Keefektifan Perlakuan Air Panas dan Teh Guano terhadap Nematoda Aphelenchoides besseyi Christie pada Benih dan Pengaruhnya terhadap Bibit Padi
Abstract
Aphelenchoides besseyi merupakan salah satu nematoda penting terbawa
benih yang menginfeksi padi dan dapat menyebabkan kehilangan hasil serta
mengurangi kualitas gabah. Nematoda ini tersebar luas di banyak negara dan barubaru
ini di Indonesia sebagai akibat dari transportasi benih dunia. Oleh karena itu,
perlu dikembangkan metode kontrol yang efektif untuk menghilangkan nematoda
A. besseyi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode yang efektif untuk
mengendalikan nematoda A. besseyi pada benih padi melalui perlakuan air panas
dan teh guano dan mengurangi kejadian penyakit pucuk putih pada bibit melalui
pembibitan terendam.
Nematoda dalam keadaan dorman di dalam benih padi, sehingga diperlukan
suatu cara untuk mengaktifkannya kembali. Penentuan durasi perendaman awal
benih untuk mengaktifkan nematoda dorman dilakukan dengan merendam benih
padi varietas Pak Tiwi 1, Ciherang dan IPB 3S pada suhu 25-30 °C selama 30, 60,
90, 120, 150, 180, 210, dan 240 menit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa
perlakuan perendaman awal benih pada suhu 25-30 °C selama 180 menit (3 jam)
merupakan waktu optimum untuk mengaktifkan kembali nematoda dari fase
dorman
Percobaan perlakuan perendaman dengan air panas suhu suhu 55 °C dan teh
guano dilakukan terhadap 3 varietas padi yaitu Pak Tiwi 1, Ciherang dan IPB 3S,
dengan 2 metode perendaman yaitu perendaman air panas dan teh guano, dan waktu
perendaman masing-masing 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 menit. Sebanyak 400 butir
benih dari masing-masing varietas direndam dalam air panas suhu 55 °C, larutan
teh guano 10 g/l, dan air suhu 25-30 °C sebagai kontrol selama waktu yang telah
ditentukan. Ektraksi nematoda dilakukan dengan metode corong Baermann, hasil
ekstraksi diidentifikasi dan dihitung jumlah. Perlakuan perendaman yang sama
dilakukan untuk mengetahui pengaruh perendaman terhadap pertumbuhan bibit
padi. Benih yang telah direndam ditanam dalam bak plastik dengan media tanah,
kemudian diamati daya tumbuh benih pada 14 HSS, panjang akar dan tinggi bibit
pada 30 HSS.
Perlakuan perendaman dengan air panas suhu 55 °C dan teh guano efektif
menurunkan populasi nematoda, namun pengaruhnya berbeda pada setiap varietas.
Pada varietas Pak Tiwi 1 perendaman dengan air panas suhu 55 °C efektif
menurunkan populasi nematoda rata-rata 87.84% dan dapat mempertahankan daya
tumbuh di atas 90% dengan waktu perendaman 5-30 menit. Pada varietas Ciherang
perendaman dengan air panas suhu 55 °C efektif menurunkan populasi nematoda
52.85-65.85% dan dapat mempertahankan daya tumbuh di atas 90% dengan waktu
perendaman 5-10 menit, dan perendaman dengan teh guano selama 30 menit
mampu menurunkan popuasi nematoda 82.11% dengan daya tumbuh 83.33%. Pada
varietas IPB 3S perlakuan teh guano efektif menurunkan populasi nematoda
rata-rata 50.16% dengan waktu perendaman 5-30 menit dan mempertahankan daya
tumbuh rata-rata 85%. Perlakuan perendaman air panas suhu 55 °C menyebabkan
panjang akar dan tinggi bibit lebih pendek pada varietas Pak Tiwi 1 dan Ciherang,
sedangkan pada varietas IPB 3S pengaruhnya tidak berbeda dengan perendaman
teh guano dan kontrol.
Percobaan perlakuan pembibitan terendam dilakukan terhadap 3 varietas padi,
yaitu Pak Tiwi 1, Ciherang dan IPB 3S. Sebanyak 100 butir benih padi dari masingmasing
varietas ditanam pada bak plastik yang telah diisi media tanah, dan
direndam dengan ketinggian air 1, 3, dan 5 cm dari permukaan media tanah selama
kurang lebih 3x24 jam, selanjutnya air segera dikeluarkan untuk mencegah benih
membusuk sehingga dapat tumbuh dengan baik. Kejadian penyakit diamati selama
10–30 HST dengan interval waktu pengamatan 3 hari. Perlakuan pembibitan
terendam dapat mengurangi terjadinya penyakit pucuk putih pada bibit padi dengan
tinggi air rendaman 1, 3 dan 5 cm pada varietas Ciherang dan IPB 3S serta 3 dan 5
cm pada varietas Pak Tiwi 1, dengan tingkat kejadian penyakit hanya sebesar 0.71%.
Collections
- MT - Agriculture [4005]
