Efektivitas Terapi Stem Cell pada Infark Miokardium Ditinjau dari Aktivitas Enzim dan Histopatologi Hati
Date
2023Author
Rahmi, Riska Asria Sa’adatur
Gunanti
Noviana, Deni
Harlina, Eva
Metadata
Show full item recordAbstract
Infark miokardium adalah nekrosis otot jantung yang dapat menyebabkan gagal jantung sehingga memicu terjadinya kongesti hepatopati. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efektivitas terapi stem cell plasenta tunggal maupun kombinasi kokultur kardiomiosit pada babi yang mengalami infark miokardium ditinjau dari aktivitas enzim Alanin Aminotransferase (ALT) dan Aspartat Aminotransferase (AST) serta histopatologi organ hati. Sebanyak sembilan ekor babi dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan (K1, K2, dan K3) yang masing-masing kelompok terdiri atas tiga ekor. Seluruh babi diinduksi oklusi total arteri circumflexa. Pasca terbentuknya ST-elevasi, kelompok K2 diterapi stem cell plasenta tunggal, K3 diterapi stem cell kombinasi dengan kokultur kardiomiosit, sedangkan K1 tanpa terapi. Stem cell plasenta diberikan secara injeksi pada area infark miokardium, sedangkan kokultur kardiomiosit diberikan dalam bentuk patch. Pengambilan darah dilakukan satu jam pre-operasi, pasca ST-elevasi, dan 8 minggu pasca terapi. Hewan coba dirawat selama delapan minggu, selanjutnya dieuthanasia dan dinekropsi untuk pengambilan organ hati. Nilai ALT dan AST dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) satu arah dan uji Tukey sebagai uji lanjut. Perubahan histopatologi jaringan hati dianalisis menggunakan software Image J 1.53 dan data hasil pengukuran dianalisis menggunakan ANOVA satu arah serta disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai ALT dan AST ketiga kelompok perlakuan pada pengambilan darah pasca ST-elevasi, namun masih dalam batas normal kecuali K1. Nilai ALT dan AST menurun signifikan (p<0,05) pada kelompok yang diterapi stem cell plasenta tunggal (K2) maupun dengan kombinasi kokultur kardiomiosit (K3). Nilai ALT K3 menurun namun tidak signifikan (p>0,05) dibanding K2. Nilai AST K3 menurun signifikan (p<0,05) namun tidak berbeda nyata (p>0,05) dibanding K2. Secara umum jaringan hati menunjukkan gangguan sirkulasi berupa kongesti vena sentralis, vena porta, dilatasi dan kongesti sinusoid dan perubahan hepatosit berupa nekrosis sentrilobular dan degenerasi hidropis. Terapi stem cell tunggal (K2) maupun kombinasi dengan kokultur kardiomiosit (K3) menurunkan persentase nekrosis sentrilobular dan dilatasi sinusoid secara signifikan (p<0,05), namun tidak berbeda nyata di antara keduanya. Degenerasi hidropik hepatosit pada K2 tergolong ringan, sedangkan pada K3 tergolong sedang. Pemberian terapi stem cell plasenta tunggal maupun kombinasi dengan kokultur kardiomiosit dapat menurunkan nilai ALT dan AST, serta dapat memperbaiki jaringan hati.
Collections
- MT - Veterinary Science [974]
