Rumah Bunga Rizal;
(2) menganalisis pengaruh perubahan harga-harga input dan output terhadap
keuntungan usaha anggrek di Rumah Bunga Rizal. Untuk mencapai tujuan penelitian digunakan data primer yang diperoleh dari data penjualan, volume produksi, harga jual, harga-harga input, volume pembelian input, jumlah tenaga kerja, dan penggunaan luas lahan. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis pendapatan, R/C rasio, BEP, dan sensitivitas harga. Analisis tersebut digunakan untuk setiap pembesaran anggrek, yaitu compot, seedling, remaja dan dewasa. Dalam analisis sensitivitas harga digunakan skenario; (1) penurunan harga output sebesar 10 persen; (2) penurunan harga output dan kenaikan harga bibit sebesar 10 persen; (3) penurunan harga output dan kenaikan harga pupuk sebesar 10 persen; (4) penurunan harga output dan kenaikan upah tenaga kerja sebesar 10 persen; (5) penurunan harga output dan kenaikan harga-harga input sebesar 10 persen.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa compot, seedling, remaja dan dewasa masih dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Nilai R/C > 1, dan volume penjualan berada diatas nilai BEP untuk compot, seedling, remaja dan dewasa berturut-turut sebesar 12.450 anakan, 2.272 pot, 1.221 pot, 723 pot. Namun berdasarkan berdasarkan hasil analisis sensitivitas harga, pada skenario penurunan harga output dan kenaikan harga bibit, berpengaruh pada nilai pendapatan compot yang mengalami kerugian, nilai R/C < 1 dan nilai BEP yang lebih tinggi dari keadaan semula.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa setiap pembesaran anggrek layak untuk diusahakan. Namun demikian pada tahap compot walaupun layak diusahakan, tetapi peka terhadap perubahan harga input dan output. Berdasarkan hasil diatas disarankan perusahaan mengambil kebijakkan untuk tidak melakukan penjualan pada tahap compot dan memfokuskan kegiatan usaha pada pembesaran
dewasa.
