Analisis kelayakan usaha pembuatan jus dan sirup belimbing manis dan jambu biji merah (Studi kasus CV Winner Perkasa Indonesia Unggul, Kota Depok, Jawa Barat)
Abstract
Salah satu kota yang terkenal akan komoditas buah-buahan adalah kota Depok. Saat ini, kota Depok terkenal sebagai penghasil belimbing manis varietas dewa-dewi, bahkan belimbing manis telah menjadi icon kota Depok sejak tahun 2006. Komoditas unggulan untuk buah-buahan terdiri atas, belimbing manis, jambu biji merah, pisang, pepaya, rambutan, mangga, nangka, dan cempedak. Belimbing manis dan jambu biji merah dapat dikelompokkan berdasarkan grade. Buah belimbing manis dibagi menjadi tiga grade yaitu, grade A, B, dan C. Belimbing manis dan jambu biji merah yang termasuk ke dalam grade C kurang diminati dibandingkan grade A dan B. Padahal, dari seluruh hasil panen, belimbing manis dan jambu biji merah yang termasuk ke dalam grade C mencapai 20 persen dari total panen. Belimbing manis dan jambu biji merah grade C ataupun buah-buahan lain yang tidak laku di pasaran dalam bentuk segar, apabila tidak dimanfaatkan dengan segera akan mengalami kerusakan biologis karena umur simpannya yang singkat, sehingga dapat terbuang. Hal tersebut mengakibatkan penurunan pendapatan petani dari pendapatan yang seharusnya diterima jika keseluruhan belimbing manis dan jambu biji grade C laku terjual. Karena itu, diperlukan suatu usaha mengatasi masalah tersebut yaitu, dengan pengolahan hasil yang dapat membentuk daya tahan dan diversifikasi, sehingga dapat dipasarkan setiap waktu serta mempunyai nilai tambah yang tinggi. Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang dihadapi, maka tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) Menganalisis aspek non finansial kelayakan usaha pembuatan jus dan sirup belimbing manis dan jambu biji merah, yang terdiri atas, aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial dan lingkungan, serta aspek hukum, (2) Menganalisis aspek finansial kelayakan usaha CV WPIU, dan (3) Menganalisis kepekaan kelayakan usaha CV WPIU terhadap peningkatan biaya usaha yang dominan dan penurunan penjualan jus dan sirup buah. Penelitian dilakukan di CV Winner Perkasa Indonesia Unggul (CV WPIU) yang terletak di kompleks Sawangan Permai, Sawangan, Depok. Lokasi penelitian diambil secara sengaja (purposive). Pengambilan data di lapangan dilaksanakan bulan Februari-April 2009. Analisis yang dilakukan selama penelitian ini adalah analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial dan lingkungan, serta aspek hukum. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menganalisis kelayakan aspek finansial usaha. iii Ditinjau dari aspek pasar, usaha pembuatan jus dan sirup buah memiliki potensi dan prospek yang baik. Saat ini, CV WPIU mendapat tawaran untuk memasok produknya ke beberapa supermarket. Produk jus dan sirup yang dihasilkan berada dalam tahap pertumbuhan. Berdasarkan produk, jus dan sirup yang dihasilkan merupakan minuman instan yang memiliki nilai gizi dan atribut yang lengkap seperti, label pada setiap kemasan jus maupun sirup. Dengan demikian, produk yang dihasilkan CV WPIU sudah memiliki kelengkapan untuk memasuki supermarket. Distribusi juga dilakukan sebaik mungkin agar produk dapat sampai ke tangan konsumen dengan tepat waktu. Namun, kegiatan promosi yang dilakukan belum optimal. CV WPIU menetapkan perbedaan harga untuk produk yang dijual secara eceran, grosir, dan untuk ke supermarket. Ditinjau dari aspek teknis, lokasi usaha CV WPIU berada di salah satu sentra penghasil belimbing manis dan jambu biji merah, dimana hal ini menjamin ketersedian bahan baku buah-buahan yang dibutuhkan dalam proses produksi. Untuk memenuhi permintaan pasar saat ini, CV WPIU berencana untuk meningkatkan kapasitasnya sebesar 150 persen. Proses produksi dilakukan sebaik mungkin untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Dilihat dari aspek manajemen, CV WPIU sudah memiliki struktur organisasi yang sederhana. Namun, CV WPIU mengalami kendala dengan beberapa karyawannya yang kurang memiliki kemampuan dan tanggungjawab. Berdasarkan aspek sosial, dengan adanya usaha ini dapat mempekerjakan masyarakat sekitar dan membantu meningkatkan pendapatan petani, sedangkan berdasarkan aspek lingkungan, limbah yang dihasilkan tidak akan mencemari lingkungan karena bahan baku utamanya adalah buah-buahan. Berdasarkan aspek hukum, usaha ini telah memiliki badan hukum dan memenuhi berbagai perizinan usaha. Nilai NPV yang dihasilkan selama kurun waktu 10 tahun adalah sebesar Rp 292.938.966 Nilai IRR yang diperoleh yaitu, sebesar 48,95 persen dimana IRR tersebut lebih besar dari discount factor yang berlaku yaitu, 14 persen. Net B/C yang diperoleh adalah sebesar 3,09. Hal ini berarti, setiap Rp 1 biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan usaha ini, akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp 3,09. Payback period yang diperoleh adalah 3,76 tahun atau sama dengan 3 tahun 7 bulan 4 hari. Hasil analisis switching value menunjukkan bahwa usaha ini menjadi tidak layak untuk dijalankan apabila harga gula pasir mengalami kenaikan melebihi 18,84 persen, harga botol jus mengalami kenaikan melebihi 20,94 persen, penurunan penjualan jus melebihi 6,09 persen, dan penurunan penjualan sirup lebih dari 10,48 persen. Hasil analisis aspek non finansial yaitu, aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial dan lingkungan, serta aspek hukum menunjukkan bahwa usaha yang dijalankan CV WPIU ini layak untuk dilaksanakan. Namun, pada aspek pasar, kegiatan promosi yang dilakukan belum optimal karena CV WPIU hanya mengandalkan keikutsertaan dalam pameran-pameran dan informasi dari mulut ke mulut. CV WPIU juga mengalami kendala pada aspek manajemen yaitu, ada beberapa karyawan yang kurang memiliki kemampuan dan tanggungjawab. Hasil analisis aspek finansial juga menunjukkan bahwa usaha ini layak untuk dilaksanakan. Hasil analisis switching value menunjukkan bahwa Usaha ini lebih peka terhadap penurunan penjualan jus dan sirup daripada kenaikan harga gula pasir dan botol jus.
Collections
- UT - Agribusiness [4776]

