Pengaruh Penguasaan Lahan terhadap Pendapatan dan Kesejahteraan Rumah Tangga Pertanian pada Agroekosistem yang Berbeda
Abstract
Penguasaan lahan yang semakin menyempit terjadi di rumah tangga pertanian Indonesia. Hal ini menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan rumah tangga pertanian. Selain penguasaan lahan, rendahnya tingkat pendapatan dapat disebabkan oleh kondisi agroekosistem yang berbeda. Adanya sebab-sebab tersebut akan mengakibatkan pendapatan pertanian yang diperoleh dalam rumah tangga menjadi rendah. Namun kondisi tersebut belum tentu berlaku sama untuk pendapatan total yang mana terdapat pendapatan sektor nonpertanian di dalamnya. Rumah tangga dengan penguasaan lahan lebih rendah belum tentu memiliki pendapatan total yang lebih rendah. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilihat bagaimana penguasaan lahan dan kondisi agroekosistem berpengaruh terhadap struktur pendapatan. Secara lebih rinci, struktur pendapatan yang diteliti adalah pendapatan nonpertanian. Hal tersebut karena penyempitan lahan merupakan masalah multidimensi yang sulit dihadapi dan dipecahkan para petani sehingga pekerjaan pada sektor nonpertanian menjadi penting.
Penguasaan lahan, selain dikaitkan dengan struktur pendapatan, juga akan dikaitkan dengan kesejahteraan rumah tangga yang dalam penelitian ini diproksikan dengan pengeluaran per kapita. Pendapatan dianggap sebagai proksi untuk pengeluaran serta berfungsi sebagai ukuran langsung dari pengeluaran, hal ini berkaitan dengan ukuran pendapatan dan pengeluaran merupakan bagian dari fokus kemiskinan dan kesejahteraan. Kemiskinan dapat dilihat dengan ukuran pendapatan maupun pengeluaran. Berbagai literatur menyebutkan pengeluaran konsumsi sebagai indikator tingkat kesejahteraan rumah tangga. Alasan memilih pengeluaran konsumsi dibandingkan dengan pendapatan adalah bahwa bukti empiris di banyak negara telah menunjukkan bahwa pengeluaran diukur dengan akurasi yang lebih besar. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah: 1) menganalisis pengaruh penguasaan lahan dan kondisi agroekosistem terhadap struktur pendapatan nonpertanian; 2) menganalisis pengaruh penguasaan lahan dan struktur pendapatan nonpertanian terhadap kesejahteraan rumah tangga pertanian di agroekosistem lahan sawah berbasis padi, lahan kering berbasis palawija dan sayuran, serta lahan kering berbasis perkebunan.
Data yang digunakan adalah Panel Petani Nasional (PATANAS) yang bersumber dari Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP), Kementerian Pertanian. Data utama adalah karakteristik lahan dan rumah tangga pertanian pada agroekosistem lahan sawah berbasis padi tahun 2016, lahan kering berbasis palawija dan sayuran tahun 2017, serta lahan kering berbasis perkebunan tahun 2018. Data yang digunakan berasal dari 34 desa yang tersebar di 8 provinsi di Indonesia. Sampel penelitian merupakan rumah tangga pertanian yang berjumlah 1.237. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Kedua tujuan dianalisis menggunakan metode regresi linier berganda dengan estimasi Generalized Linear Model menggunakan software R.
ii
Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara luas lahan dengan persentase pendapatan nonpertanian. Rumah tangga dengan lahan yang luas mampu mencukupi kebutuhan keluarga melalui pendapatan pertanian. Sementara rumah tangga dengan lahan yang sempit diharuskan menambah pekerjaan di sektor nonpertanian untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selanjutnya hubungan antara kondisi agroekosistem dan persentase pendapatan nonpertanian menunjukkan tanda positif. Dari tiga agroekosistem yang dianalisis, agroekosistem lahan sawah berbasis padi memiliki persentase pendapatan nonpertanian terbesar dibandingkan dengan agroekosistem lahan kering berbasis perkebunan serta lahan kering berbasis palawija dan sayuran. Tingginya persentase pendapatan nonpertanian pada lahan sawah berbasis padi dapat dikaitkan dengan penguasaan lahan sawah yang relatif rendah. Dari data penelitian, rata-rata lahan yang dikuasai pada agroekosistem lahan sawah berbasis padi adalah 0,83 ha, sementara pada lahan kering berbasis perkebunan adalah 2,5 ha. Rendahnya luas lahan yang digarap pada agroekosistem sawah padi menyebabkan pendapatan pertanian tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga, sehingga faktor yang mendorong untuk bekerja di sektor nonpertanian menjadi lebih kuat. Berbeda halnya dengan sektor perkebunan yang penguasaan lahannya lebih tinggi menjadikan pendapatan sektor pertaniannya pun tinggi.
Hubungan positif juga ditunjukkan pada penguasaan lahan dan kesejahteraan yang diproksikan menggunakan pengeluaran per kapita. Semakin tinggi luas lahan yang digarap, maka semakin besar pengeluaran per kapita yang dikeluarkan. Selanjutnya hubungan antara persentase pendapatan nonpertanian dan kesejahteraan menunjukkan tanda positif. Dengan meningkatnya pendapatan nonpertanian maka dapat meningkatkan pendapatan total pada rumah tangga, sehingga kesejahteraan pun akan meningkat.
Penguasaan lahan adalah hal pokok dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rumah tangga pertanian. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa penguasaan lahan bukan persoalan yang mudah sehingga alternatif pekerjaan di sektor nonpertanian menjadi sangat penting. Disarankan kepada stakeholder yang berkaitan untuk meningkatkan dan memperbaiki akses rumah tangga pertanian ke pekerjaan sektor nonpertanian, serta fasilitas pendidikan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga.
Collections
- MT - Economic and Management [3203]
