Hubungan Kompleksitas Habitat dengan Kelimpahan Semut Terhadap Intensitas Serangan Hama Kakao pada Naungan yang Berbeda
Date
2021-12-07Author
Khafidhan, Abied
Widyastuti, Rahayu
Abdoellah, Soetanto
Metadata
Show full item recordAbstract
Posisi Indonesia sebagai produsen biji kakao terbesar didunia turun dari
posisi ke tiga menjadi posisi ke enam. Produksi kakao berperan penting dalam
subsektor perkebunan dan perekonomian nasional, khususnya sebagai sumber
pendapatan dan devisa negara. Namun, budidaya kakao saat ini menghadapi
banyak kendala, antara lain adanya penyakit dan hama tanaman yang dapat
menurunkan kuantitas dan kualitas produksi kakao. Penggerek Buah Kakao
(PBK) atau Conopomorpha cramerella Snell dan Helopeltis antonii adalah dua
hama utama yang bertanggung jawab dalam penurunan produksi kakao. Hingga
saat ini, dalam upaya pencegahan serangan hama C. cramerella dan H. antonii
sering digunakan insektisida. Namun, penggunaan insektisida yang terus menerus
akan mengganggu keberadaan organisme lain yang berperan penting di
perkebunan kakao dan meninggalkan residu yang sulit diurai pada tanah. Residu
yang tertinggal di tanah akan mengganggu keberadaan semut sehingga diperlukan
kondisi habitat yang sesuai untuk mendukung keberadaan semut dan dapat
mencegah serangan dari hama C. cramerella dan H. antonii. Salah satu organisme
yang penting pada perkebunan kakao adalah semut yang berpotensi sebagai agen
biokontrol alami dari hama H. antonii dan C. cramerella.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman
semut pada perkebunan kakao dengan penaung yang berbeda, mengetahui
hubungan antara kompleksitas habitat dengan kelimpahan semut pada perkebunan
kakao, mengetahui faktor abiotik yang berperan dalam kelimpahan semut di
perkebunan kakao dan mengetahui peranan kelimpahan semut terhadap intensitas
serangan hama H. antonii dan C. cramerella pada perkebunan kakao. Kegiatan
penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2020 – Mei 2021 di Kebun Percobaan
Kakao Kaliwining Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Kabupaten
Jember, Provinsi Jawa Timur. Sampel semut diambil dengan metode purposive
sampling yang didasarkan pada keterwakilan jenis penaung, yaitu penaung
paranet, penaung lamtoro, penaung pinang, penaung kelapa dan penaung kelapa
sawit. Pengamatan iklim mikro, sampel tanah, sampel semut dan penilaian
kompleksitas habitat diambil dengan menggunakan tiga buah plot pengamatan
dengan luasan 20×20 m di setiap blok kebun. Parameter kompleksitas habitat
yang diamati adalah kanopi pohon, kanopi semak, tanaman herba, serasah,
kelembaban tanah dan ketersediaan air dengan metode hemispherical
photography. Koleksi semut diambil dengan menggunakan dua metode, yaitu
metode pitfall trap dan metode Berlese funnel. Koleksi semut dengan
menggunakan metode pitfall trap dilakukan sebanyak lima buah yang dipasang
sesuai arah mata angin dan lima buah titik Berlese funnel diambil sesuai diagonal
dari plot pengamatan Jarak yang digunakan antar titik sejauh 10 m, sehingga
didapatkan 30 titik perangkap pada setiap blok kebun. Contoh tanah yang
diperoleh selanjutnya diekstraksi dengan Berlese funnel yang telah dimodifikasi
selama 7 hari dan Pitfall trap dipasang selama 1×24 jam. Sampel semut disimpan
dalam botol spesimen berisi alkohol 96% dan diidentifikasi hingga tingkat
subfamili. Faktor lingkungan yang diamati meliputi suhu tanah, suhu udara dan
kelembaban relatif udara dan ketebalan serasah. Analisis sifat tanah yang
dilakukan meliputi C-Organik, N-Total, pH, kadar air, particle density dan bulk
density.
Berdasarkan penilaian kompleksitas habitat, lokasi kebun kakao dengan
penaung kelapa sawit yang tergolong cukup kompleks. Hal ini dikarenakan pada
lokasi ini memiliki kondisi kanopi pohon, tanaman herba dan serasah yang luas
sehingga dapat mendukung segala aktivitas semut. Ditemukan sebanyak 4072
individu semut dengan menggunakan teknik pitfall trap dan Berlese funnel, yang
telah diklasifikasikan menjadi enam subfamili, yaitu Myrmicinae, Ponerinae,
Ceraphacyinae, Aenictinae, Dolichoderinae dan Formicinae. Kelimpahan dan
keanekaragaman semut tertinggi ditemukan di kebun kakao dengan penaung
kelapa sawit, yaitu 1463 individu dengan empat subfamili. Berdasarkan penilaian
kompleksitas habitat dan kelimpahan semut, lokasi kebun kakao dengan penaung
kelapa sawit yang memiliki korelasi negatif dengan intensitas serangan hama.
Sehingga semakin tinggi kelimpahan semut maka intensitas serangan hama akan
semakin menurun.
Collections
- MT - Agriculture [4039]
