Pengaruh penanaman modal asing (PMA) Jepang pada sektor industri makanan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia
Abstract
Negara Indonesia sebagai negara berkembang memerlukan modal yang cukup besar untuk pembangunan sektor-sektor perekonomian demi mencapai pertumbuhan ekonomi. Dua jenis investasi yang dijadikan sebagai sumber modal adalah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) serta Penanaman Modal Asing (PMA).
Sebelum terjadi krisis moneter, PMA merupakan sumber modal andalan bagi pembangunan ekonomi, bahkan hingga mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen per tahunnya. Sejak tahun 1970, Jepang menjadikan Indonesia sebagai sasaran negara tujuan investasi utama sekaligus bertindak sebagai negara pemberi PMA terbesar di Indonesia. Berdasarkan data BKPM, persetujuan
investasi Jepang di Indonesia pada tahun 1967-2005 mencapai US$ 39 miliar atau
13 persen dari total kumulatif investasi asing di Indonesia, yaitu jumlah dan sumber PMA terbesar dan terutama. Dilihat dari segi geografis, Indonesia berpotensi dalam pengembangan pertanian. Oleh karena itu upaya pengembangan industri sektor agribisnis semakin ditingkatkan, salah satunya adalah industri makanan. Menurut Thomas (Direktur Eksekutif organisasi Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), dalam periode krisis saja omzet investasi pangan tetap tumbuh signifikan dari Rp 67 triliun (1998) menjadi Rp 104 triliun (2001). Selain itu, angka-angka ekspor dan impor makanan olahan tersier (makanan kalengan, mi instan, permen, es krim, dan lain-lain) dapat menghimpun omzet tahunan sebesar Rp 104 triliun (2001) atau setara empat kali lipat dari omzet yang dikumpulkan nilai produksi makanan olahan primer (beras, sayur, buah, daging, dan lain-lain) yang sebesar Rp 22 triliun (2001). Pernyataan ini juga didukung dengan kebijakan pemerintah yang akan memfokuskan 10 klaster industri, dan yang terbesar yakni industri makanan dan minuman dalam lima tahun ke depan. Saat ini, pada sektor sekunder atau industri pengolahan lain, Jepang meminati industri makanan. Perusahaan besar industri makanan Jepang yang ada di Indonesia antara lain Ajinomoto, Calbee, Meiji, dan Nissin. Sehingga, PMA Jepang pada sektor industri makanan memiliki prospek yang cerah bagi pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Oleh karena itu, penelitian yang bertujuan menganalisis hubungan kausalitas FDI Jepang pada sektor industri makanan terhadap variabel-variabel PDB, ekspor, impor, dan krisis ekonomi yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia serta menganalisis dampak PMA Jepang terhadap pertumbuhan perekonomian negara Indonesia menjadi sangat menarik. Hasil akhir penelitian ini dapat menjadi rujukan pemerintah dalam mengambil kebijakan
ekonomi terkait dengan investasi. Penelitian dilakukan dengan metode VAR (Vector Autoregression) yang dikombinasikan dengan metode VECM (Vector Error Corection Model) dan diolah menggunakan software EViews 5. Hasil analisis menyimpulkan bahwa hubungan kausalitas yang terjadi diantara variabel ekonomi yang dianalisis hanya menunjukkan hubungan kausalitas satu arah yaitu variabel PDB mempengaruhi PMA, ekspor, dan impor. Variabel lain yang juga mempengaruhi PMA adalah ekspor dan impor. Artinya, besar kecilnya nilai dan jumlah proyek investasi dipengaruhi perubahan (inovasi) variabel PDB, ekspor, dan impor. Variabel ekspor dan impor dapat mempengaruhi PMA dengan stabil, sedangkan guncangan PDB serta PMA sendiri direspon oleh PMA secara fluktuatif. Sehingga, untuk menjaga agar nilai investasi dan jumlah proyek PMA Jepang pada sektor industri makanan tetap tinggi, maka perubahan kedua variabel ini seharusnya tidak berfluktuasi. Di sisi lain, krisis ekonomi berhubungan positif dengan PMA yang artinya nilai PMA akan lebih baik apabila keadaan perekonomian Indonesia dalam keadaan stabil.
Pada jangka panjang PMA akan berkorelasi negatif dengan PDB secara signifikan. Artinya apabila Indonesia telah mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, maka nilai investasi dan jumlah proyek PMA Jepang pada sektor industri makanan perlahan akan cenderung menurun. Hal ini dapat disebabkan tidak diprioritaskannya lagi PMA sebagai sumber modal utama. Sebab, salah satu kerugian PMA adalah adanya kekuasaan penuh yang dikendalikan oleh investor dan berkurangnya nilai marginal modal.
Kontribusi PMA Jepang pada sektor industri makanan terhadap
pertumbuhan ekonomi Indonesia tidaklah besar. Hal ini disebabkan karena pihak
Jepang masih terkonsentrasi menanamkan investasi asing langsung (PMA) pada
sektor manufaktur, kendaraan, dan farmasi di Indonesia. Tetapi, untuk periode
2007, persentase pengaruh PMA industri makanan Jepang berpeluang meningkat.
Dari hasil penelitian tersebut, saran yang diajukan antara lain: (1) Pemberian
kepastian hukum atas peraturan-peraturan pada tingkat pusat dan daerah serta
menghasilkan produk hukum yang berkaitan dengan kegiatan penanaman modal
sehingga tidak memberatkan beban tambahan pada biaya produksi usaha. (2)
Memberikan kemudahan yang paling mendasar atas pelayanan yang ditujukan
pada para investor, meliputi perijinan investasi, imigrasi, kepabeanan, perpajakan
dan pertahanan wilayah. (3) Memberikan secara selektif rangkaian paket insentif
investasi yang bersaing. (4) Menharmonisasi tarif impor bahan baku dan barang
jadi. (5) Ada kerjasama yang saling mendukung antara pemerintah dan perusahaan
industri makanan dalam meningkatkan kinerja kualitas industri makanan. Di sisi
lain, pemerintah juga perlu mewaspadai keamanan dan kestabilan politik di
Indonesia karena bisa berdampak pada kondisi perekonomian ataupun guncangan
ekonomi seperti inflasi atau krisis ekonomi lagi yang dapat membuat anjloknya
nilai PMA.
Collections
- UT - Agribusiness [4776]
