Infeksi Virus dan Keragaan Pertumbuhan Kultivar Bawang Putih Lokal.
Abstract
Bawang putih (Allium sativum L) adalah komoditas hortikultura dengan
permintaan cukup tinggi di Indonesia. Bawang putih dibudidaya secara aseksual
melalui perbanyakan vegetatif yaitu dengan bagian umbi (siung). Perbanyakan
secara vegetatif ini meningkatkan resiko infeksi oleh berbagai macam virus yang
bersifat tular umbi. Beberapa penyakit utama yang disebabkan oleh infeksi virus
pada bawang putih diantaranya, Garlic common latent virus (GarCLV) dan
Shallot latent virus (SLV) dari genus Carlavirus, Onion yellow dwarf virus
(OYDV) dan Shallot yellow stripe virus (SYSV) dari genus Potyvirus. Penelitian
ini bertujuan mengidentifikasi virus pada beberapa varietas bawang putih (Sanur
1, Sanur 2, Jati Barang, Lumbu Kuning dan Banjar), mengukur insidensi penyakit
dan mengamati pertumbuhan tanaman bawang putih. Gejala penyakit, tinggi
tanaman dan jumlah daun per tanaman diamati setiap 2 minggu sekali. Konfirmasi
lebih lanjut terhadap infeksi virus dilakukan dengan dot-immunobinding assay
(DIBA). Hasil deteksi menunjukkan bahwa infeksi Potyvirus (OYDV, SYSV) dan
Carlavirus (GarCLV and SLV) berhasil dikonfirmasi dari semua sampel.
Insidensi penyakit yang disebabkan oleh virus di pertanaman berkisar antara 88.2
hingga 100%; sedangkan pada umbi berkisar antara 96.8 sampai 99.5%. Gejala
dominan yang ditemukan di lapangan diantaranya, mosaik kuning, bercak kuning,
ujung daun berlekuk dan kerdil. Hasil panen menunjukkan rata-rata berat umbi
berkisar antara 0.69 g sampai 1.86 g; dengan rata-rata jumlah siung per umbi
antara 1 sampai 2 buah. Hasil penelitian ini mengonfirmasi tingginya infeksi virus
pada bawang putih dan potensinya mengganggu pertumbuhan tanaman.
Kata kunci: dot-immunobinding assay, gejala penyakit, insidensi penyakit, mosaik
Collections
- UT - Plant Protection [2517]
