Pertumbuhan Sengon (Falcataria moluccana Miq) dan Produktivitas Serai Wangi (Cymbopogon nardus L.) dalam Sistem Agroforestri
Date
2023-08-01Author
Rahmah, Hanifa
Wijayanto, Nurheni
Wulandari, Arum Sekar
Metadata
Show full item recordAbstract
Sengon merupakan salah satu jenis fast growing yang banyak dimanfaatkan sebagai kayu pertukangan, sehingga diminati untuk dibudidaya oleh masyarakat. Upaya untuk meningkatkan pemanfaatan lahan masyarakat yaitu dengan penanaman secara agroforestri. Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan terintegrasi antara tanaman berkayu dan tanaman pertanian pada suatu lahan yang sama yang dilakukan secara berkelanjutan dan mengasilkan keuntungan secara ekonomi, ekologi, dan sosial. Tanaman yang berpotensi menghasilkan keuntungan ekonomi salah satunya serai wangi.
Serai wangi merupakan tanaman penghasil minyak atsiri berpotensi sebagai komoditas ekspor ke beberapa negara. Minyak serai wangi dapat dijadikan sebagai bahan baku pewangi, bahan baku sabun, dan gel anti nyamuk. Penelitian budidaya sengon dan serai wangi dalam sistem agroforestri belum banyak dilakukan. Pada penelitian ini serai wangi yang digunakan yaitu varietas Sitrona 2 Agribun dan G2. Sengon yang digunakan berumur 2 tahun sehingga memiliki tajuk yang lebih lebar dan perakaran yang berkembang. Akar sengon yang ditanam pada area tumbuh yang sama secara tidak langsung menyerap nutrisi yang diberikan serai wangi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan uji coba penanaman serai wangi di dalam bambu yang dibenamkan ke tanah. Hal ini bertujuan sebagai pembatasan terhadap akar sengon dan akar serai wangi.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pertumbuhan provenan sengon Solomon F1, Solomon F2, dan lokal Kendal dalam sistem agroforestri. Selain itu, Analisis pertumbuhan serai wangi dan ketahanan di bawah naungan dilakukan untuk melihat interaksi serai wangi dan sengon. Tahapan dari penelitian ini yaitu pengukuran sengon umur 2 tahun, penanaman serai wangi di bawah sengon dengan perlakukan metode tanam dengan bambu dan tanpa bambu. Kemudian, penyulingan tanaman serai wangi untuk mendapatkan minyak atsirinya, lalu dilakukan analisis kandungan minyaknya dan analisis data.
Hasil penelitian pada pertumbuhan sengon Solomon F1, sengon Solomon F2, dan sengon lokal Kendal dalam sistem agroforestri memiliki perbedaan nyata pada variabel luas tajuk, diameter, dan volume pohon. Sengon Solomon F2 memiliki nilai diameter, luas tajuk dan volume pohon tertinggi dibandingkan sengon Solomon F1 dan lokal Kendal. Sengon Solomon F2 memiliki pertumbuhan terbaik dibandigkan provenan lainya. Pertumbuhan berbagai provenan sengon akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman sela di bawah tegakan sengon.
Hasil penelitian serai wangi menunjukkan berpengaruh nyata pada varietas serai wangi terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, klorofil, produksi daun, kadar air, dan rendemen serai wangi. Selain itu jarak tanam berpengaruh terhadap jumlah anakan dan kadar air. Sedangkan serai wangi tidak berpengaruh nyata terhadap sistem budidaya dan metode tanam. Serai wangi yang dibudidayakan di bawah tegakan memiliki tinggi, jumlah anakan, klorofil, kadar air dan produksi daun tertinggi pada varietas G2, sedangkan serai wangi Sitrona 2 Agribun memiliki rendemen lebih tinggi dibandingkan dengan G2. Serai wangi dengan jarak tanam 1,5 x 3 m memiliki jumlah anakan dan kadar air yang lebih besar dibandingkan jarak tanam 1,5 x 1,5 m.
Budidaya serai wangi secara monokultur memiliki karakter pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan ditanam di bawah tegakan sengon. Sementara itu, hasil minyak atsiri tertinggi terdapat pada agroforestri sengon lokal Kendal dan rendemen tertinggi pada agroforestri sengon Solomon F1. Serai wangi yang dibudidaya dengan metode tanam bambu memiliki jumlah anakan, kadar air dan rendemen terbesar dibandingkan tanpa bambu. Selain itu, nilai tinggi tanaman, klorofil, produksi daun, dan berat minyak atsiri lebih besar dibandingkan metode tanam menggunakan bambu.
Collections
- MT - Forestry [1512]
