Analisis Perbandingan Sistem Usahatani Konservasi dan Non Konservasi terhadap Pendapatan Petani, Kesejahteraan, dan Lingkungan (Studi Kasus Desa Kopo, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor).
View/ Open
Date
2011Author
Maulani, Listya Tyagita
Nidyantoro, Nidyantoro
Metadata
Show full item recordAbstract
Sistem usahatani konservasi salah satunya diterapkan oleh petani di Desa
Kopo Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor. Pada kenyataannya masih ada
sebagian petani yang tidak menerapkan sistem usahatani yang tidak
berkelanjutan/ non-konservasi sehingga menyebabkan usaha konservasi tanah dan
air menjadi tidak optimal. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki empat tujuan
terkait dengan penerapan usahatani konservasi dan non konservasi. Tujuan
pertama adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi petani untuk
menerapkan sistem usahatani konservasi dengan menggunakan regresi logistik.
Tujuan kedua adalah mengestimasi pendapatan usahatani konservasi dan non
konservasi dengan analisis pendapatan usahatani dan nilai Net Present Value
(NPV). Tujuan ketiga adalah menganalisis tingkat kesejahteraan petani konservasi
dan non konservasi dengan kriteria Sajogyo dan UMR. Tujuan keempat adalah
mengkaji kelayakan sistem usahatani konservasi dengan tiga kriteria kelayakan.
Tujuan kelima adalah mengetahui persepsi penerapan usahatani konservasi dan
non konservasi terhadap lingkungan dengan analisis deskriptif.
Hasil yang diperoleh dari beberapa tujuan penelitian adalah faktor-faktor
yang secara nyata mempengaruhi keputusan petani dalam menerapkan sistem
usahatani konservasi adalah luas lahan dan pendapatan pada taraf α 5 persen.
Sedangkan, Variabel yang tidak signifikan adalah pendidikan, jumlah tanggungan
keluarga, dan pengalaman usahatani.
Pendapatan usahatani konservasi dan non konservasi selama 10 tahun
dapat dilihat dari nilai NPV masing-masing sistem. Dari NPV yang dihasilkan
sistem usahatani konservasi dengan atau tanpa tanaman kayu dan non kayu masih
lebih menguntungkan dibandingkan dengan sistem usahatani non konservasi.
Walaupun pendapatan usahatani komoditas sayuran nilainya tidak jauh berbeda
dengan pendapatan usahatani non konservasi. Petani konservasi berada di atas
garis kemiskinan dan berada pada taraf hidup yang sejahtera, sedangkan petani
non konservasi berada di bawah garis kemiskinan dan berada pada taraf hidup
yang tidak sejahtera berdasarkan kriteria tingkat konsumsi beras menurut Sajogyo
dan kriteria UMR wilayah. Usahatani konservasi layak untuk dijalankan hal ini
terbukti dari kriteria kelayakan (NPV, Net B/C dan IRR) yang terpenuhi.
Usahatani konservasi dan non konservasi juga berdampak terhadap
lingkungan sekitar. Usahatani konservasi memiliki dampak yang positif terhadap
lingkungan yang dapat dilihat dari manfaat pohon cengkeh, sengon, dan pala yang
ditanam oleh petani konservasi. Selain itu, teras bangku dengan pola tanam sejajar
kontur yang diterapkan oleh petani konservasi memiliki pengaruh positif terhadap
upaya pencegahan laju erosi pada lahan miring. Sedangkan, sistem usahatani non
konservasi lebih memberikan pengaruh yang negatif terhadap lingkungan. Pola
tanam sejajar lereng serta penggunaan pupuk kimia yang lebih banyak akan
menurunkan kadar zat hara dan air di dalam tanah. Dalam jangka panjang hal ini
dapat menurunkan kesuburan tanah dan mencemari lingkungan.
Beberapa hal yang disarankan untuk meningkatkan kesadaran petani akan
perlunya usaha konservasi tanah dan air di lereng miring adalah dengan
meningkatkan sosialisasi tentang usahatani konservasi dengan penyuluhanpenyuluhan,
diterapkannya kebijakan konsolidasi lahan, serta partisipasi
pemerintah dalam pembiayaan investasi. Hal ini juga perlu didukung oleh
kordinasi yang baik antara pihak-pihak dan dinas-dinas yang terkait dan petani
agar sistem usahatani konservasi dapat diterapkan oleh semua petani di daratan
tinggi.
