Analisis tingkat serangan wereng batang coklat (Nilaparpata lugens Stal.) berdasarkan faktor iklim: studi kasus 10 kabupaten endemik di propinsi Jawa
Abstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan berbagai faktor iklim dengan tingkat
serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stal) sebagai landasan prediksi serangan
WBC di wilayah Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juli 2007
di Laboratorium Agrometeorologi Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA-IPB.
Wereng Batang Coklat (WBC) merupakan salah satu hama yang sangat penting pada
tanaman padi, terutama di wilayah Asia Pasifik yang serangannya sporadis dan sangat merusak
pertanaman padi. Hama ini mampu membentuk populasi cukup besar dalam waktu singkat dan
merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan. Kerusakan tanaman disebabkan oleh kegiatan
makan dengan menghisap cairan sel tanaman.
Iklim dan cuaca telah diketahui pengaruhnya terhadap kehidupan dari serangga sejak dua
setengah abad yang lalu, tetapi penelitian mengenai hal itu baru dilakukan 80 tahun kemudian.
Iklim dan cuaca memiliki peranan penting baik langsung maupun tidak langsung pada penyebaran,
pemencaran, kelimpahan, dan perilaku serangga, termasuk WBC .
Berdasarkan hasil analisis regresi diketahui bahwa setiap kabupaten endemik WBC
memiliki fluktuasi faktor iklim yang mempengaruhi luas serangan yang berbeda-beda tiap
bulannya tergantung pada stadia WBC. Kabupaten Cirebon, Indramayu, Karawang dan Subang
merupakan kabupaten yang terserang WBC paling sering dan paling luas. Setiap kabupaten
endemik juga memiliki koefisien determinasi (R2
) yang bervariasi berdasarkan faktor iklimnya.
Nilai koefisien determinasi (R2
) yang diperoleh relatif kecil disebabkan oleh faktor data luas
serangan WBC yang hanya menyerang pada bulan-bulan tertentu. Setiap stadia (fase) hidup
WBC mendapat pengaruh faktor iklim yang berbeda-beda pada tiap kabupaten.
Jika dikelompokkan berdasarkan curah hujan dan ketinggiannya, di dataran rendah (0-100
mdpl) serangan WBC cenderung terjadi di musim hujan, sedangkan di dataran tinggi (>300 mdpl)
serangan WBC cenderung terjadi di musim kemarau.
Dari hasil analisis diketahui faktor iklim yang paling dominan dalam mempengaruhi luas
serangan berturut-turut adalah curah hujan musim hujan, suhu maksimum, curah hujan musim
kemarau, kelembaban udara, suhu rata-rata dan suhu minimum. Fase WBC yang paling
dipengaruhi faktor iklim secara umum adalah telur dan imago. Kabupaten endemik yang faktor
iklimnya berperan paling besar terhadap luas serangan menurut analisis regresi linier berganda
adalah kabupaten Sukabumi yang keeratannya mencapai 26.6% pada waktu tunda dua bulan
(stadia telur). Hal ini dapat disebabkan faktor lain, khususnya tata cara pengolahan pertanian
termasuk teknik pengendalian WBC di kabupaten ini tidak seketat pengendalian di kabupatenkabupaten di wilayah Pantura yang luas serangannya lebih besar, sehingga pengaruh faktor iklim
lebih kuat.
