Pengaruh Suplementasi Heparin dan Hypotaurin Terhadap Kualitas Sperma dan Tingkat Fertilisasi Oosit Domba yang Dimaturasi dengan L-carnitine.
Date
2022Author
Rahmatullah, Rahmatullah
Setiadi, Mohamad
Supriatna, Iman
Metadata
Show full item recordAbstract
Maturasi (IVM) dan fertilisasi (IVF) merupakan tahapan dalam produksi
embrio in vitro. Kompetensi oosit dan sperma yang menjadi faktor penentu
keberhasilan produksi embrio in vitro. Kompetensi oosit terkait dengan proses
pematangan inti mencapai tahap metaphase 2 (MII), dan sitoplasma. Disisi lain,
sistem in vitro menyebabkan peningkatan reaktif oksigen spesies (ROS) yang dapat
memicu kerusakan intraseluler pada oosit. Stres oksidatif (OS) muncul ketika
pembentukan ROS melebihi kemampuan antioksidan sel. Antioksidan diperlukan
sebagai scavenger radikal bebas dan melindungi sel atau memperbaiki kerusakan
yang diakibatkan oleh radikal bebas, oleh karena itu diperlukan media maturasi
yang dapat mencegah atau meminimalkan Stres oksidatif. Penggunaan antioksidan
l-carnitine bertujuan untuk meningkatkan kompetensi oosit. Selain itu, kompetensi
dan kualitas sperma juga memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan produksi
embrio in vitro. Kualitas sperma yang baik memiliki daya hidup tinggi, morfologi
normal, dan motilitas progresif. Selain kualitas yang baik spermatozoa perlu
mengalami kapasitasi agar mampu melakukan penetrasi pada oosit setelah
dimaturasi hingga terjadi fertilisasi. Oleh karena itu diperlukan suplementasi
senyawa pada media fertilisasi, yang dapat mempertahankan kualitas sperma, dan
menginduksi kapasitasi, serta meningkatkan kemampuan fertilisasi. Sehingga,
beberapa peneliti menggunakan heparin dan hypotaurin.
Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu mengevaluasi kemampuan
pematangan inti oosit pada medium maturasi yang disuplementasi dengan 0,3
mg/ml l-carnitine pada tahap pertama. Pada tahap 2, oosit yang telah dimaturasi
kemudian difertilisasi dengan sperma yang diinkubasi pada medium fertilisasi yang
disuplementasi heparin (0,1 IU/ml) dan hypotaurin (10 μM). Konsentrasi sperma
yang digunakan sebanyak 5x106 spermatozoa/ml dan inkubasi sperma dengan oosit
dilakukan selama 12 jam pada inkubator CO2 5% pada suhu 38,5 °C. Sampel
spermatozoa dievaluasi terhadap perubahan motilitas, viabilitas, dan keutuhan
membran sperma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase oosit yang
mencapai metaphase II lebih tinggi secara signifikan (p<0,05) pada media IVM
yang disuplementasi 0,3 mg/ml l-carnitine dibandingkan kontrol (88,2±4,9% vs
79,8±5,1%). Sementara itu, persentase oosit yang terfertilisasi yang ditandai dengan
pembentukan 2PN terlihat lebih tinggi secara signifikan (p<0,05) pada media IVF
yang disuplementasi heparin dan hypotaurin (82,6±2,0% vs 73,3±2,4%)
dibandingkan kontrol. Data menunjukkan suplementasi heparin dan hypotaurin
pada medium fertilisasi mempengaruhi secara signifikan (p<0,05) peningkatan
motilitas sperma dan mempertahankan viabilitas, serta keutuhan membran plasma
sperma. Disimpulkan bahwa suplementasi l-carnitine dosis 0,3 mg/ml pada media
maturasi meningkatkan persentase maturasi inti oosit dan mendukung
perkembangan oosit ke tahap selanjutnya. Kombinasi suplementasi heparin 0,1
IU/ml dan hypotaurin 10 μM pada media fertilisasi mampu meningkatkan tingkat
fertilisasi in vitro yang lebih baik.
Collections
- MT - Veterinary Science [974]
