Pola Musim dan Kelayakan Usaha Penangkapan Pancing Ulur di Pelabuhan Perikanan Pantai Pondokdadap Kabupaten Malang
Abstract
Perubahan pola musim penangkapan ikan hasil tangkapan utama dan
peningkatan armada dapat mengakibatkan kerugian bagi nelayan pancing ulur,
sehingga diperlukan analisis pola musim dan kelayakan usaha penangkapan
pancing ulur. Sampel data primer berupa nilai investasi, biaya operasional dan
nilai pendapatan diambil dari kapal berukuran 10 – 19 GT dan 20 – 29 GT untuk
mewakili ukuran kapal yang mendominasi, sedangkan data sekunder berupa data
logbook kapal pancing ulur diambil dengan melakukan studi literatur. Hasil
menunjukkan bahwa terdapat 6 jenis ikan hasil tangkapan utama yang didominasi
dari spesies TCT yaitu ikan tuna dengan musim puncak pada bulan Mei - Agustus,
cakalang pada bulan Juni dan tongkol pada bulan Oktober. Armada pancing ulur
10 – 19 GT dan 20 – 29 GT berturut-turut memiliki nilai keuntungan bersih
Rp132.849.798,00 dan Rp211.122.924,00; nilai R/C ratio 1,77 dan 1,83; nilai PP
2,35 dan 2,85; nilai BEP penjualan Rp72.868.128,00 dan Rp98.133.162,00; BEP
unit 3234 kg dan 5205 kg; serta nilai ROI 43% dan 35%. Changes in the fishing season patterns, main catch, and increase in the fleet
can result in losses for handline fishermen. Therefore, an analysis of seasonal
patterns and the feasibility of handline fishing operations is needed. Primary data
samples, including investment values, operational costs, and income values, were
collected from vessels ranging from 10 to 19 GT and 20 to 29 GT to represent the
dominant vessel sizes. Meanwhile, secondary data, such as handline fishing vessel
logbook data, were obtained through literature studies. The results indicate that
there are six main catch species dominated by tuna species, with the peak season
in May - August for tuna, June for skipjack tuna, and October for mackerel tuna.
The handline fishing fleets with the size of 10 - 19 GT and 20 - 29 GT
respectively yielded a net profit of Rp132,849,798.00 and Rp211,122,924.00, an
R/C ratio of 1.77 and 1.83, a PP value of 2.35 and 2.85, a sales break-even point
(BEP) of Rp72,868,128.00 and Rp98,133,162.00, a unit BEP of 3,234 kg and
5,205 kg, and an ROI of 43% and 35%.
