Pengaruh Pemberian Beberapa Jenis Garam terhadap Kualitas Tomat (Lycopersicon esculentum) di Dataran Tinggi
Abstract
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa
jenis garam terhadap kualitas buah tomat di dataran tinggi. Hipotesis yang
diajukan adalah jenis garam yang berbeda memberi pengaruh yang berbeda
terhadap kualitas buah tomat dan terdapat jenis garam tertentu yang memberikan
pengaruh terbaik terhadap kualitas buah.
Penelitian dilaksanakan di rumah plastik Kebun Percobaan Pasir Sarongge
dan di Laboratorium Pusat Studi Pemuliaan Tanaman (PSPT). Penelitian
dilaksanakan dari awal bulan Februari 2004 sampai akhir bulan Juni 2004.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap, empat perlakuan dan tiga
kali ulangan. Empat perlakuan tersebut adalah kontrol, penyemprotan CaCl2
0.3 M, penyemprotan MgCl2 0.3 M, dan penyemprotan SrCl2 0.3 M.
Bahan yang digunakan adalah benih tomat varietas Arthaloka, pupuk
kandang, pupuk urea, SP-36, KCl, Daconil, Benlate, Curacron, Lanet, Patlan,
garam CaCl2, MgCl2, dan SrCl2, dengan konsentrasi 0.3 M, NaOH 0.1 N, sticker,
indikator phenolptalein, dan aquades. Alat-alat yang digunakan adalah alat untuk
pengolah tanah, alat tanam, alat penyemprot, bak semai, tempat pembumbunan,
penetrometer, refraktometer, cosmotektor, dan alat-alat titrasi.
Penyemprotan CaCl2, MgCl2, dan SrCl2 dilaksanakan pada 15±1, 20±1,
25±1 hari setelah anthesis. Buah dipanen pada tingkat kemasakan breaker
(semburat merah). Pengamatan terhadap uji kualitas meliputi kelunakan buah,
perubahan warna, dan perubahan bobot, kandungan padatan terlarut total,
kandungan asam total tertitrasi dan laju respirasi pada hari ke- o, 3, 6, 9, 12, 15,
18, 21 dan 24 di Laborc:ltorium Pusat Studi Pemuliaan Tanaman, sedangkan
analisis kandungan kalsium, magnesium, dan stronsium pada buah di Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Pascapanen.
Pemberian CaCl2, MgCl2, dan SrCl2 dapat meningkatkan kandungan
kalsium, magnesium, dan strontium pada buah tomat. Peningkatan kandungan
kalsium pada buah tomat dari 4.12 mg/100 g menjadi 6.04 mg/l00g, magnesium
dari 3.90 mg/100 g menjadi 5.14 mg/100 g dan strontium dari 0.50 mg/100 g
menjadi 1.67 mg/100 g. Namun peningkatan tersebut secara umum tidak dapat
memberikan pengaruh nyata dalam mempertahankan kualitas buah.
Secara umum persentase susut bobot buah hingga hari terakhir
pengamatan semakin besar. Perlakuan CaCl2 dan MgCl2 memiliki persentase
susut bobot yang lebih kecil dibanding kontrol, narnun secara statistik tidak nyata.
Perlakuan SrCl2 berpengaruh nyata terhadap perubahan susut bobot buah pada
3 HSP, 9 HSP, dan 12 HSP.
Pemberian CaCl2 dan MgCl2 tidak memberikan pengaruh nyata sedangkan
SrCl2 berpengaruh nyata terhadap kelunakan buah. Buah yang diberi perlakuan
SrCl2 lebih keras dibandingkan kontrol pada 3 HSP dan 6 HSP namun tidak
terlihat pada hari pengamatan selanjutnya. Pemberian beberapa perlakuan tidak
memberikan pengaruh nyata terhadap perubahan warna kulit buah kecuali pada 6
dan 12 HSP. Kontrol mengalami perubahan skor warna kulit tercepat
dibandingkan perlakuan CaCl2, MgCl2, dan SrCl2.
Nilai padatan terlarut total (PTT) cenderung meningkat, namun pada 24
HSP mengalami penurunan. Terdapat perbedaan nyata yang ditunjukkan
perlakuan MgCl2 dan SrCl2 pada 15 HSP dan 24 HSP. Perbedaan nyata terhadap
kandungan asam tertitrasi hanya terdapat pada O HSP untuk perlakuan SrCl2.
Kandungan asam tertitrasi cenderung menurun hingga 24 HSP.
Perlakuan CaCl2, MgCl2, dan SrCl2 berpengaruh nyata terhadap laju
respirasi pada 6 HSP dan 24 HSP. Laju respirasi mengalami penurunan pada
0-9 HSP. Puncak respirasi (kenaikan produksi CO2 secara mendadak) perlakuan
kontrol pada 15 HSP sedangkan perlakuan CaCl2, MgCl2, dan SrCl2 masing-masing
pada 15 HSP, 21 HSP, dan 21 HSP. Diantara tiga jenis garam yang
diberikan SrCl2 memberikan pengaruh terbaik dalam mempertahankan kualitas
buah tomat yang ditanam di dataran tinggi.
