Analisis Volatilitas Harga Kedelai di Indonesia
Abstract
Kedelai merupakan komoditas pangan utama selain padi dan jagung yang
berfungsi sebagai sumber protein nabati masyarakat Indonesia. Fluktuasi
perubahan varians harga akan menyebabkan volatilitas harga dan berdampak pada
industri olahan pangan, salah satunya adalah industri tahu dan tempe yang
merupakan industri kecil dengan modal yang terbatas. Oleh karena itu, stabilitas
harga kedelai perlu dilakukan antisipasi oleh pemerintah untuk meminimalisir
resiko dan ketidakpastian yang akan merugikan baik produsen maupun konsumen
kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis volatilitas harga kedelai baik
kedelai lokal tingkat konsumen maupun produsen dan kedelai impor, serta harga
tahu dan tempe di Indonesia. Penelitian menggunakan data time series bulanan dari
Januari 2010 sampai Desember 2021. Metode yang digunakan adalah ARCHGARCH untuk menghitung besaran volatilitas dari variabel harga kedelai baik
kedelai lokal tingkat konsumen maupun produsen dan kedelai impor, serta harga
tahu dan tempe di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan harga konsumen
kedelai lokal lebih volatil dibandingkan harga kedelai impor. Harga kedelai tingkat
produsen dan harga tempe menunjukkan tingkat volatilitas yang rendah sementara
harga tahu menunjukkan tingkat volatilitas yang tinggi yang akan berpengaruh
besar terhadap dinamika pasar. Soybean is the main food commodity besides rice and corn which functions as a source of vegetable protein for the Indonesian people. Fluctuations in price variance will cause price volatility and have an impact on the food processing industry, one of which is the tofu and tempeh industry, which is a small industry with limited capital.. Therefore, it is necessary to anticipate the stability of soybean prices the government to minimize risks and uncertainties that will harm both soybean producers and consumers. This study aims to analyze the volatility of soybean prices, both local consumer and producer level soybeans and imported soybeans, as well as tofu and tempeh prices in Indonesia. The study uses monthly time series data from January 2010 to December 2021. The method used is ARCH-GARCH to calculate the volatility of soybean price variables, both local soybeans at consumer and producer levels and imported soybeans, as well as prices of tofu and tempeh in Indonesia. The results showed that local soybean consumer prices were more volatile than imported soybean prices. Soybean prices at the producer level and tempeh prices show a low level of volatility, while tofu prices show a high level of volatility which will have a major influence on market dynamics. Keywords: ARCH-GARCH model, Indonesian soybean price, Volatility
Collections
- UT - Agribusiness [4776]
