Pengaruh Pola Pengelolaan Hama terhadap Populasi Serangga Hama pada Lahan Kedelai Varietas Anjasmoro dan Wilis
View/ Open
Date
2015Author
Puspitasari, Mahardika
Hidayat, Purnama
Pudjianto
Metadata
Show full item recordAbstract
Hama tanaman merupakan salah satu faktor penyebab penurunan produksi
kedelai yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 80% bahkan puso
apabila tidak dikendalikan. Upaya pengendalian hama yang dilakukan oleh petani
umumnya dengan penyemprotan pestisida. Namun, penggunaan pestisida yang
tidak bijaksana dapat mengakibatkan resurgensi dan resistensi serangga hama.
Pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan suatu cara pengendalian hama dan
penyakit yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi yang
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Salah satu pola PHT yang diusulkan
dalam penelitian ini adalah pengendalian dengan menggabungkan beberapa cara
seperti penggunaan PGPR, varietas kedelai unggul, insektisida nabati, agen hayati
dan tanaman pinggir.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pola pengelolaan hama
terhadap populasi serangga hama pada lahan kedelai varietas Anjasmoro dan
Wilis. Penelitian dilakukan pada musim kemarau II (MK II), yaitu pada bulan Juni
sampai dengan September 2013 di kebun percobaan BALITKABI, Desa Ngale,
Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak
Kelompok dengan dua ulangan. Percobaan menggunakan kedelai varietas
Anjasmoro dan varieas Wilis yang merupakan varietas yang tahan rebah dan tahan
terhadap serangan penyakit karat daun. Perlakuan pengelolaan hama yang
diterapkan adalah: pengelolaan hama terpadu, pengendalian non-kimiawi,
pengendalian kimiawi, dan kontrol. Pada petak pengendalian hama terpadu kombinasi
pengendalian yang dilakukan adalah perlakuan plant growth promoting rhizobacteria
(PGPR), penggunaan tanaman pinggir jagung, insektisida botanis ekstrak mimba, dan
pestisida sintetik. Pada petak pengendalian non-kimiawi mendapat perlakuan PGPR,
biopestisida spodoptera litura nuclopolyhedrovirus (SlNPV), dan insektisida botanis
ekstrak mimba. Pada petak pengendalian kimiawi hanya dilakukan pengendalian
dengan pestisida sintetik terjadwal sebanyak enam kali per musim tanam. Sedangkan
pada petak kontrol tidak dilakukan pengendalian apapun. Masing-masing petak
perlakuan berukuran 10 m x 10 m. Pengamatan dilakukan terhadap populasi dan
intensitas kerusakan yang disebabkan oleh hama utama kedelai. Hama utama yang
diamati adalah Ophiomya phaseoli, Aphis gossypii, Lamprosema indicata,
Spodoptera litura, Bemisia tabaci, Riptortus linearis dan Etiella zinckenella.
Pengamatan dilakukan sejak 7 hari setelah tanam (HST) sampai dengan panen.
Hasil produksi kedelai pada masing-masing petak dihitung dengan menimbang
biji kering kedelai yang dipanen dengan cara ubinan berukuran 2 m × 5 m pada
masing-masing petak.
Hasil penelitian menunjukkan waktu kemunculan serangga hama pada
pertanaman kedelai varietas Anjasmoro dan Wilis berbeda-beda sesuai dengan
fenologi tanaman kedelai. Hama yang muncul pada fase vegetatif tanaman yaitu
lalat kacang (O. phaseoli), sedangkan hama yang muncul pada fase vegetatif dan
generatif tanaman adalah kutukebul (B. tabaci), ulat grayak (S. litura) dan ulat
penggulung daun (L. indicata). Kepik penghisap polong (R. linearis), ulat
penggerek polong (E. zinckenella) dan kutudaun (A. gossypii) muncul hanya pada
fase generatif tanaman. Pada penelitian ini ditemukan hama baru yang belum
pernah dilaporkan sebelumnya yaitu Caloptilia sp. (Lepidoptera: Gracilariidae).
Intensitas kerusakan akibat serangan hama lalat kacang dan ulat grayak rendah
pada petak dengan pola pengendalian non-kimiawi pada varietas Anjasmoro,
sedangkan pada varietas Wilis tidak berbeda. Intensitas kerusakan yang
disebabkan oleh ulat penggulung daun, kepik penghisap polong dan ulat
penggerek polong tidak dipengaruhi oleh pola pengelolaan hama yang berbeda
baik pada varietas Anjasmoro maupun pada varietas Wilis. Pengendalian hama
terpadu mempengaruhi populasi kutu kebul pada varietas Anjasmoro sedangkan
pada varietas Wilis pola pengelolaan hama tidak mempengaruhi populasi
kutukebul. Populasi lalat kacang, kutudaun, ulat penggulung daun, ulat grayak,
kepik penghisap polong dan ulat penggerek polong tidak dipengaruhi oleh pola
pengelolaan hama yang berbeda. Populasi hama dalam penelitian ini rendah
disebabkan oleh adanya curah hujan yang tinggi pada awal penanaman.
Rendahnya populasi hama menyebabkan hasil pengamatan terhadap populasi dan
intensitas kerusakan menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Pola pengelolaan
hama pada pertanaman kedelai varietas Anjasmoro dan varietas Wilis
mempengaruhi produktivitas kedelai. Produksi kedelai varietas Anjasmoro pada
petak dengan pola pengelolaan hama PHT, pengendalian non-kimiawi,
pengendalian kimiawi dan kontrol berturut-turut sebesar 16.4 kg/100 m2, 16.9
kg/100 m2, 15.8 kg/100 m2 dan 15.5 kg/100 m2. Sedangkan produksi kedelai
varietas Wilis pada petak dengan perlakuan yang sama berturut-turut sebesar 21.9
kg/100 m2, 21.8 kg/100 m2, 23.1 kg/100 m2 dan 20.2 kg/100 m2. Produksi kedelai
varietas Anjasmoro rendah disebabkan oleh adanya serangan virus dengan
insidensi penyakit mencapai 80% pada petak tanpa perlakuan pengelolaan hama.
Pola pengelolaan hama berpengaruh pada hasil produksi varietas Wilis, namun
tidak berpengaruh pada varietas Anjasmoro. Hasil produksi kedelai varietas Wilis
tinggi pada petak dengan pengelolaan hama secara PHT, non-kimiawi dan
kimiawi.
Collections
- MT - Agriculture [4005]
