Daya Saing dan Efisiensi Teknis Ubi Kayu Indonesia
Abstract
Selama 10 tahun terakhir, Indonesia masih menjadi importir ubi kayu
dalam bentuk produk setengah jadi dan cenderung meningkat. Pada periode yang
sama, produksi ubi kayu Indonesia semakin menurun. Penurunan produksi
tersebut sebagian besar disebabkan oleh penurunan luas areal panen ubi kayu.
Namun di sisi lain, produktivitas ubi kayu Indonesia cenderung meningkat dan
lebih tinggi dibandingkan Thailand yang merupakan salah satu negara eksportir
pati ubi kayu terbesar. Produksi ubi kayu di tingkat usahatani yang semakin
menurun akibat penurunan luas panen mengakibatkan pasokan nasional tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan ubi kayu terutama di tingkat industri
pengolahan. Kondisi ini menyebabkan industri pengolahan memenuhi kebutuhan
bahan bakunya melalui impor produk ubi kayu. Penelitian ini bertujuan untuk: (1)
Menganalisis efisiensi teknis produksi ubi kayu, (2) menganalisis faktor-faktor
yang memengaruhi efisiensi teknis produksi ubi kayu; (3) menganalisis daya saing
ubi kayu Indonesia menurut efisiensi teknis produksi.
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari Survei
Usaha Rumah Tangga Tanaman Palawija tahun 2013 untuk komoditas ubi kayu
yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan publikasi Bank Indonesia
mengenai Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Pengolahan Tepung Tapioka
tahun 2009. Jumlah sampel petani yang digunakan sebanyak 2.595 petani dari
seluruh provinsi di Indonesia. Metode analisis data yang digunakan adalah Policy
Analisis Matrix (PAM) untuk mengukur daya saing ubi kayu yang dihitung
berdasarkan tingkat efisiensi teknis yang diduga dengan metode Data
Envelopment Analysis (DEA).
Berdasarkan hasil penelitian, usahatani ubi kayu di Indonesia secara teknis
(82,32 persen) tidak efisien karena berlebihan dalam penggunaan input, seperti
bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja. Selain faktor teknis, efisiensi produksi
ubi kayu ditentukan oleh faktor-faktor sosial ekonomi seperti status kepemilikan
lahan, keikutsertaan petani terhadap kelompok tani, dan penyuluhan. Ubi kayu
Indonesia di tingkat usahatani tidak berdayasaing baik berdasarkan keunggulan
komparatif maupun keunggulan kompetitif. Biaya produksi yang tinggi akibat
penggunaan input yang tidak optimal menjadi penyebab ubi kayu Indonesia di
tingkat usahatani tidak mempunyai keunggulan komparatif. Ubi kayu Indonesia di
tingkat industri pengolahan tidak berdayasaing berdasarkan keunggulan
kompetitif karena harga tepung tapioka, sebagai produk akhir, yang sangat
rendah. Daya saing ubi kayu Indonesia, baik di tingkat usahatani maupun di
tingkat industri pengolahan dientukan oleh efisiensi teknis di tingkat usahatani.
Semakin tinggi tingkat efisiensi teknis ubi kayu di tingkat usahatani, daya saing
ubi kayu juga semakin tinggi. Oleh karena itu, daya saing ubi kayu Indonesia baik
di tingkat usahatani maupun di tingkat industri pengolahan dapat ditingkatkan
dengan meningkatkan efisiensi teknis di tingkat usahatani.
Collections
- MT - Economic and Management [3203]
