Pengaruh Periode Simpan, Jenis Kemasan dan Tingkat Kemasakan terhadap Viabilitas Benih Buncis (Phaseolus vulgaris L)
Abstract
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kemasakan dan kondisi
simpan terbaik yang dapat mempertahankan viabilitas benih buncis pada beberapa
periode simpan yang dilaksanakan di PT. Surya Bumi Manunggal, Ciawi Bogor
dan Laboratorium Penyimpanan Teknologi Benih, Kampus Dramaga Institut
Pe rtanian Bogor pada bulan November 2003 sampai Juli 2004.
Penelitian terdiri atas dua set percobaan. Percobaan pertama adalah
penyimpanan pada ruang AC(± 20°C, RH 65-75%) dan ruang simpan kamar (±
28°C, RH 56-84%). Masing-masing percobaan menggunakan Rancangan Acak
Lengkap faktorial yang terdiri dari tiga faktor perlakuan. Faktor pertama adalah
periode simpan yang terdiri dari 4 taraf, yaitu O bulan (B1 ), 2 bulan (B2), 4 bulan
(B3 ) dan 6 bulan (B4). Faktor kedua adalahjenis kemasan yang terdiri dari 2 taraf,
yaitu Alumunium Foil (J1 ) dan Plastik PE (Ji). Fal-tor ketiga adalah tingkat
kemasakan benih yang terdiri dari 4 taraf, yaitu polong berwama hijau
kekuningan (M1 ), kuning semua (M2 ), coklat (M3) dan coklat kehitaman (Mi).
Benih Buncis Varietas Lokal Bogor dipanen berdasarkan 4 tingkat
ke masakan benih. Tingkat kemasakan ini dilihat dari wama polong yaitu hijau
ke kuningan (32 hari setelah bunga mekar (hsb)), kuning semua (34 hsb), coklat
(36 hsb) dan coklat kehitaman ( 40 hsb ). Pada setiap periode simpan (2 bulan
sekali) dilakukan uji viabilitas dengan menggunakan tolok ukur Kadar Air (KA),
Daya Berkecambah (DB), Berat Kering Kecambah Normal (BKKN), Kecepatan
Tumbuh (Ker) dan Keserempakan Tumbuh (Ksr) serta First Count (FC).
Hasil pada percobaan 1 (penyimpanan pada ruang AC) menunjukkan
benih yang memiliki viabilitas tertinggi selama penyimpanan adalah benih yang
dipanen pada 34 hsb yaitu benih yang dipanen ketika polongnya berwama laming
semua namun pemanenan masih bisa diundur hingga 36 hsb. Kemasan alumunium
foil mampu mempertahankan kadar air benih selama penyimpanan daripada
kemasan plastik. Terdapat fenomena after ripening pada benih buncis, yaitu daya
berkecambahnya meningkat sampai periode simpan 4 bulan lalu cenderung
menurun setelah 6 bulan.
Hasil percobaan 2 (penyimpanan pada ruang kamar) menunjukkan hasil
yang tidak jauh berbeda dengan percobaan 1. Benih yang memiliki viabilitas
tertinggi selama penyimpanan adalah benih yang dipanen pada 34 hsb sedangkan
benih yang dipanen pada 40 hsb memiliki viabilitas terendah. Kemasan
alumunium foil mampu mempertahankan kadar air benih selama penyimpanan
daripada kemasan plastik. Disini juga terlihat adanya fenomena after ripening
pada benih buncis, yaitu daya berkecambanya meningkat sampai periode simpan 4
bulan lalu cenderung menurun setelah 6 bulan.
Dari penelitian disimpulkan bahwa tingkat kemasakan clan kondisi simpan
mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan. Kombinasi terbaik untuk
menyimpan benih adalah benih yang dipanen antara 34 hsb sampai 36 hsb dan
disimpan dalam kemasan alumunium foil. Benih mengalami peningkatan
viabilitas sampai periode simpan 4 bulan dan cenderung menurun setelah 6 bulan.
