Struktur Komunitas Plankton di Perairan Mangrove Angke Kapuk, Jakalta Utara
Abstract
Hutan mangrove mempakan salah satu bentuk ekosistem di kawasan estuaria yang sangat khas dan sensitif terhadap pembahan lingkungan. Selain terdiri darivegetasi mangrove, ekosistem mangrove tersusun atas spesies unik dari jenis plankton, alga, ikan maupun invertebrata lain. Plankton berfimgsi sebagai sumber makanan bagi hewan lain (konsumen), sumber oksigen serta dapat dignnakan sebagai indikator pembahan lingkmgan. Hutan Lindung Angke Kapuk mempakan satu-satunya kawasan lindung berekosistem mangrove yang ada di wilayab DKI Jakarta. \ , Degradasi hutan mangrove yang diakibatkan penebangan oleh manusia dapat menyebabkan perubahan lingkmgan yang dapat mempengaruhi unsur-unsur yang ada dalam ekosistem, salah satunya adalah plankton. Pe~bahanlin gkungan ekosistem mangrove dapat menimbulkan pembahan st* komunitas plankton. Penelitiau ini bertujuau untuk mengetahui struktur komunitas plankton di perairan mangrove di sekitarHutan Lindung Angke ICapuk, Jakarta Utara dan hubungannya dengan kerapatan vegetasi gangrove dan kondisi fisika kimia perairan. Penelitian ini dilaksanakan di daerah perairan mangrove Hutan Lmdung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-September 2000 dengan selang pengambilan contoh satu bulan. Lokasi pengambilan sampel ditentukan dengan cara membagi luasan wilayah menjadi tiga stasiun pengamatan berdasarkan tingkat kerapatan vegetasi mangrove, yaitu Stasiun 1 dengan kerapatan vegetasi mangrove tinggi, Stasiun 2 dengan kerapatan vegetasi mangrove sedang dan Stasiun 3 dengan kerapatan vegetasi mangrove rendah. Analisis data yang dilakukan berupa analisis kelimpahan, komposisi jenis, keanekaragaman jenis (H'), keseragaman (E), dominansi (C), Indeks Bray Curtis dan Indeks Canberra. Sedangkan data penunjang yaitu parameter fisika kimia yang .~- ~~ ~ . ~~~.....~. . . .-d~i analisivmeliputi-suhu,wama;kecerahmk,e keruhan;~TSS;salinitas;pPH;DO; EOD; nitrat, nitrit, ammonia dan ortofosfat. Selama pengamatan bulan Juli sampai September, komposisi jenis fitoplankton pada ketiga stasiun secara umum didominasi oleh jenis-jenis dari kelas Bacillariophyceae (filum Chrysophyta) kemudian berturut-turut diikuti oleh Dinophyceae (filum Pyrrophyta), Cyanophyceae (flum Cyanophyta) dan Chlorophyceae (flum Chlorophyta). Komposisi jenis ini mirip dengan komposisi fitoplankton dari sampel air laut. Komposisi zooplankton yang didapatkan pada ketiga stasiun cubup bervariasi. Protozoa memiliki jumlah jenis dan kelimpahan teitinggi dikuti oleh Cmstacea dan Gastropoda kemudian jenis lain (Ctenophora, Rotifera dm Chordata). Dari hasil analisis kelimpahan fitoplalkton, diietahui bahwa Stasiun 2 dan 3 memiliki rata-rata kelimpahan cukup tinggi sebesar 13542 sel/l dan 3619 sel/l, tergolong perairan mesotrof Sedangkan Stasiun 1 memiliki rata-rata kelimpahan yang lebih rendah yaitu 842 s e a tergolong perairan oligotrof. Perbedaan ini diduga akibat pengaruh kerapatan vegetasi mangrove yang mempengaruhi kondisi fisik perairan. Stasiun 1 memiliki rata-rata kelimpahan zooplankton yang cukup tinggi yaitu 305 indl, diikuti Stasiun 2 sebesar 134 indl dan Stasiun 3 sebesar 92 indl. Tingginya kelimpahan zooplankton pada Stasiun 1 diduga akibat pengaruh kerapatan mangrove yang cukup tinggi yang menyediakan sumber makanan bagi zooplankton. Dari hasil analisis keanekaragaman, keseragaman dan dominansi, diketahui Stasiun 1 selama pengamatan bilan Juli- ~eptimbemr emiliki nilai keanekaragaman (H') 2,67-3,59 nitslind, keseragaman (E)0,63-0,90 dan nilai dominansi 0,04-0,24. Berdasarkan kriteria Wilhm dan Donis (1968) in Wilhm (1975). kondisi ~erairan mangrove pada Stasiun 1 tergolong cu& stabil dengan tkgkaipencema;an sedang. Sedangkan pada Stasiun 2 dan 3, pada bulan Juli memiliki nilai keanekaragaman (H') sedang berkisar antara 2,85-3,16 &ts/ind, nilai keseragaman yang tinggi 0,?3-0,76 dan dominansi (C) rendah yaitu 0,09. Pada pengamatan bulan Agustus dan September terjadi perubahan struktur komunitas, dimana nilai keanekaragaman (H') yang dimiliki tergolong rendah (<2, 30 nitdiidividu). Hal ini berarti bahwa kondisi perairan mangrove pada Stasiun 2 dan 3 mengalami pembahan menjadi tidak stabil dengan tingkat pencemaran yang tinggi. Fitoplankton berkorelasi negatif dengan zooplankton. Meski demikian, fluktuasi fitoplankton hanya sedikit mempengamhi kelimpahan zooplankton. Hal ini disebabkan grazzng fitoplankton oleh zooplankton, siklus pertumbuhan zooplankton \ yang lebih lambat daripada fitoplankton serta predasi oleh hewanplanktonfeeder. / Kerapatan mangrove yang tinggi akan menyediakan sumber makanan yang lebih banyak berupa detritus dari serasah tumbuhan mangrove. Pengelompokan habitat berdasarkan kesamaan kelimpahan fitoplankton dan parameter fisika kimia perairan memiliki pola yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa parameter fisika M a sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fitoplankton. Perbedaan fisik perairan pada kadar nutrien yang hampir sama secara nyata menyebabkan perbedaan kelimpahan fitoplankton. Pengelompokan habitat berdasar kelimpahan zooplankton memiliki pola berbeda dengan pengelompokan habitat berdasarkan parameter fisika kimia perairan dan kelimpahan fitoplankton. Hal ini diduga karena selain dipengaruhi fisika kimia perairan, fitoplanktoiidan kerapatan vegetasi mangrove. Kelimpahan zooplankton juga dipengaruhi oleh jumlah bahan organik dari serasah tumbuhan mangrove yang terlarut maupun tersuspensi Secara umum kondisi kimia pada ketiga stasiun pengamatan hampir sama. Masukan air tawar dari Cengkareng Drain dan Sungai Angke membawa beban masukan bahan organik maupun anorganik yang dapat menambah kesuburan pada ekosistem. Perbedaan yang nyata terdapat pada kondisi fisik perairan seperti kecerahan, kekeruhan dan TSS. Pada wilayah dengan kerapatan mangrove tinggi memiliki nilai, kekeruhan dan TSS yang tinggi, sedangkan nilai suhu dan kecerahan sangat rendah dibanding Stasiun 2 dan 3.

