Analisis struktur, perilaku, dan kinerja industri Kakao di Indonesia
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1) stuktur industri, 2) perilaku
industri, 3) kinerja industri kakao di Indonesia, dan 4) faktor-faktor yang
mempengaruhi struktur, perilaku, dan kinerja industri kakao di Indonesia. Industri
kakao yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri kakao dengan kode KBLI
15314 yaitu industri pengupasan, pembersihan, dan pengeringan kakao menjadi
konsumsi cokelat, dan waktu analisis yang dilakukan pada periode 2000-2009.
Adapun metode yang digunakan untuk menganalisis tujuan 1,2,3 adalah metode
Structure, Conduct, Performance (SCP), sedangkan metode yang digunakan untuk
menjawab tujuan ke-4 adalah Ordinary Least Square (OLS).
Struktur industri menggambarkan bagaimana keadaan industri kakao ini,
yang dinilai dari beberapa elemen seperti konsentrasi ratio (CR4), hambatan masuk
pasar (MES), pangsa pasar, derajat perbedaan produk, dan informasi yang diperoleh
untuk masuk dalam suatu industri. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata nilai
CR4 adalah sebesar 67.41 persen, besarnya nilai rata-rata MES adalah sebesar 45.12
persen, produknya terdiferensiasi, dan akan sulit untuk memperoleh informasi
untuk memasuki industri, sehingga dapat disimpulkan bahwa industri kakao ini
bersifat oligopoli.
Perilaku industri kakao di Indonesia dilihat dari strategi harga, strategi
produk dan strategi promosi. Strategi harga dilihat dengan pertimbangan biaya
produksi, strategi produk dilihat dengan pengklasifikasian dari harga produk, dan
strategi promosi dilakukan secara visual melalui iklan. Sedangkan untuk kinerja
industri kakao dilihat dari besarnya PCM yaitu 21.29 persen, X-eff sebesar 122.10
persen. Dilihat dari besarnya PCM, nilai ini tergolong rendah untuk kinerja suatu
industri. Rendahnya kinerja industri kakao ini diduga karena besarnya nilai tambah
belum bisa menutupi nilai input secara maksimal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja industri digambarkan oleh
variabel dependen yang dijelaskan dengan variabel Price Cost Margin (PCM), sedangkan yang menjadi variabel independen adalah CR4, MES, produktivitas
(PROD), efisiensi internal (X-eff), dan jumlah perusahaan (JLP). Dari lima variabel
independen ini hanya ada satu variabel saja yang berpengaruh signifikan, yaitu
efisiensi internal (x-eff). Hal ini sesuai dengan hipotesa karena efisiensi internal
menggambarkan upaya untuk meminimumkan biaya produksi, hal ini dimana
semakin tinggi efisiensi internal akan meningkatkan PCM.
Berdasarkan hasil analisis, saran yang dapat diambil dari penelitian ini
yaitu: industri diharapkan mampu menekan biaya produksi dan mampu
meningkatkan nilai output menjadi lebih tinggi, sehingga nilai tambah ikut
meningkat dan dapat menutupi biaya input sehingga kinerja dari masing-masing
industri ikut meningkat dan semakin meningkatkan persaingan sehingga hanya
industri yang mampu bertahanlah yang akan tetap ada dalam suatu persaingan.
