Produksi Tokolan Udang Windu Penaeus monodon Fabricius dalam Hapa pada Tambak Intensif dengan Padat Tebar 250 ekor/m2 , 500 ekor/m2 , 750 ekor/m2 dan 1000 ekor/m2
View/ Open
Date
2005Author
Salleng, Rachmat Djumadi
Budiardi, Tatag
Utomo, Nur Bambang Priyo
Metadata
Show full item recordAbstract
Salah satu usaha untuk menghasilkan benih udang windu yang lebih kuat dan
lebih tahan terhadap fluktuasi lingkungan tambak, adalah dengan penokolan.
Penokolan adalah pemeliharan benur pada stadia PL-12 menjadi PL-25 dalam
lingkungan yang relatif terkontrol agar dapat beradaptasi dengan cepat di lingkungan
tambak. Peningkatan produksi juga dapat dihasilkan dengan meningkatkan padat
penebaran udang. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian mengenai padat tebar
dalam proses penokolan yang dapat menghasilkan produksi yang maksimal dengan
lebih efisien.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kepadatan optimum benur dalam
usaha penokolan udang windu di dalam hapa berdasarkan produksi yang dihitung dari
pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Oktober - Nopember 2004 di tambak yang berlokasi di daerah Cikeusik, Kabupaten
Pandeglang, Banten.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat
perl akuan dan masing-masing tiga ulangan. Perlakuan yanf diterapkan berupa padat
penebaran benur, yaitu sebanyak 250 ekor/m2, 500 ekor/m , 750 ekor/m2
, serta 1000 ekor/m2. Hewan uji yang digunakan adalah Udang Windu (Penaeus monodon Fabr). PL 12 dengan panjang awal 11±0,16 mm. Udang dipelihara dalam 12 buah hapa berukuran 1 x 1 x 1 m3 selama 14 hari. Udang diberi makan menggunakan pakan komersil yang berbentuk crumble dengan frekuensi 2 kali sehari yaitu pagi hari pada pukul 07 .00 dan sore hari pada puk:ul 17 .00. Pakan diberikan secara ad libitum dan dicatat jumlahnya. Data yang diperoleh berupa data panjang tubuh udang, derajat
kelan gsungan hidup, laju pertumbuhan panjang harian, kepadatan akhir, koefisien
kerag aman dan data kualitas air. Data tersebut kemudian dianalisis secara statistik
menggunakan analisis ragam (Anova) pada selang kepercayaan 95% dan uji lanjut
Beda Nyata TerkeciL (BNT) untuk mengetahui adanya perbedaan antar kelompok
padat penebaran. Ana1isis secara deskriptif digunakan pada parameter kualitas air.
Udang yang telah dipelihara selama 14 hari pada proses penokolan mengalami
pertumbuhan walaupun tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar
perlakuan. Demikian halnya dengan koefisien keragaman dan tingkat kelangsungan
hidup udang windu yang tidak dipengaruhi secara nyata oleh perbedaan padat
penebaran, sedangkan untuk kepadatan akhir berbeda nyata antar perlakuan (p<0,05).
Padat tebar tertinggi yaitu 1000 ekor/m2 menghasilkan kepadatan akhir
tertinggi dengan pertumbuhan yang baik, ukuran seragam serta tingkat kelangsungan
hidup yang tinggi.
