Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi dan Perkembangan Kognitif Anak Usia Prasekolah
Date
2021-12-30Author
Puspitasari, Dwi Anggraeni
Kustiyah, Lilik
Dwiriani, Cesilia Meti
Widodo, Yekti
Metadata
Show full item recordAbstract
Masa balita merupakan periode emas dalam pertumbuhan dan
perkembangan anak. Anak balita atau anak dibawah lima tahun terbagi menjadi
dua kelompok usia yaitu anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5
tahun). Anak usia prasekolah merupakan anak usia dini, dimana pada usia
tersebut anak belum sekolah secara formal namun anak mulai belajar berbagai
macam stimulasi dengan cara bermain. Kelompok usia tersebut memasuki tahapan
perkembangan aktif secara fisik dibandingkan masa sebelumnya, sehingga perlu
perhatian khusus agar dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan
fisik, sosial, kognitif, dan mental anak. Kondisi sosial orangtua, riwayat berat dan
panjang lahir anak, status gizi lahir, kondisi lingkungan keluarga, dan status
kesehatan diduga menjadi faktor yang berhubungan dengan status gizi dan
perkembangan kognitif pada anak usia prasekolah.Tujuan umum penelitian adalah
menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi dan
perkembangan kognitif anak usia prasekolah di Kota Bogor. Tujuan khusus
penelitian adalah 1) Menganalisis karakteristik keluarga dan anak, status
kesehatan, pola asuh psikososial, status gizi dan perkembangan kognitif anak usia
rasekolah; 2) Menganalisis hubungan karakteristik keluarga dan anak serta status
kesehatan dengan status gizi anak usia prasekolah; 3) Menganalisis hubungan
karakteristik keluarga dan anak, status kesehatan, serta pola asuh psikososial
dengan perkembangan kognitif anak usia prasekolah; 4) Menganalisis hubungan
antara status gizi dengan perkembangan kognitif anak usia prasekolah.
Penelitian crossectional ini menggunakan sebagian data penelitian “Studi
Kohor Pertumbuhan dan Perkembangan Anak (TKA)” yang dilaksanakan sejak
tahun 2012 di Bogor oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan
Masyarakat, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian
Kesehatan RI. Penelitian ini dilaksanakan mulai September 2019 hingga April
2022. Jumlah total subjek dari penelitian kohor yang memenuhi kriteria inklusi
dan lengkap datanya yang digunakan dalam penelitian ini adalah 84 anak. Data
yang digunakan dari penelitian kohor meliputi karakteristik keluarga (pendidikan
orangtua, pekerjaan orangtua, jumlah anggota keluarga, tinggi badan ibu),
karakteristik anak [berat badan lahir, panjang badan lahir, status gizi lahir dan saat
usia 4 tahun (BB/U, TB/U, BB/TB)], status kesehatan, pola asuh psikososial, dan
perkembangan kognitif anak. Pola asuh psikososial orangtua diukur menggunakan
kuisioner Home Observation for Measurement of the Environment (HOME).
Perkembangan kognitif diukur menggunakan Bailey untuk anak usia satu (1)
sampai tiga (3) tahun dan Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence
(WPPSI) untuk anak usia 4 tahun. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif
dan inferensia. Sebelum dilakukan analisis dilakukan uji sebaran (normalitas)
data. Berdasarkan hasil uji sebaran data, dilakukan analisis menggunakan uji
Spearman dan Pearson.
Sebesar 67,9% ayah dan 58,3% ibu berpendidikan paling tidak SMA.
Sebagian besar status kerja ayah adalah tidak tetap (51,2%) dan lebih dari tiga
perempat ibu adalah ibu rumahtangga yang tidak bekerja (82,1%). Sebagian besar
anak termasuk keluarga kecil (51,2%). Hampir tiga perempat (70,2%) ibu
memiliki tinggi badan normal (≥150 cm) . Lebih dari tiga perempat anak memiliki
berat badan lahir setidaknya 3000 g (78,6%) dan panjang badan lahir setidaknya
48 cm (78,6%). Hasil analisis menunjukkan sebagian besar anak pada penelitian
ini memiliki status gizi lahir normal berdasarkan BB/U (88,1%), TB/U (78,6%)
dan BB/TB (79,8%). Berdasarkan BB/TB pada tahun 1, 2, 3 dan 4 lebih banyak
anak memiliki status gizi normal. Demikian pula berdasarkan BB/U dan TB/U
pada tahun 1, 2, 3 dan 4, maka status gizi anak mayoritas adalah normal. Status
kesehatan anak dengan kategori sakit (ya) pada tahun ke-1 sampai tahun ke-4
secara berturut-turut adalah 36,9%, 27,4%, 34,5%, dan 21,4%. Pola asuh
psikososial membaik dengan bertambahnya usia anak, ditunjukkan dari persentase
kategori kurang yang menurun, berturut-turut dari tahun ke-1 sampai ke-4 adalah
76,2%, 58,3%, 38,2%, dan 13,1%.
Status kerja ayah, tinggi badan ibu, panjang badan lahir, dan status gizi lahir
PB/U memiliki hubungan positif signifikan (p<0,05) dengan status gizi BB/U
anak tahun ke-4. Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, panjang badan lahir, status gizi
lahir PB/U berhubungan positif signifikan (p<0,05) dengan status gizi TB/U anak
tahun ke-4, sedangkan status kerja ibu dan status gizi lahir BB/PB memiliki
hubungan negatif signifikan (p<0,05). Tidak terdapat hubungan signifikan
(p>0,05) antara karakteristik keluarga, karakteristik anak, dan status kesehatan
dengan status gizi BB/TB anak tahun ke-4. Terdapat hubungan positif signifikan
(p<0,05) antara pendidikan ayah, pendidikan ibu, tinggi badan ibu, pola asuh
psikososial dengan perkembangan kognitif anak. Tidak terdapat hubungan
signifikan (p>0,05) antara status gizi BB/U, TB/U, BB/TB dengan perkembangan
kognitif, namun, pertambahan tinggi badan anak berhubungan positif signifikan
(p<0,05) dengan perkembangan kognitif anak tahun ke-4.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka penting diperhatikan tketersediaan
lapangan kerja, pendidikan orangtua, dan kondisi pra hamil ibu agar dapat
memiliki anak dengan status gizi dan perkembangan yang baik. Selain itu,
semakin baik pertambahan tinggi badan anak ternyata semakin baik pula
perkembangan kognitifnya pada tahun ke-4. Dengan demikian, pemantauan baik
berat maupun tinggi badan anak, keduanya penting dilakukan agar penyimpangan
dapat dideteksi sedini mungkin sehingga dapat segera dilakukan intervensi untuk
perbaikan. Lebih lanjut penelitian ini juga menunjukkan bahwa pola asuh
psikososial oleh ibu berhubungan signifikan dengan perkembangan kognitif anak
dan terjadi perbaikan pola asuh psikosial oleh ibu dari tahun ke-1 sampai ke-4.
Hal ini mengindikasikan bahwa keterampilan ibu dalam memberikan asuhan
psikosial pada awal kelahiran anak perlu diperbaiki. Oleh karena itu perlu
dilakukan edukasi pada calon pengantin, calon ibu, atau pengasuh terkait
pentingnya pola asuh psikososial terhadap perkembangan kognitif anak.
Collections
- MT - Human Ecology [2409]
