Studi Altematif Substrat Kertas Dalam Pengujian Viabilitas Benih Berukuran Besar dan Kecil
Abstract
Tujuan dari penelitian adalah untuk menemukan jenis kertas yang dapat
digunakan sebagai substrat perkecambahan untuk pengujian viabilitas benih
disamping kertas merang yang semakin lama semakin mahal harganya dan
semakin sulit untuk ditemukan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu
dan Teknologi Benih kampus IPB Dramaga dimulai dari bulan April dan berakhir
pada bulan September 2004.
Penelitian terdiri dari dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian
utama dengan menggunakan empat jenis kertas yang terdiri dari kertas stensil,
kertas buram, kertas HVS 60 g daur ulang, dan kertas merang sebagai acuan.
Sedangkan pelaksanaannya masing-masing penelitian terdiri dari 12 kali
percobaan dengan melibatkan 12 jenis benih yang terdiri dari 5 jenis berukuran
besar dan 7 jenis benih berukuran kecil. Penelitian pendahuluan dimaksudkan
untuk melihat DB awal masing-masing benih sehingga dapat diketahui tentang
layak atau tidaknya masing-masing benih digunakan sebagai bahan penelitian.
Benih besar yang digunakan adalah: benih oyong varietas Herkules, benih kapri
varietas Lokal, benih bengkuang varietas Lokal, benih pare varietas Giok, dan
benih labu varietas Cleopatra. Benih kecil yang digunakan adalah: benih kacang
hijau varietas Walet, benih kedelai varietas Wilis, benih mentimun varietas Venus,
benih horenzo varietas Super Alrite, benih lobak varietas Grand Long, benih
sorghum varietas Mandau, dan benih gandum varietas Selayar. Rancangan
percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak
(RKL T) satu faktor yaitu jenis kertas dengan 10 ulangan. Parameter yang diamati
meliputi kecambah normal dan abnormal serta koefisien keragaman masingmasing
kertas. Pengamatan dilakukan terhadap tolok ukur Daya Berkecambah
(DB), Berat Kering Kecambah Normal (BK.KN) dan Potensi Tumbuh Maksirnum
(PTM).
Berdasarkan basil penelitian diketahui bahwa pada benih besar, pengujian
dengan tolok ukur DB dan PTM kertas stensil dan kertas buram mempunyai
kemampuan yang 100% sama dengan kertas merang sebagai acuan, sedangkan
kertas HVS hanya mempunyai kesamaan sebesar 20% pada tolok ukur DB dan
80% pada tolok ukur PTM. Pada tolok ukur BK.KN, kertas stensil dan kertas
buram mempunyai kemampuan yang mendekati kertas merang yaitu keduanya
mempunyai kesamaan sebesar 80% dengan kertas merang.
Basil penelitian terhadap benih-benih kecil menunjukkan bahwa tidak ada
satu pun kertas yang mempunyai kemampuan yang sama 100% dengan kertas
merang pada tolok ukur DB dan BK.KN. Persentase kesamaan yang mendekati
100% hanya ditunjukkan oleh kertas stensil pada tolok ukur DB dan PTM yaitu
sebesar 85.71 %.
Pada benih besar keseragaman kertas yang diukur berdasarkan Koefisien
Keragaman (KK) ≤10% menunjukkan bahwa kertas buram lebih seragam dari
kertas merang pada tolok ukur DB dan BKKN. Untuk kertas merang terdapat 2
komoditas (40%) yang mempunyai nilai KK ≤10% pada tolok ukur DB dan hanya
satu komoditas (20%) pada tolok ukur BK.KN, sedangkan pada kertas buram pada
tolok ukur DB dan BK.KN terdapat 3 komoditas (60%) yang mempunyai nilai KK
≤10%. Pada tolok ukur PTM semua jenis kertas mempunyai KK yang lebih
seragam dibanding kertas merang, yaitu pada masing-masing kertas terdapat 4
komoditas benih (80%) yang mempunyai nilai KK ≤10% sedangkan pada kertas
merang hanya terdapat pada 3 komoditas benih ( 60%) yang mempunyai nilai KK
≤l0%.
Pengukuran keseragaman kertas pada benih kecil dengan menggunakan
tolok ukur DB memperlihatkan bahwa kertas stensil dan kertas buram lebih
seragam dari kertas merang. Pada kertas merang terdapat 5 komoditas (71.52%)
yang mempunyai nilai KK ≤10%, sedangkan pada kertas buram dan stensil
terdapat 6 komoditas (85.7%) yang mempunyai nilai KK ≤10%. Pada tolok ukur
BKKN hanya kertas stensil yang mempunyai tingkat keseragaman yang sama
dengan kertas merang, yaitu sebesar 57.l % (4 komoditas). Pada tolok ukur PTM,
semua jenis kertas memperlihatkan nilai KK yang sama dengan ke1tas merang.
Dari keseluruhan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan
tingkat kesamaan dengan kertas merang dan tingkat keseragamannya, kertas
buram menempati prioritas utama sebagai altematif pengujian viabilitas benih
berukuran besar, diikuti oleh kertas stensil. Pada pengujian viabilitas benih
berukuran kecil, alternatif pengganti kertas merang yang paling tepat adalah kertas
stensil.
