Penilaian Visual Kondisi 3 (Tiga) Bangunan Tradisional di Provinsi Aceh
Abstract
Bangunan tradisional umumnya menggunakan kayu sebagai bahan baku bangunan. Penggunaan kayu sebagai bahan bangunan membuat bangunan rentan mengalami deteriorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi visual dan menduga keandalan 3 (tiga) bangunan tradisional di Provinsi Aceh. Identifikasi visual dilakukan pada komponen bangunan atap, dinding, kolom, dinding, pintu dan jendela, serta pondasi atau lantai. Identifikasi meliputi jenis kerusakan yang terjadi pada tiap komponen dan keberadaan organisme perusak. Hasil identifikasi visual menunjukkan jenis kerusakan komponen bangunan umumnya disebabkan oleh cacat berupa retak dan mata kayu. Faktor perusak yang ditemukan berupa jamur pewarna dan rayap. Hasil analisi nilai keandalan dari bangunan tradisional Rumah Maru sebesar 52%, Rumah Rungko 45%, dan Rumah Cut Nyak Dien 72%. Jenis kayu yang digunakan pada Rumah Maru adalah jenis merawan (Hopea sp.), pada Rumah Rungko adalah jenis atedwe (Crataeva sp.), dan pada Rumah Cut Nyak Dien adalah jenis balau (Shorea sp.). Nilai kadar air rerata yang diperoleh masing-masing jenis kayu adalah sebesar 11.64%, 16.47%, dan 15.73%. Nilai rerata BJ dan kerapatan masing-masing jenis kayu yang digunakan sebesar 0.91 dan 1.01 g/cm3, 0.52 dan 0.61 g/cm3, 0.75 dan 0.87 g/cm3. Rumah Maru dan Rumah Rungko masuk kategori rusak ringan, bangunan mengalami kerusakan umumnya pada bagian non struktural, sedangkan Rumah Cut Nyak Dien masuk dalam kategori sedang, bangunan masih berfungsi tanpa adanya pemeliharaan rutin. Traditional buildings generally use wood as a building material. The use of wood as a building material makes buildings easy to be deteriorating. This study aimed to evaluate the visual conditions and estimate the reliability of 3 (three) traditional buildings in Aceh Province. Visual identification was carried out on building components comprising roofs, walls, columns, doors and windows, and base or floors. Identification included the type of damage that has occurred to each component and the presence of destructive organisms. The results of visual identification show the main defects found were cheks/shakes and knots. The deteriorating factors that were found were staining fungi and termite. The reliability value of the traditional buildings of Maru House was 52%, Rungko House 45%, and Cut Nyak Dien House 72%. The wood species used in the Maru House was merawan (Hopea sp.), Rungko House atedwe (Crataeva sp.), and t Cut Nyak Dien House balau (Shorea sp.) wood. The average moisture content value was obtained by each wood species was 11.64%, 16.47%, and 15.73%, respectively. Meanwhile, the mean value of SG and density were 0.91 and 1.01 g/cm3, 0.52 and 0.61 g/cm3, 0.75 and 0.87 g/cm3, respectively Maru's house and Rungko's house were in the lightly damaged category, where the buildings were generally damaged in non-structural parts. Meanwhile, the Cut Nyak Dien House was included in the medium category where the building is still functioning without routine maintenance.
Collections
- UT - Forestry Products [2466]
