Indeks Kepekaaan Lingkungan Ekosistem Mangrove Dengan Interpretasi Citra Digital Studi Kasus: Pesisir Barat Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
View/ Open
Date
2018Author
Danipranata, Jeff
Nurjaya, Wayan
Damar, Ario
Metadata
Show full item recordAbstract
Dampak akibat tumpahan minyak antara lain adalah rusaknya ekosistem pesisir seperti terumbu karang, mangrove dan padang lamun yang merupakan sumber nutrien utama bagi ikan, rusaknya lokasi-lokasi budidaya perikanan, matinya ikan di perairan di daerah tangkapan dan lain-lain. Salah satu solusi untuk mengurangi dampak pencemaran tumpahan minyak adalah dengan memetakan tingkat kerentanan lingkungannya berdasarkan indeks kepekaan lingkungan, yang salah satu inovasinya adalah dengan menggunakan teknologi algoritma interpretasi citra digital yang diintegrasikan dengan kemampuan teknologi GIS (Geographic Information System).
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan algoritma interpretasi citra digital dan analisis dengan perangkat lunak berbasis GIS dalam aplikasi analisis Indeks Ekologi (IE) Ekosistem Mangrove. Lokasi aplikasi pengembangan pendekatan penelitian ini dilakukan di ekosistem mangrove di sepanjang pesisir barat Pulau Bangka. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer bersumber dari hasil survei dan pengukuran langsung dilapangan, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literatur. Data primer yang dikumpulkan berupa data tipe substrat pesisir pantai, jenis spesies pohon mangrove, tingkat kerapatan pohon mangrove. Sedangkan data sekunder yang dikumpulkan berupa data pasang surut pesisir barat Pulau Bangka, data tangkapan ikan penduduk, data wisata lokal dan status perlindungan area nasional. Data primer dan data sekunder selanjutnya diolah untuk membentuk parameter IKL.
IKL dibentuk dari indeks kerentanan (IK), indeks ekologi (IE), dan indeks sosial ekonomi (IS). Parameter IK yang digunakan adalah tipe substrat pesisir dan kemiringan pantai. IE diperoleh dari kerapatan mangrove, sensitivitas mangrove, lama perendaman saat pasang air laut dan status perlindungan area. Sedangkan parameter yang digunakan dalam penentuan IS mangrove terdiri dari aktivitas penangkapan ikan, potensi wisata, dan nilai ekonomi mangrove. Algoritma interpretasi citra Landsat 8 pada penyusunan IE yang terkait dengan parameter jenis mangrove berdasarkan sensitivitasnya terhadap tumpahan minyakmemberikan tingkat akurasi 84% jika dibandingkan jika dibandingkan dengan survei lapang. Dan penggunaan fasilitas weighted overlay pada perangkat lunak ArcGIS untuk menentukan nilai IKL total memliki perbedaan sebesar 24% jika dibandingkan dengan metode manual. Terdapat dua kelas IKL pada seluruh unit analisis, yaitu sensitif hingga sangat sensitif, parameter penentu yang cukup dominan terhadap hasil IKL dalam penelitian ini adalah tingkat sensitivitas mangrove, kerapatan mangrove dan luas area mangrove.
Analisis risiko terhadap unit analisis di area penelitian menghasilkan informasi untuk bulan yang berisiko tinggi hingga sangat tinggi terjadi pada bulan Mei hingga Oktober dengan unit analisis Tanjung Punai, Belolaut, Rambat dan Kampak yang berpotensi memiliki tingkat kerusakan yang tinggi apabila terkena tumpahan minyak.
Collections
- MT - Agriculture [4005]
