Studi karakter agronomi dan kandungan antosianin sembilan klon daun dewa (Gynura pseudochina(Lour)DC)
Abstract
Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui perbedaan karakteristik agronomi dan kandungan antosianin daun dewa (Gynura pseudochina) serta mengidentifikasi klon yang memiliki potensi produksi antosianin tinggi. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Biofarmaka IPB pada Juni-Desember 2006 dan di Laboratorium PSPT IPB pada Januari 2007.
Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan satu faktor yaitu perbedaan klon daun dewa yang terdiri dari klon Ranca Bungur, klon Suka Mulya, klon Cicurug, klon Haurgelis, klon Pekajangan, klon Bukit Bangkirai, klon Cikabayan 1 (umbi hasil perbanyakan stek pucuk), klon Cikabayan 2 (umbi hasil perbanyakan dengan stek umbi), dan klon Cikabayan 3 (umbi hasil perbanyakan kultur jaringan (G2)). Setiap perlakuan diamati lima tanaman dan diulang tiga kali sehingga terdapat 135 tanaman.
Sebelum ditanam umbi disemai selama 2 minggu, kemudian ditanam pade lahan berukuran 2 m x 2 m dengan jarak tanam 30 cm x 30 cm. Pemberian pupuk kandang sebanyak 270 g/tanaman, kapur sebanyak 18 g/tanaman, dan pupuk urea, KCL, SP36 masing-masing 5 g/tanaman dilakukan dua minggu sebelum penanaman.
Hasil percobaan menunjukkan klon berpengaruh terhadap jumlah daun, tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, dan jumlah tunas dimana kion Bukit Bangkirai menunjukkan pertumbuhan terbaik. Klon tidak berpengaruh terhadap bobot brangkasan, bobot basah daun, bobot kering daun, bobot umbi, kandungan antosianin, dan produksi total antosianin. Klon Cicurug memiliki produksi antosianin total yang tertinggi yaitu sebesar 30.53 mg/tanaman, namun tidak berbeda nyata dengan klon-klon lainnya. Bila dilihat dari sisi agronomi klon Bukit Bangkirai merupakan klon terbaik dengan bobot umbi tertinggi yaitu 101.83 tanaman, bobot basah daun sebesar 215.67 g/tanaman, dan produksi antosianin tal sebesar 22.56 mg/tanaman.
