Analisis Sektor Basis dan Potensi Daya Saing Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya Pasca Otonomi Daerah
Abstract
Kebijakan otonomi daerah sejak diberlakukan tahun 2001 berdasarkan UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah bertujuan untuk mewujudkan kemandirian daerah dalam membiayai dan melaksanakan pembangunannya. Semakin mandiri suatu daerah maka daerah tersebut semakin berhasil dalam melaksanakan pembangunan daerahnya. Berdasarkan pasal 18 UUD 1945 salah satu kriteria umum yang ditetapkan sebagai tolak ukur keberhasilan adalah tingkat kemampuan keuangan pemerintah daerah khususnya dalam penggalian dan pengelolaan sumber-sumber PAD. Kabupaten Tasikmalaya sebagai salah satu daerah otonom di Provinsi Jawa Barat memiliki kemandirian fiskal terendah. Maka dari itu Kabupaten Tasikmalaya harus membuka peluang untuk mengembangkan potensi penerimaan daerah sehingga mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan dimiliki Kabupaten Tasikmalaya adalah potensi pariwisata. Pariwisata dapat dijadikan pemicu pembangunan pada berbagai sektor dan andalan dalam mengumpulkan sumber dana pembangunan daerah. Demikian juga dengan Kabupaten Tasikmalaya yang menyimpan potensi pariwisata yang cukup menjanjikan dengan keragaman daya tarik wisata baik wisata pantai maupun wisata pegunungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor basis di Kabupaten Tasikmalaya, menganalisis pertumbuhan sektor-sektor perekonomian Kabupaten Tasikmalaya serta menganalisis potensi dan kondisi faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing pariwisata Kabupaten Tasikmalaya. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data PDRB Kabupaten Tasikmalaya dan Provinsi Jawa Barat menurut lapangan usaha periode 2003-2007 atas dasar harga konstan tahun 2000. Selain itu juga data kepariwisataan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah metode Location Quotient (LQ), Shift Share, Porter’s Diamond yang diolah dengan program Microsoft Excel. Hasil penelitian dengan analisis LQ periode 2003-2007 menunjukkan bahwa sektor basis terdiri dari sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa. Sektor pariwisata yang terdiri dari subsektor hotel, restoran, hiburan dan rekreasi merupakan sektor basis selama tahun 2003-2004. Tetapi pada tahun 2005-2007 sektor ini menjadi sektor non basis. Sedangkan berdasarkan analisis Shift Share dalam komponen pertumbuhan wilayah, sebagian besar sektor perekonomian memiliki pertumbuhan yang lamban tetapi mempunyai daya saing yang baik dibandingkan sektor di wilayah lain. Sektor pariwisata termasuk kedalam kelompok yang pertumbuhannya lamban dan kurang berdaya saing. Potensi dan kondisi yang mempengaruhi daya saing pariwisata Kabupaten Tasikmalaya menggunakan pendekatan Porter’s Diamond menunjukkan kondisi yang kurang berdaya saing, faktor yang menjadi keunggulan pariwisata Kabupaten Tasikmalaya adalah sumberdaya alam, sumberdaya manusia, kondisi permintaan domestik, peranan pemerintah, persaingan, dan bisnis souvenir. Kelemahan pariwisata Kabupaten Tasikmalaya adalah sumberdaya modal, infrastruktur, industri pendukung dan terkait, dan strategi pemasaran.

