Kelayakan rehabilitasi mangrove dengan teknik guludan dalam perspektif perdagangan karbon di Kawasan Hijau Lindung Muara Angke, Provinsi DKI Jakarta Pembimbing
View/ Open
Date
2013Author
Yanuartanti, Isluyandari Woelan
Kusmana, Cecep
Ismail, Ahyar
Metadata
Show full item recordAbstract
Laju kerusakan hutan mangrove yang mencapai 530.000 ha/tahun menuntut
untuk segera dilakukan upaya rehabilitasi, faktor penyebab kerusakan antara lain
adalah tekanan populasi manusia, eksploitasi produk kayu dan konversi lahan
menjadi tambak (Ong 2002). Ancaman lain adalah terkait perubahan iklim, yaitu
kenaikan permukaan air laut, perubahan hidrologi, temperatur, dan konsentrasi
CO2 (Kusmana 2010a). Penelitian kelayakan secara finansial ini penting
dilakukan agar mekanisme pendanaan rehabilitasi mangrove nantinya dapat
diupayakan melalui perdagangan karbon dalam skema REDD+. Salah satu
ekosistem mangrove yang terdegradasi terletak di kawasan pesisir Jakarta, Muara
Angke, dengan luasan mencapai 264.65 Ha. Kerusakan mangrove di Muara
Angke ini disebabkan oleh aktivitas pembangunan perumahan, pembangunan
jalan tol, fasilitas pembangkit listrik, infrastruktur bandara dan tambak. Untuk
usaha rehabilitasi mangrove, area tambak yang paling mungkin untuk ditanami
mangrove kembali, karena masih menjadi kawasan hijau dengan pengelolaan
dibawah Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan Surat
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 220/Kpts-II/2000 tentang Penunjukkan
Kawasan Hutan dan Perairan di Wilayah Provinsi DKI Jakarta. Teknologi guludan
dikembangkan untuk mengatasi kolom air yang dalam untuk kegiatan rehabilitasi
mangrove di area bekas tambak. Teknik ini telah dikembangkan untuk mangrove
jenis Avicennia marina dengan jarak tanam 0.25 m x 0.25 m, 0.5 m x 0.5 m, dan 1
m x 1 m. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1). Memprediksi model pertumbuhan
mangrove jenis Avicennia marina yang ditanam dengan teknik guludan, 2).
Menduga besarnya biomassa dan stok karbon mangrove jenis Avicennia marina,
3). Menganalisis kelayakan finansial kegiatan rehabilitasi mangrove di Kawasan
Hijau Lindung Muara Angke dalam skema REDD+.
Pengambilan data membutuhkan waktu sekitar 3 bulan dari Bulan
November 2011 sampai dengan Januari 2012 di Kawasan Hijau Lindung Muara
Angke, yang berada di pinggir jalan tol Sedyatmo-Bandara Internasional
Soekarno Hatta pada KM 22 sampai dengan KM 23, Provinsi DKI Jakarta
(06o06’45” LS dan 106o43’54”BT). Kawasan ini memiliki kedalaman air sekitar
2-3 m dengan tingkat salinitas 28-30 ppt dan pH 6.88-7.52 (Kusmana 2010b).
