Analisis Perubahan Penggunaan Lahan dan Arahan Penggunaan Lahan Wilayah di Kabupaten Bandung
View/ Open
Date
2014Author
Nuraeni, Rani
Sitorus, Santun R.P
Panuju, Dyah Retno
Metadata
Show full item recordAbstract
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pola perubahan
penggunaan lahan Kabupaten Bandung 2002-2012, mengidentifikasi dan
membandingkan pemanfaatan ruang saat ini dengan yang dialokasikan, mengkaji
tingkat perkembangan wilayah, mengetahui faktor-faktor penyebab perubahan
penggunaan lahan dan menyusun arahan penggunaan lahan wilayah. Metode
analisis yang digunakan meliputi analisis spasial, identifikasi ketidaksesuaian
dengan alokasi ruang, skalogram dan regresi berganda. Analisis spasial untuk
menentukan kelas penggunaan lahan dan menghitung luas perubahan penggunaan
lahan, analisis ketidaksesuaian pemanfaatan ruang untuk mengetahui
penyimpangan penggunaan lahan dengan alokasi ruang, analisis skalogram untuk
mengetahui tingkat perkembangan wilayah dengan menggunakan variabel fasilitas
pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi, serta analisis regresi berganda untuk
mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan penggunaan
lahan. Penggunaan lahan dikelompokkan menjadi enam jenis yaitu hutan,
perkebunan, tanaman pertanian lahan basah (TPLB), tanaman pertanian lahan
kering (TPLK), lahan terbangun dan badan air. Penggunaan lahan tersebut
mengalami perubahan dengan pola perubahan dominan yaitu hutan menjadi lahan
terbangun, perkebunan menjadi lahan terbangun, TPLB menjadi lahan terbangun,
TPLB menjadi TPLK dan TPLK menjadi lahan terbangun. Kondisi eksisting
penggunaan lahan tahun 2012 menunjukkan ketidaksesuaian dengan alokasi ruang
sebesar 54 ha. Sebaran hirarki wilayah tidak merata atau mengelompok di wilayah
perkotaan. Kecamatan-kecamatan di bagian timur cenderung memiliki hirarki
yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan di bagian barat.
Faktor-faktor yang berpengaruh sangat nyata secara statistik terhadap perubahan
penggunaan lahan pertanian menjadi lahan terbangun adalah alokasi pertanian,
pertumbuhan fasilitas ekonomi, pertumbuhan PDRB (produk domestik regional
bruto), luas lahan dengan kemiringan lereng < 5% dan luas tanah tidak subur.
