Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor teh Indonesia
Abstract
Di Indonesia, sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting yang dapat menunjang perekonomian Indonesia. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2005 mencapai USS 2880,2 juta (Badan Pusat Statistik, 2006). Salah satu subsektor pertanian yang mempunyai peranan penting dalam menunjang perekonomian Indonesia adalah perkebunan.
Tanaman teh (Camellia sinensis) merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peranan cukup penting dalam kegiatan perekonomian Indonesia. Teh merupakan bagian dari komoditas ekspor non migas Indonesia, penyumbang devisa negara selain kelapa sawit, karet, kopi dan lada. Pada tahun 2005, pemasukan devisa dari komoditas teh mencapai USS 122 juta (BPS, 2006). Perkembangan ekspor teh Indonesia cukup berfluktuasi. Pada tahun 2005, ekspor teh Indonesia menduduki peringkat ke lima yang
mencapai 102.294 ton dengan nilai ekspor USS 121,5 juta (International Tea Committe, 2006). Hal ini masih rendah di bandingkan dengan empat negara lain seperti India, China, Sri Lanka dan Kenya yang merupakan penghasil teh terbesar di dunia. Saat ini jumlah dari produksi teh dunia mencapai 3,5 juta ton per tahun sementara konsumsi teh dunia hanya 3,3 juta ton per tahun. Kondisi inilah yang membuat terjadinya over supply produksi teh dunia mencapai 0,2 juta ton per tahun, sementara produk teh Indonesia 94 persen diekspor dalam bentuk curah (ITC, 2006). Kondisi tersebut membuat harga ekspor teh Indonesia melemah di pasar dunia. Hal inilah yang membuat negara-negara produsen teh semakin bersaing dalam merebut pangsa pasar ekspor teh dunia.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana perkembangan perekonomian teh Indonesia dan pelelangan ekspor teh Indonesia serta faktor- faktor apa yang mempengaruhi ekspor teh Indonesia. Penelitian ini menggunakan data time series dari tahun 1983 sampai 2005 yang diperoleh dari berbagai sumber seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Asosiasi Teh Indonesia (ATT), Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian, Bank Indonesia (BI) dan Kantor Pemasaran Bersama (KPB). Data-data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data harga teh domestik, harga ekspor teh Indonesia Free On Board, harga ekspor kopi Indonesia, produksi teh Indonesia, nilai tukar, variabel curah hujan dan variabel dummy yaitu kondisi sebelum dan sesudah krisis moneter.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan metode kuantitatif. Penggunaan metode deskriptif untuk menggambarkan perkembangan perekonomian teh Indonesia dan pelelangan untuk ekspor teh Indonesia. Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor teh Indonesia, yaitu dengan melakukan analisis jangka panjang menggunakan persamaan kointegrasi dan analisis jangka pendek menggunakan Error Correction Model (ECM)...
