Karakter Agromorfologi dan Periode Panen Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) untuk Produksi Polong Muda dan Biji
Date
2022-01-19Author
Ishthifaiyyah, Sayyidah Afridatul
Syukur, Muhamad
Maharijaya, Awang
Trikoesoemaningtyas
Metadata
Show full item recordAbstract
Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) merupakan salah satu komoditas kacang-kacangan asli Indonesia yang belum banyak dimanfaatkan. Hampir semua bagian tanaman ini dapat dikonsumsi dan mengandung berbagai nutrisi. Pengembangan kecipir dapat diarahkan untuk produksi polong muda dan biji. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakter agromorfologi dan periode panen kecipir untuk produksi polong muda dan biji kering. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) satu faktor yang diulang sebanyak tiga kali.
Hasil percobaan menunjukkan adanya keragaman karakter kualitatif dan kuantitatif pada dua puluh genotipe kecipir yang diuji. Kecipir dengan biji berwarna ungu atau hitam juga mempunyai warna ungu pada bagian tanaman yang lain seperti batang, kelopak bunga, mahkota bunga, polong, maupun sayap polong muda, kecuali genotipe H1U dan KH2. Genotipe H2 mempunyai potensi produksi polong muda tertinggi di antara genotipe F8 sebesar 6,69 ton ha-1. Potensi produksi biji kecipir tertinggi dimiliki oleh genotipe L3 dan H4P yakni 1,40 ton ha-1. Keduanya dapat menjadi alternatif untuk pengembangan biji kecipir dengan warna ungu (L3) maupun krem (H4P). Genotipe H3U mempunyai polong muda dengan kandungan protein tertinggi (2,57%) di antara genotipe F8, sementara genotipe L1 mempunyai kandungan protein biji tertinggi sebesar 33,45%, lebih tinggi dibandingkan tetua dan genotipe pembanding.
Umur berbunga dan umur panen biji kecipir berkisar antara 58,67 – 67,33 HST dan 97,33 – 137,50 HST. Kedua karakter tersebut mempunyai hubungan yang erat dengan koefisien korelasi sebesar 0,59. Genotipe H1P-19(3) mempunyai nilai tengah umur berbunga terkecil di antara genotipe yang lain kecuali P1. Sementara itu, genotipe H4P mempunyai nilai tengah umur panen biji terkecil di antara semua genotipe yang diuji. Periode panen kecipir berkisar antara 12,33 – 144 hari. Genotipe kecipir generasi F8 yang mempunyai periode panen polong muda paling lama adalah H1U-2 (78 hari). Derajat indeterminasi kecipir berkisar antara 0,20 – 0,44 dimana nilai tengah derajat indeterminasi terkecil dimiliki oleh P1, disusul oleh H3U pada generasi F8. Analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan, baik antara periode panen dengan produktivitas polong muda, maupun derajat indeterminasi dengan produktivitas biji.
Collections
- MT - Agriculture [4005]
