Strategi Pengembangan Konservasi Maleo di Sanctuary Hungayono, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Gorontalo
Date
2022-12Author
Karim, Fira Rizka
Mas'yud, Burhanuddin
Hernowo, Jarwadi Budi
Metadata
Show full item recordAbstract
Burung maleo (Macrocephalon maleo) sebagai jenis burung burrow nester
yakni burung pembuat sarang dalam lubang atau liang dan salah satu jenis burung
endemik Sulawesi yang berasal dari Famili Megapodiidae. Keunikan burrow nester
menyebabkan maleo rentan terhadap perubahan yang terus terjadi terhadap
habitatnya dan berdampak pada tekanan populasi burung maleo di alam. Salah satu
upaya penyelamatan dan peningkatan populasi burung maleo yakni dengan
pengelolaan lokasi peneluran dengan baik. Hungayono merupakan salah satu lokasi
peneluran burung maleo yang berada di kawasan Taman Nasional Bogani Nani
Wartabone Gorontalo (TNBNW), yang dijadikan sebagai Sanctuary sebagai suatu
bentuk penangkaran burung maleo berupa pengelolaan lokasi peneluran, penetasan
telur, pemeliharaan anak maleo dan pelepasliaran anak maleo di habitat alaminya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis standar prosedur operasional dan
implementasinya dalam pengelolaan Sanctuary Hungayono, menganalisis
manajemen habitat peneluran, penetasan telur semi alami dan tingkat keberhasilan
penetasan telur maleo di Sanctuary Hungayono, menganalisis pengelolaan dan
tingkat kesejateraan anakan maleo pasca penetasan di Sanctuary Hungayono,
menganalisis persepsi dan kesediaan masyarakat dalam mendukung kegiatan
konservasi maleo di Sanctuary Hungayono, dan merumuskan strategi
pengembangan konservasi maleo di Sanctuary Hungayono.
Penelitian ini dilakukan di Sanctuary Hungayono TNBNW Gorontalo.
Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret - Juli 2021. Pengumpulan data
dilakukan dengan cara pengamatan langsung dan wawancara terhadap pihak
pengelolaan yakni TNBNW, animal keeper, dan masyarakat sekitar Hungayono.
Analisis data menggunakan analisis komponen planning, organizing, actuating
dan controlling (POAC) untuk manajemen Sanctuary, analisis deskriptif untuk
karakteristik lokasi peneluran dan manajemen penetasan telur maleo, tingkat
kesejahteraan anak maleo di Sanctuary dianalisis menggunakan standar penilaian
berdasarkan Keputusan Dirjen PHKA Nomor 6/IV-SET/2011 tentang Pedoman
Penilaian Lembaga Konservasi. Besarnya nilai WTP ditentukan bidding game,
kemudian dihitung nilai rataan WTP. Selanjutnya untuk mengetahui ada-tidaknya
hubungan faktor-faktor terkait karakteristik responden dengan besarnya nilai WTP,
digunakan regresi linier berganda. Adapun untuk menentukan rumusan strategi
pengembangan konservasi maleo dilakukan analisis SWOT.
Manajemen lokasi peneluran Hungayono dilakukan berdasarkan prosedur
tata kelola lokasi peneluran yang terdiri atas tiga perencanaan yaitu perencanaan
lokasi peneluran, perencanaan pengelolaan telur, anak maleo dan hatchery, dan
perencanaan pengelolaan kandang habituasi dan isolasi. Kegiatan manajemen
lokasi peneluran Hungayono dilakukan oleh keeper yang berjumlah satu orang,
yang merupakan salah satu masyarakat lokal. Implementasi manajemen lokasi
peneluran maleo Hungayono berdasarkan rumusan dokumen perencanaan yang
telah ditetapkan masih kurang, karena masih terdapat beberapa aspek dari segi
Perencanaan, Pengorganisasian, Penggerakkan, dan Controling (POAC) yang
belum terpenuhi atau dijalankan. Kegiatan perencanaan di Hungayono masih
banyak yang belum dilakukan oleh pihak pengelolaan diantaranya kondisi hatchery
yang masih belum aman untuk telur dan anak maleo, sumber daya manusia (SDM)
yang sedikit, tidak adanya tenaga medis atau dokter, dan masih kurangnya perhatian
dari pihak pengelola. Kegiatan pengontrolan Sanctuary Hungayono dilakukan dua
kali dalam sebulan oleh pihak TNBNW Gorontalo yang disertakan dengan kegiatan
rutin pengamatan keanekaragaman hayati. Hal ini dirasa kurang efektif karena
bukan menjadi kegiatan inti dalam pengelolaan Sanctuary maleo dan kegiatan
pelaporan Sanctuary maleo yang kurang efektif dalam pelaporan akhir BTNBNW.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lokasi peneluran maleo bersih dari
semak, tetapi masih terdapat naungan dari bambu atau pohon. Lokasi peneluran
dekat dengan sumber panas bumi dengan struktur tanah bercampur terdiri dari debu,
pasir dan tanah. Liang telur alami memiliki rata-rata kedalaman 92.8 cm, lebar 82.7
cm, suhu 32.5 oC, dan kelembaban 90%. Untuk liang telur buatan memiliki rata rata kedalaman 32 cm, lebar 10cm, suhu 32.5 oC, dan kelembaban 90.8%. Lama
inkubasi telur maleo secara semi alami adalah 60 sampai 80 hari. Tingkat
keberhasilan penetasan telur maleo secara semi alami di Hungayono mencapai
60.18 % dan masuk ke dalam kategori sedang (30-60%). Nilai tingkat kesejahteraan
anakan burung maleo yang di Sanctuary Hungayono adalah 49.73 dan tergolong
dalam klasifikasi kurang. Aspek pengelolaan kesejahteraan satwa dengan skor
paling rendah adalah bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit. Berdasarkan hasil
penelitian, masyarakat sekitar Sanctuary Hungayono telah mengetahui bahwa
maleo adalah satwa yang dilindungi dan kondisi maleo sudah mulai langka dan sulit
untuk ditemui. Berdasarkan hasil penelitian, besarnya rata-rata nilai Willingness to
Pay dari masyarakat untuk keperluan perlindungan maleo dan habitatnya adalah Rp
102.466,4. Semakin tua seseorang dan semakin tinggi tingkat pendidikan
masyarakat, maka semakin tinggi nilai WTP yang diberikan.
Strategi pengembangan konservasi maleo di Hungayono yang dapat
dilakukan meliputi strategi pengelolaan Sanctuary, pengelolaan habitat peneluruan,
strategi penetasan telur semi alami, pemeliharaan anakan maleo, strategi
pengembangan pemanfaatan Sanctuary sebagai lokasi wisata dan pengembangan
dukungan masyarakat untuk konservasi maleo dan pengelolaan Sanctuary.
Collections
- MT - Forestry [1511]
