Pengaruh Suhu Penyimpanan Terhadap Aktifitas Enzim Tripsin pada Feses Sapi
Abstract
Tripsin adalah salah satu enzim yang disekresi oleh pankreas yang berfungsi
untuk memecah rantai protein guna penyerapan protein lebih lanjut pada usus.
Demikian pentingnya tripsin dalam saluran pencemaan sehingga jika enztm m1
terganggu maka mengakibatkan tidak efisiennya konversi pakan.
Dalam penelitian ini digunakan sampel feses seekor sapi FH, betina dan
berumur 2 tahun. Sampel feses dibagi atas 3 perlakuan penyimpanan yaitu
penyimpanan pada suhu 27°C , suhu 4°C dan suhu 18°C. Setiap hari dilakukan
pemeriksaan dengan metode uji gelatin terhadap sampel feses tersehut guna melihat
suhu yang paling baik untuk penyimpanan sampel feses tersebut.
Dari basil penelitian terhadap sampel feses yang disimpan pada beberapa
tingkat suhu penyimpanan maka dapat disimpulkan bahwa penyimpanan pada suhu
dingin yaitu 4°C adalah suhu penyimpanan yang terbaik. Hal ini disebabkan oleb
pertumbuhan bakteri yang dapat mengganggu hasil penelitian dapat dihambat bahkan
dimatikan. Faktor pendukung lain adalah sifat dari tripsin pada suhu penyimpanan ini
(4°C) tidak berubah. Penyimpanan pada suhu beku yaitu 18°C memberikan basil
yang kurang baik karena terjadi perubahan struktur dari enzim tripsin yang
disebabkan oleh lingkungan yang sangat dingin. Sedangkan penyimpanan pada suhu
kamar juga memberikan hasil yang kurang baik, hal ini disebabkan oleh
pertumbuhan bakteri pengganggu.
