Pengelompokan Wilayah Berdasarkan Faktor Spasial Penyebab Stunting dan Arahan Penanganannya di Kabupaten Lampung Selatan
Date
2022Author
Wardana, Wayan
Munibah, Khursatul
Baliwati, Yayuk Farida
Metadata
Show full item recordAbstract
Keberhasilan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas suatu
daerah dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dibangun
melalui pendekatan tiga dimensi pembangunan manusia yaitu umur panjang dan
hidup sehat, pengetahuan dan standar hidup layak. Terdapat beberapa indikator
terkait dengan dimensi pembangunan manusia berhubungan dengan stunting.
Angka prevalensi stunting di Kabupaten Lampung Selatan masih tergolong sangat
tinggi, yaitu masih berada di atas standar WHO, kemudian Kabupaten Lampung
Selatan termasuk bagian dari 100 kabupaten/kota prioritas untuk intervensi stunting
oleh TNP2K. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Menganalisis pola sebaran
spasial prevalensi stunting seluruh desa di Kabupaten Lampung Selatan; (2)
Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian balita stunting di
Kabupaten Lampung Selatan; (3) Mengelompokan wilayah berdasarkan faktorfaktor
yang mempengaruhi balita stunting di Kabupaten Lampung Selatan; (4)
Menyusun arahan penanganan stunting berdasarkan faktor spasial di Kabupaten
Lampung Selatan.
Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data prevalensi stunting
dan data cakupan indikator intervensi gizi spesifik dan sensitif tahun 2020 yang
dikumpulkan dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Lampung
Selatan. Metode analisis yang digunakan dalam identifikasi pola sebaran spasial
prevalensi stunting berupa analisis Indeks Moran, Moran’s scatterplot dan Local
Indicator of Spatial Association (LISA). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi
stunting menggunakan analisis regresi linear berganda dan Geographic Weighted
Regression (GWR). Pengelompokan wilayah berdasarkan faktor-faktor yang
mempengaruhi stunting dianalisis mengunakan analisis spasial kualitatif dan arahan
penanganan stunting di Kabupaten Lampung Selatan dirumuskan menggunakan
analisis konten kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran prevalensi stunting Kabupaten
Lampung Selatan tahun 2020 membentuk pola mengelompok yang ditunjukkan
dari hasil analisis Indeks Moran. Hasil analisis LISA menunjukkan pengelompokan
wilayah pada high-high cluster sebagian besar berada di desa-desa Kecamatan
Kalianda. Hasil regresi liniear berganda menunjukan bahwa variabel yang
mempengaruhi stunting di Kabupaten Lampung Selatan adalah cakupan ibu hamil
mendapat Iron and Folic Acid (IHIFA), cakupan bayi 0-11 bulan telah diimunisasi
dasar secara lengkap (BIDL), cakupan layanan ibu nifas (LIN), cakupan rumah
tangga yang menggunakan sumber air minum layak (RTAML) dan cakupan rumah
tangga peserta JKN/Jamkesda (RTJKN). Hasil GWR menunjukkan wilayah yang
memiliki nilai R2 paling tinggi berada di wilayah bagian selatan Kabupaten
Lampung Selatan dengan variabel IHIFA sebagai variabel yang memiliki pengaruh
paling tinggi dalam menurunkan prevalensi stunting. Faktor dominan yang
mempengaruhi stunting dengan tingkat nilai koefisien pada masing-masing desa
menyebabkan perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi stunting tiap desa.
Pengelompokan wilayah yang dilakukan berdasarkan kesamaan faktor penyebab
stunting tiap desa membagi wilayah Kabupaten Lampung Selatan ke dalam 10
kelompok wilayah, dengan satu kelompok wilayah yang tidak memiliki faktor
penyebab stunting dengan sebaran wilayah di bagian utara dan selatan Kabupaten
Selatan dan lima kelompok wilayah yang memiliki faktor penyebab stunting lebih
dari satu dengan sebaran wilayah di bagian tengah Kabupaten Selatan.
Arahan penanganan stunting di Kabupaten Lampung Selatan merupakan
suatu upaya percepatan penurunan stunting dengan program, kegiatan serta sub
kegiatan yang disesuaikan dengan faktor penyebab stunting. Penanganan stunting
di Kabupaten Lampung Selatan di wilayah bagian utara diprioritaskan pada sub
kegiatan pengelolaan pelayanan kesehatan ibu hamil, kemudian wilayah bagian
selatan diprioritaskan pada sub kegiatan pengelolaan pelayanan kesehatan gizi
masyarakat, sedangkan wilayah bagian tengah diprioritaskan pada sub kegiatan
pengelolaan pelayanan kesehatan balita, sub kegiatan pengelolaan jaminan
kesehatan masyarakat, sub kegiatan pembangunan spam jaringan perpipaan di
kawasan perdesaan, peningkatan spam jaringan perpipaan kawasan perdesaan,
perbaikan spam jaringan perpipaan di kawasan perdesaan, pembangunan baru spam
bukan jaringan perpipaan di kawasan perdesaan dan perbaikan spam bukan jaringan
perpipaan di kawasan perdesaan.
Collections
- MT - Agriculture [4005]
