Pengaruh Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum L) Terhadap Perkembangan Pradewasa Nyamuk Culex pipiens quinquefasciatus
Abstract
Nyamuk Culex memiliki habitat di sekitar lingkungan manusia, baik
diperkotaan maupun dipedesaan. Menurut Soedarto (1989) dari 20 genus
nyanrnk, dalam sub famili Culicinae terdapat dua genus nyamuk yang berperan
penting dalam penyebaran penyakit yaitu genus Aedes dan genus Culex. Nyamuk
Culex merupakan vector penyakit Dirofillariasis yang disebabkan oleh
Dirofillaria immitis pada anjing, penyakit Japanese Encephalitis pada manusia,
Fillariasis yang disebabkan oleh Wuchereria bancro.fti pada manusia dan juga
merupakan nyamuk pengganggu melalui suara dengungannya.
Penggunaan insektisida sintetik lebih disukai dibandingkan insektisida
alamiah untuk pengendalian terhadap nyamuk. Praktis dalam penggunaan harga
yang relatif lebih murah, dan mudah didapat merupakan alasan mengapa
insektisida sintetik lebih disukai (Kardinan, 2001 ). Dampak dari penggunaan
insektisida sintetik adalah nyamuk menjadi resisten, rusaknya lingkungan biologis
sekitarnya dan terbunuhnya predator alami dari nyanmk tersebut. Penggunaan
insektisida alami mulai dikembangkan karena insektisida alami lebih selektif
dalam mernbunuh target sasaran. memiliki daya kerja yang tinggi ramah
lingkungan dan memiliki toksisitas yang lebih rendah dibanding insektisida
sintetik sehingga tingkat keamanannya lebih tinggi (Johnson, 1998).
Bawang putih (Allium sativum L) merupakan umbi-umbian yang memiliki
banyak manfaat, diantaranya sebagai bahan pengawet, mampu mengurangi
kolesterol dalam darah dan hipertensi. Ciri khas dari bawang putih adalah
kandungan belerang yang tinggi. Bau khas yang dikeluarkan oleh bawang putih
disebabkan oleh adanya dialil sulfida. Dengan Randungan dialil sulfida yang
tinggi, hawang putih memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai insektisida
alami.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak bawang putih
(Allium sativum L) dalam pelarut aquades, etanol dan metanol dengan
konsentrasi 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, 5 ppm, 6 ppm, 7 ppm, 8 ppm, 9 ppm,
IO ppm dan O ppm sebagai kontrol terhadap perkembangan pradewasa nyamuk
Culex pipiens quinquefasciatus sebanyak lima kali ulangan. Pengamatan
dilakukan 8 jam sekali dan variabel yang diamati adalah kematian larva. kematian
pupa dan lamanya perkembangan larva menjadi pupa dan perkembangan pupa
menjadi dewasa.
Hasil ANOVA, menunjukkan lama perkembangan larva menjadi pupa
dalam pelarut aquades, metanol dan etanol berbeda nyata terhadap kontrol
(P<0.05). Lama perkembangan pupa menjadi dewasa dalam pelarut aquades,
metanol dan etanol berbeda nyata (P<0.05). Persentase kematian larva dan pupa
pada semua konsentrasi dalam pelarut aquades, etanol dan metanol berbeda nyata
dengan kontrol (P<0.05). Hasil dari analisis Probit, ekstrak bawang putih pada
pelarut aquades merniliki LC5 o sebesar 1,3425 ppm, metanol 1,0139 ppm dan
etanol 1,5832 ppm.
