Pengaruh rizobakteri pemacu pertumbuhan tanaPengaruh rizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman terhadap penyakit antraknosa, produksi dan mutu benih cabai merah (Capsicum annuum L.)man terhadap penyakit antraknosa, produksi dan mutu benih cabai merah (Capsicum annuum L.)
View/ Open
Date
2007Author
Yulianto, Dwi
Surahman, Memen
Wiyono, Suryo
Metadata
Show full item recordAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan benih dengan rizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman terhadap pertumbuhan, kejadian penyakit antraknosa, produksi, mutu fisiologis, dan mutu patologis benih Hasil panen pada cabai merah di lapang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Agustus 2007 di lahan milik petani di Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea. Pengujian mutu benih dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura dan Laboratorium Mikologi Tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih cabai merah besar varietas Hot Beauty, Jatilaba, Tit Super, dan benih cabai merah keriting varietas TM-999. Bahan untuk perlakuan benih adalah rizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman (RPPT) yang sudah diformulasi dan diperoleh dari Klinik Tanaman Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Rizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman terdiri dari Pseudomonas fluorescens PG01 dan Bacillus polymixa BG25 dengan kepadatan 10" efu/ml.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah varietas cabai merah yang terdiri dari empat jenis, yaitu: VI= varietas Hot Beauty, V2= varietas Jatilaba, V3 varietas Tit Super, dan V4 = varietas TM-999. Faktor kedua adalah perlakuan benih dengan rizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman (RPPT) yang terdiri dari dun taraf, yaitu: RO tanpa perlakuan RPPT dan RI - dengan pelakuan RPPT. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga terdapat 24tuan percobaan. Tiap satu satuan percobaan terdiri dari 20 tanaman sehingga to terdapat 480 tanaman.
Pengamatan dilakukan terhadap parameter pertumbuhan yang meliputi: tinggi tanaman, diameter batang, tingkat percabangan, dan umur 50% tanaman berbunga. Parameter kejadian penyakit antraknosa meliputi: kejadian penyakit antraknosa pada batang dan buah, serta Area Under Disease Progress Curve (AUDPC). Parameter produksi meliputi: jumlah buah/pohon, bobot buah/pohon, bobot panen total, dan bobot buah ekonomis. Parameter mutu fisiologis benih dengan tolok ukur indeks vigor (IV), daya berkecambah (DB), kecepatan tumbuh (Ke), dan parameter mutu patologis benih dengan tolok ukur persen infeksi benih.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan, kejadian penyakit abtraknosa dan mutu fisiologis benih hasil panen dipengaruhi oleh varietas. Perlakuan benih dengan RPPT berpengaruh nyata terhadap kejadian penyakit antraknosa dan mutu fisiologis benih hasil panen. Perlakuan benih dengan RPPT mampu menekan kejadian penyakit antraknosa pada batang, buah, dan kejadian penyakit antraknosa pada batang dalam satu musim tanam. Penekanan kejadian penyakit antraknosa pada batang sebesar 21.54%, pada buah sebesar 67.15%, dan kejadian penyakit antraknosa pada batang dalam satu musim tanam sebesar 21.08%.
Interaksi antara varietas dan perlakuan benih dengan RPPT berpengaruh nyata terhadap kejadian penyakit antraknosa pada batang pada 8 MST. Kejadian penyakit antraknosa batang terendah terjadi pada varietas TM-999 dan varietas Tit Super yang diberi perlakuan RPPT masing-masing sebesar 0.00% dan 3.33% dibandingkan tanpa perlakuan RPPT dan kedua varietas lainnya, yaitu Hot Beauty dan Jatilaba. Kejadian penyakit antraknosa batang tertinggi terjadi pada varietas Tit Super tanpa perlakuan RPPT sebesar 18.33%. Selain itu interaksi antara varietas dan perlakuan benih dengan RPPT berpengaruh sangat nyata terhadap tolok ukur daya berkecambah (DB) dan kecepatan tumbuh (Ker) benih hasil panen. Varietas Hot Beauty dengan perlakuan RPPT menghasilkan DB dan Ker lebih tinggi dibandingkan tanpa perlakuan RPPT, yaitu DB sebesar 84.67% dan Kct sebesar 10.18%/etmal.
