Uji Efektivitas Bahan Organik dan Tanaman untuk Fitoremediasi Air Asam Tambang
Date
2021Author
Sekarjannah, Fitri Arum
Mansur, Irdika
Abidin, Zaenal
Metadata
Show full item recordAbstract
Salah satu permasalahan dunia akibat kegiatan pertambangan adalah
timbulnya air asam tambang (AAT). Pertambangan dapat menyebabkan
tereksposnya lapisan batuan yang tersusun atas mineral sulfida, seperti pirit dan
akan teroksidasi membentuk AAT. Alternatif pengelolaan AAT secara
berkelanjutan dan ramah lingkungan yaitu dengan membuat konstruksi lahan
basah buatan. Teknik pengelolaan AAT secara pasif yang ada saat ini adalah lahan
basah yang dialirkan, sehingga tinggi airnya terbatas pada tinggi tanaman dalam
kompartemen-kompartemennya. Tanaman akan tenggelam jika tinggi genangan
AAT melebihi tinggi tanaman. Sampai saat ini belum ada teknologi untuk
menetralkan AAT di lubang bekas tambang (void) yang dalam. Interaksi antara
bahan organik, tanaman dan bakteri pereduksi sulfat pada konstruksi lahan basah
telah terbukti mampu menetralkan AAT. Prinsip-prinsip pada lahan basah akan
diterapkan untuk menetralkan AAT dengan metode pulau bahan organik yang
mengapung dalam void. Tinggi tanaman tidak lagi menjadi faktor pembatas, karena
tanaman akan ditanam secara mengapung di pulau bahan organik.
Tujuan akhir dari penelitian ini adalah untuk menciptakan model pulau
bahan organik yang mampu meningkatkan kualitas AAT. Tujuan antara dari
rangkaian penelitian ini adalah (1) Menganalisis kemampuan berbagai jenis bahan
organik pada penelitian terdahulu dalam meningkatkan pH dan menurunkan logam
dalam AAT, (2) Mendapatkan bahan organik tunggal atau campuran bahan organik
yang efektif untuk meningkatkan pH dan menurunkan kandungan logam berat AAT
di Indonesia, (3) Menganalisis pertumbuhan kayu putih, lonkida, dan akar wangi
pada bahan organik apung yang dipengaruhi AAT, serta kemampuannya dalam
menyerap logam berat.
Tahapan dari penelitian ini yaitu melakukan studi metadata dari penelitian
terdahulu untuk mengetahui jenis-jenis bahan organik yang mampu
meningkatkan kualitas AAT. Dari hasil penelitian tahap pertama yang berupa
analisa metadata, maka akan diketahui efektivitas lahan basah buatan, jenis dan
peran bahan organik, rata-rata waktu tinggal yang diperoleh dari bahan-bahan
organik yang berbeda. Pada penelitian tahap kedua diuji berbagai macam bahan
organik, khususnya limbah pertanian, efektivitasnya dalam menetralkan AAT.
Aplikasi bahan organik pada penelitian kedua dibagi dalam beberapa rangkaian
penelitian secara bertahap, yaitu inkubasi 16 bahan organik sebagai screening awal
untuk mendapatkan jenis bahan organik potensial, kemudian dilakukan kombinasi
bahan organik potensial dengan bahan organik yang ketersediaannya melimpah,
dilanjutkan dengan uji komposisi bahan organik terbaik. Jenis dan komposisi
bahan organik terbaik digunakan sebagai dasar penelitian tahap ketiga, yaitu
pembuatan pulau bahan organik yang kemudian ditanami bibit pohon kayu
putih, lonkida, dan bibit tanaman akar wangi. Penelitian tahap ini dilakukan untuk
melihat daya hidup dan kemampuan tanaman dalam proses fitoremediasi AAT.
Hasil studi metadata menunjukkan bahwa semua jenis bahan organik dapat
meningkatkan kualitas AAT dengan waktu tinggal yang berbeda-beda. Secara garis
besar, jenis bahan organik yang mampu menetralkan AAT dengan cepat yaitu
pupuk kambing dengan waktu tinggal 75 menit, kemudian campuran tandan kosong
kelapa sawit dan kompos dengan waktu tinggal 4 jam, dan waktu tinggal paling
lama yaitu 10 minggu. Penambahan bahan organik mampu menurunkan kadar
logam terlarut dalam air, seperti Fe, Mn, Ni, Zn, Cr, Co, dan Pb. Pemilihan bahan
organik erat kaitannya dengan kemampuannya sebagai media tumbuh bagi tanaman.
Beberapa jenis bahan organik seperti campuran kotoran kambing dan serutan kayu,
campuran tandan kosong kelapa sawit dan kompos, campuran chip bambu dan
kotoran sapi, campuran kompos jerami dan serbuk gergaji, campuran tanah, kotoran
ternak dan gambut, campuran arang dan slag, serta kulit kenari dapat digunakan
sebagai substrat dasar lahan basah yang kemudian ditanami jenis tanaman
hiperakumulator. Campuran bahan organik tersebut juga mampu menetralkan pH
dan menghilangkan logam hingga 90%.
Hasil penelitian “Uji efektivitas bahan organik dalam remediasi air asam
tambang” menunjukkan bahwa beberapa jenis bahan organik seperti pupuk
kandang kambing, tandan kosong kelapa sawit (TKKS), kompos, pupuk kandang
sapi, limbah baglog jamur, pupuk kandang ayam, cacahan eceng gondok, limbah
penyulingan sereh wangi, dan limbah kompos daun kayu putih secara tunggal
mampu menetralkan AAT. Kombinasi antara chip kayu, serbuk gergajian kayu,
cocopeat, ampas tebu, dan TKKS masing-masing dengan pupuk kandang sapi dan
pupuk ayam juga mampu menetralkan AAT. Kombinasi antara TKKS dan pupuk
kandang sapi dengan komposisi 2:1 merupakan pilihan terbaik karena mampu
meningkatkan pH dari 2,17 menjadi 7,55 dengan waktu tinggal 1 jam dan semakin
lama semakin meningkat mencapai pH 7,67 dengan waktu tinggal 5 jam. Komposisi
bahan organik ini juga mampu menurunkan kandungan sulfat, unsur Fe dan Mn
berturut-turut sebesar 12%, 87%, dan 75%, yaitu menjadi 346 mg/l, 4 mg/l, dan 2
mg/l dalam waktu 5 jam dan hasil tersebut sudah berada di bawah baku mutu
lingkungan yang ditetapkan. Konsentrasi sulfida meningkat 20% sebagai hasil dari
proses reduksi sulfat yang terjadi dalam sistem tersebut.
Hasil penelitian “Uji efektivitas tanaman dalam media apung organik untuk
remediasi air asam tambang” menunjukkan bahwa tanaman kayu putih, lonkida,
dan akar wangi mampu hidup dan tumbuh pada bahan organik apung yang
dipengaruhi AAT. Perlakuan bahan organik apung kombinasi TKKS dan pupuk
kandang sapi 2:1 dengan atau tanpa tanaman mampu meningkatkan pH,
menurunkan unsur-unsur logam dan sulfat terlarut, tetapi menyebabkan
peningkatan nilai BOD (Biochemical Oxygen Demand). Urutan jenis unsur logam
yang paling mudah hingga sukar dihilangkan dari air adalah Zn>Cu>Al>Mn>Fe.
Ketiga jenis tanaman yang diujikan mampu menyerap logam berat dalam jumlah
yang tinggi. Logam berat banyak diserap pada bagian akar dibandingkan bagian
pucuk, seperti ditunjukkan oleh nilai translocation factor (TF)<1. Mekanisme yang
dilakukan oleh tanaman lonkida, kayu putih, dan akar wangi untuk penghilangan
logam Fe, Mn, Cu, Zn, dan Al adalah dengan teknik rhizofiltrasi, dimana kadar
unsur logam lebih rendah pada bagian pucuk dibanding akar dan logam disimpan
di bagian akar.
Collections
- MT - Forestry [1511]
