Faktor Penentu Utama Dinamika Net Ecosystem Exchange (NEE) pada Perkebunan Kelapa Sawit Periode Basah dan Kering.
Abstract
Perkebunan kelapa sawit memiliki peranan penting dalam siklus karbon global sebagai tanaman penyerap karbondioksida (CO2). Penyerapan atau pelepasan CO2 dapat direpresentasikan dengan Net Ecosystem Exchange (NEE). Faktor iklim dapat berpengaruh terhadap besarnya nilai NEE selama periode basah dan kering. Perhitungan NEE, untuk mengetahui kemampuan dan dinamika perkebunan kelapa sawit dalam menyerap atau melepaskan CO2, serta melihat faktor iklim yang berpengaruh terhadap dinamikanya. Hasil dinamika NEE diurnal menyerap CO2 pada siang hari ketika nilai NEE negatif dan melepaskan CO2 pada malam hari ketika nilai NEE positif. Hasil akumulasi NEE rata-rata harian menunjukkan penyerapan CO2 pada bulan April sebesar -62,71 ton ha-1 bulan-1, bulan Agustus sebesar -88,41 ton ha-1 bulan-1, dan bulan Oktober sebesar -6,36 ton ha-1 bulan-1. Hasil korelasi (r) dan regresi (R2) NEE menunjukkan hubungan yang kuat dengan PAR, radiasi global, radiasi difus, LE, dan H selama periode basah (April), periode kering (Agustus), dan periode kering dengan asap (Oktober) sebesar -0,91 hingga -0,97 dan berpengaruh terhadap dinamika NEE sebesar 91% hingga 96%. Nilai kelembapan tanah yang menunjukkan besarnya kandungan air di dalam tanah memiliki hubungan keeratan sebesar -0,94 dan berpengaruh nyata terhadap penyerapan CO2 sebesar 89% karena berkaitan dengan proses fisiologis tanaman kelapa sawit. Stabilitas atmosfer dan turbulensi memiliki peranan dalam proses transfer massa udara dari ekosistem ke atmosfer atau sebaliknya. Keterkaitan dinamika NEE dengan ketersediaan air, dievaluasi dengan LE-H yang ditunjukkan dengan nilai r dan R2 selama tahun 2015 sebesar -0,69 dan berpengaruh 48% terhadap dinamika NEE. Komponen radiasi matahari dan partisi energi berpengaruh utama terhadap dinamika NEE perkebunan kelapa sawit pada periode basah dan kering.
