Analisis Sikap Konsumen terhadap Umbi-umbian sebagai Alternatif Diversifikasi Pangan (Kasus di Kota Bogor, Jawa Barat)
View/ Open
Date
2013Author
Sari, Dina Ratih
Winandi, Ratna
ahroh, Siti
Metadata
Show full item recordAbstract
Produksi beras sebagai sumber pangan pokok dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan masyarakat sehingga impor terus dilakukan. Strategi selain pengadaan impor beras yang dikembangkan oleh Pemerintah adalah diversifikasi pangan pokok dengan memanfaatkan potensi sumber pangan lokal, salah satunya beragam jenis umbi-umbian seperti ubikayu, ubijalar, dan talas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis proses pengambilan keputusan dalam pembelian ubikayu, ubijalar, dan talas oleh konsumen di Kota Bogor; (2) menganalisis sikap dan preferensi konsumen di Kota Bogor terhadap ubikayu, ubijalar, dan talas sebagai alternatif diversifikasi pangan; dan (3) mengajukan saran kebijakan dalam rangka upaya percepatan diversifikasi pangan pokok di Kota Bogor.
Responden dalam penelitian ini berjumlah 105 orang dan dibagi ke dalam 3 kelas berdasarkan aspek ekonomi, yaitu kelas atas, menengah, dan bawah. Responden kelas atas diambil di Villa Indah Pajajaran, Villa Duta, Bogor Nirwana Residence, dan Danau Bogor Raya. Responden kelas menengah diambil di Perumnas Bantarjati, sedangkan Kelurahan Bantarjati Kaum dipilih lokasi pengambilan responden kelas bawah. Mayoritas responden dari ketiga kelas lebih sering mengonsumsi ubikayu, baik dalam bentuk segar maupun olahan sebagai makanan tambahan. Cara pengolahan ketiga jenis umbi segar yang paling banyak adalah dengan direbus dan digoreng. Mayoritas responden mencari informasi mengenai ubikayu, ubijalar, serta talas dalam bentuk segar dan olahan sendiri dan mengaku lebih tertarik membeli umbi olahan daripada umbi segar. Pertimbangan utama bagi mayoritas responden dalam pembelian umbi segar adalah harga yang terjangkau sedangkan untuk pembelian umbi olahan, faktor rasa dianggap yang paling penting. Sebagian besar responden tidak rutin dan jarang dalam membeli umbi segar dan olahan, biasanya pembelian umbi segar dilakukan di pasar tradisional, sedangkan pembelian umbi olahan yang paling umum adalah di toko. Jumlah pengeluaran responden untuk membeli umbi segar dan olahan dalam satu bulan bernilai kurang dari 50 000 rupiah.
Hasil penghitungan sikap dilakukan dengan menggunakan Model Multiatribut Fishbein yang ditampilkan dalam peta persepsi dan menunjukkan bahwa jenis umbi segar yang paling disukai oleh responden adalah ubikayu karena nilai sikap yang diperoleh ubikayu adalah yang paling besar. Agar dapat lebih menarik minat konsumen untuk membeli dan mengonsumsi umbi-umbian sebagai sumber pangan pokok, diperlukan inovasi dalam pengolahan menjadi produk makanan yang lebih praktis dan menarik untuk dikonsumsi, karena umumnya responden lebih tertarik membeli umbi-umbian dalam bentuk olahan yang siap saji daripada dalam bentuk masih segar.
Collections
- MT - Economic and Management [3203]
