Formulasi Strategi Pemasaran untuk Meningkatkan Brand Awareness KitaNata Ruang
Abstract
Indonesia merupakan negara dengan jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam persentase besar selaras dengan kenaikan jumlah unit usaha setiap tahunnya. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dibagi menjadi beberapa sektor seperti pertanian, perkebunan, industri pengolahan, jasa serta perdagangan. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) perdagangan menjadi sektor terbesar terbesar kedua setelah pertanian yang meliputi bidang kuliner, fesyen, otomotif, furniture, dan lainnya. Industri furniture di Indonesia memiliki prospek pertumbuhan yang baik dari pasar ekspor ataupun pasar domestik. Hal ini selaras dengan dukungan Kementerian Perindustrian untuk mendorong pertumbuhan industri furniture di Indonesia melalui strategi menjaga ketersediaan bahan baku dalam indusustri. Regulasi kebijakan pemerintah yang mendukung pertumbuhan industri furniture dan didorong dengan kebutuhan akan furniture meningkat maka meningkatkan jumlah pelaku usaha dalam industri furniture. Salah satu bisnis yang baru terjun ke dalam industri furniture ialah KitaNata Ruang. KitaNata Ruang merupakan usaha yang menawarkan produk dan jasa penjualan furniture seperti meja, kursi, rak, lemari dan lainnya yang saat ini berfokus pada penjualan marketplace. Fenomena KitaNata Ruang hadir sebagai brand baru di industri furniture ini menjadi tantangan bagi perusahaan untuk dapat dikenal oleh pasar sehingga mendapatkan target pasar. Kondisi merek KitaNata Ruang yang belum dikenal oleh target pasarnya membuat kesadaran akan merek KitaNata Ruang cukup rendah sehingga akan mempengaruhi keputusan pembelian produk dan jasa KitaNata Ruang. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bauran pemasaran 4C yang sudah diterapkan untuk meningkatkan brand awareness pada KitaNata Ruang, menganalisis tingkat brand awareness KitaNata Ruang, dan memformulasikan strategi bauran pemasaran 4C yang baru untuk KitaNata Ruang. Penelitian ini dilaksanakan di Bogor pada Januari – Maret 2023. Pada penelitian ini melibatkan 32 konsumen dan 40 konsumen potensial. Alat analisis yang digunakan pada penelitian ialah bauran pemasaran 4C, piramida brand awareness, dan matriks SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KitaNata Ruang telah menerapkan elemen co-creation dengan melibatkan konsumen pada setiap proses bisnisnya seperti dapat custom desain, warna, bahan baku, ukuran, metode pembayaran serta jasa ekspedisi namun terdapat beberapa kekurangan dimana konsumen belum mendapatkan feel dari produk. Pada elemen currency, KitaNata Ruang sudah menawarkan produk furniture disesuaikan dengan harga pokok penjualan, target pasar dan kemampuan bayar dari konsumen. Terdapat kekurangan yang dapat menjadi evaluasi pada elemen currency ialah KitaNata Ruang seharusnya dapat melakukan strategi harga yang lebih bersaing dengan kompetitif atau dengan gimik program promosi harga. Segi elemen communal activation, KitaNata Ruang sudah melakukan peer to distribution melalui mitra dan influencer untuk melakukan endorsement, namun sayangnya belum adanya program yang menarik bagi para mitra. Pada elemen conversation, KitaNata Ruang menyediakan saluran pemasaran melalui online yaitu marketplace dan juga memiliki beberapa sosial media seperti Instagram dan Facebook. KitaNata Ruang setiap harinya aktif memberikan konten-konten yang cukup menarik dengan menyelaraskan tren. KitaNata Ruang berinteraksi dengan para konsumennya menggunakan fitur-fitur kolom komentar, story, dan polling pada sosial media dan marketplace. KitaNata Ruang juga menerapkan sistem feedback kepada konsumen, jika produk tersebut telah sampai di konsumen maka KitaNata Ruang secara personal menanyakan kepuasan konsumennya. Hasil analisis tingkat kesadaran merek diketahui bahwa posisi KitaNata Ruang pada brand recognition pada responden potensial dan brand recall pada responden konsumen. Pada responden konsumen diketahui bahwa sudah 100% mengetahui adanya usaha furniture yang melakukan pemasaran secara offline dan online dengan nama KitaNata Ruang sehingga sudah melewati tingkatan unaware off brand dan brand recognition. Hasil penelitian menunjukkan responden potensial sebesar 70% mengetahui adanya usaha furniture dengan toko offline dan online serta hanya 22% responden yang mengenal merek KitaNata Ruang sehingga masih belum banyak yang mengenal merek tersebut. Setelah mengetahui bauran pemasaran yang sudah dilakukan dan mengetahui letak kesadaran merek maka dapat dirumuskan kekurangan, kelebihan, peluang serta ancaman dari KitaNata Ruang sehingga menghasilkan sebuah strategi. Terdapat sembilan perencanaan strategi yang telah dibuat sesuai dengan analisis bauran pemasaran yang telah diterapkan dan kondisi brand awareness dari KitaNata Ruang. Strategi tersebut menggunakan kerangka bauran pemasaran 4C yang terdiri dari strategi co-creation: (1) inovasi layanan dan produk furniture berupa inovasi yang berfokus pada aspek layanan dan produk furniture dengan menambah memperkaya desain dan tema, jenis bahan baku, ukuran, serta warna dari produk furniture serta inovasi pada aspek pelayanan dapat berupa one day design process dan product guarantees, (2) konsumenan teknologi augmented reality dan virtual reality yang membantu proses desain menjadi lebih praktis dan efisien baik untuk desainer interior maupun konsumen, dan (3) inovasi aplikasi KitaNata Ruang. Strategi pada currency: (1) menerapkan fitur membership seperti memberikan penawaran dan reward sebagai bentuk apresiasi kepada konsumen KitaNata Ruang seperti diskon ongkos kirim, bundling, serta promosi penjualan. Pada strategi communal activation: (1) ekspansi kerjasama bisnis dengan reseller atau mitra dengan membuat program yang aktif dan menarik bagi mitra seperti afiliasi, (2) aktif dalam promosi pemasaran melalui digital creator seperti memberikan gimik dalam promosi seperti memberikan diskon atau give away furniture untuk para follower dari influencer sehingga menarik dan menjadi pertimbangan untuk membeli serta membuat suatu workshop secara online memanfaatkan fitur sosial media, dan (3) aktif dalam kegiatan pameran dibidang industri furniture. Strategi pada conversation: (1) peningkatan information processing dengan berfokus pada suatu media yang memiliki penetrasi konsumen yang besar selaras dengan target pasarnya untuk menyampaikan informasinya menarik melalui wording dan desain sehingga memunculkan persepsi yang diinginkan dan (2) aktif dalam fitur interaksi digital seperti IgStory, Live Instagram, Live Tiktok.
Collections
- MT - Business [4063]
