Strategi Pengembangan Agribisnis Bawang Merah sebagai Komoditas Unggulan di Kabupaten Boyolali
Abstract
Kabupaten Boyolali merupakan daerah sentra bawang merah dengan
produktivitas yang berfluktuatif, salah satu penyebabnya adalah belum adanya
produsen benih bersertifikat di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan
mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi agribisnis
bawang merah, serta merumuskan dan menganalisis prioritas alternatif strateginya.
Pengambilan data melalui studi literatur, observasi lapangan, FGD, dan pengisian
kuesioner oleh petani, usaha pengolahan, pemasaran, BPP Kecamatan Cepogo,
DISPERTAN Kabupaten Boyolali, serta akademisi. Analisis menggunakan metode
A’WOT (AHP-SWOT). Berdasarkan hasil penelitian, kekuatan utama adalah lahan
budidaya di dataran tinggi cocok untuk varietas batu ijo dengan umbi besar dan
cerah, sedangkan kelemahan utama adalah produktivitas berfluktuatif. Peluang
utama adalah permintaan tinggi, sedangkan yang menjadi ancaman utama adalah
ketidakpastian iklim. Prioritas strategi pengembangan agribisnis bawang merah
adala memperkuat penerapan GAP, peningkatan produksi dengan mengoptimalkan
pemanfaatan sumber daya, pengembangan usaha perbenihan yang bersertifikat,
meningkatkan pengawasan terhadap persediaan pasokan, dan pengembangan
produk olahan bawang merah. Boyolali Regency is a shallot center area with fluctuating productivity, one of the
reasons is that there are no certified seed producers in the area. This research aims
to identify internal and external factors that influence the shallot agribusiness, as
well as formulate and analyze strategi alternative priorities. Data collection was
carried out through literature studies, field observations, FGD, and surveys with
farmers, processing businesses, marketing, BPP of Cepogo, DISPERTAN of
Boyolali, and academics. Analysis uses the A'WOT (AHP-SWOT) method. Based
on the research results, the main strength is that cultivation land in the highlands is
suitable for the green stone variety with large and bright tubers, while the main
weakness is fluctuating productivity. The main opportunity is high demand, while
the main threat is climate uncertainty. The priority strategy for developing shallot
agribusiness is strengthening the implementation of GAP, increasing production by
optimizing resource utilization, developing certified seed businesses, increasing
control over supplies, and developing processed shallot products.
Collections
- UT - Agribusiness [4776]
