<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UF - Nutrition Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 07 Aug 2026 21:13:14 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-07T21:13:14Z</dc:date>
<item>
<title>Hubungan Kebiasaan Mendengarkan Musik, Stres Akademik, dan Emotional Eating dengan Asupan Mahasiswa</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177660</link>
<description>Hubungan Kebiasaan Mendengarkan Musik, Stres Akademik, dan Emotional Eating dengan Asupan Mahasiswa
Sagala, Nadya Haprima Indah Br
Mahasiswa tahun pertama rentan mengalami stres akademik yang memicu emotional eating dan memengaruhi asupan. Musik menjadi salah satu strategi koping nonfarmakologis untuk menurunkan stres. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kebiasaan mendengarkan musik, stres akademik, dan emotional eating dengan asupan mahasiswa tahun pertama IPB University. Penelitian dilakukan secara cross-sectional pada 85 mahasiswa yang dipilih secara random sampling. Data dikumpulkan melalui Music Preference Questionnaire, Perception of Academic Stress Scale, Dutch Eating Behaviour Questionnaire-Emotional, dan food recall 2×24 jam. Hasil analisis menunjukkan jenis kelamin berhubungan signifikan dengan stres akademik (p=0,007), serta uang saku berhubungan negatif signifikan dengan asupan energi (p=0,049), sedangkan durasi mendengarkan musik, stres akademik, dan emotional eating tidak berhubungan signifikan satu sama lain maupun dengan asupan zat gizi. Temuan ini menunjukkan bahwa stres akademik pada mahasiswa tahun pertama lebih dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin dibandingkan kebiasaan mendengarkan musik, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dalam memahami hubungan antara musik, stres, dan pola makan mahasiswa.; First-year college students are prone to academic stress, which can trigger emotional eating and affect their food intake. Music is one non-pharmacological coping strategy for reducing stress. This study aims to analyze the relationship between music listening habits, academic stress, and emotional eating with the dietary intake of first-year students at IPB University. The study was conducted as a cross-sectional study involving 85 students selected via random sampling. Data were collected using the Music Preference Questionnaire, the Perception of Academic Stress Scale, the Dutch Eating Behavior Questionnaire-Emotional, and a 2×24-hour food recall. The results showed that gender was significantly associated with academic stress (p=0.007), and that pocket money was significantly and negatively associated with energy intake (p=0.049), while the duration of music listening, academic stress, and emotional eating were not significantly associated with one another or with nutrient intake. These findings indicate that academic stress among first-year students is more influenced by gender than by music listening habits, highlighting the need for a more comprehensive approach to understanding the relationship between music, stress, and students' dietary patterns.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177660</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik, Stres, dan Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) dengan Kejadian Dismenorea Primer pada Mahasiswi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177534</link>
<description>Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik, Stres, dan Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) dengan Kejadian Dismenorea Primer pada Mahasiswi
SABRILLA, TALITHA NASYWA
Dismenorea primer merupakan keluhan ginekologis yang paling sering dialami mahasiswi dan dapat mengganggu produktivitas akademik. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat aktivitas fisik, stres, konsumsi makanan cepat saji (fast food), dan persentase lemak tubuh dengan derajat keparahan dismenorea primer, serta membandingkannya antara mahasiswi program studi kesehatan dan non-kesehatan. Penelitian ini menggunakan comparative study dengan desain cross-sectional yang melibatkan 120 mahasiswi IPB University berusia 19–24 tahun, dipilih melalui purposive sampling. Aktivitas fisik diukur dengan IPAQ, stres dengan DASS-21, konsumsi fast food dengan Food Frequency Questionnaire, persentase lemak tubuh dengan bioelectrical impedance analysis, dan derajat keparahan dismenorea dengan WaLIDD Score. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney, Chi-Square, Rank Spearman, dan regresi logistik ordinal. Derajat keparahan dismenorea (p=0,026) dan tingkat stres (p=0,012) berbeda signifikan antar kelompok. Tingkat stres (r=0,224), konsumsi gula (r=0,211), garam (r=0,202), lemak (r=0,187), serta persentase lemak tubuh (r=0,209) berhubungan positif signifikan dengan kekuatan lemah, sedangkan aktivitas fisik tidak (p=0,433). Analisis multivariat menunjukkan tingkat stres sebagai faktor paling dominan (OR=1,078; p=0,011). Kesimpulannya, stres, fast food, dan persentase lemak tubuh berkaitan dengan dismenorea primer, dengan stres sebagai faktor paling dominan, menegaskan bahwa dismenorea bersifat multifaktorial.; Primary dysmenorrhea is the most common gynecological complaint among female students and may interfere with academic productivity. This study aimed to analyze the relationship between physical activity level, stress, fast food consumption, and body fat percentage with the severity of primary dysmenorrhea, and to compare it between health and non-health students. This study used a comparative study with a cross-sectional design involving 120 female students of IPB University aged 19–24 years, selected through purposive sampling. Physical activity was measured using IPAQ, stress using DASS-21, fast food consumption using the Food Frequency Questionnaire, body fat percentage using bioelectrical impedance analysis, and dysmenorrhea severity using the WaLIDD Score. Data were analyzed using Mann-Whitney, Chi-Square, Spearman rank correlation, and&#13;
ordinal logistic regression. The severity of dysmenorrhea (p=0.026) and stress level (p=0.012) differed significantly between groups. Stress (r=0.224), sugar (r=0.211), salt (r=0.202), fat consumption (r=0.187), and body fat percentage (r=0.209) had significant positive correlations of weak strength, whereas physical activity did not (p=0.433). Multivariate analysis showed stress as the most dominant factor (OR=1.078; p=0.011). In conclusion, stress, fast food, and body fat percentage were associated with primary dysmenorrhea, with stress as the most dominant factor, confirming its multifactorial nature
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177534</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan Frekuensi Food Away From Home, Kualitas Diet, dan Aktivitas Sedentari dengan Risiko Obesitas pada Remaja SMA</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177411</link>
<description>Hubungan Frekuensi Food Away From Home, Kualitas Diet, dan Aktivitas Sedentari dengan Risiko Obesitas pada Remaja SMA
PUTRI, RAHMA NIA
Obesitas pada remaja merupakan masalah gizi yang terus meningkat, terutama di wilayah perkotaan dengan akses tinggi terhadap makanan siap saji dan gaya hidup sedentari. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan frekuensi food away from home (FAFH), kualitas diet, dan aktivitas sedentari dengan risiko obesitas pada remaja SMA di Kota Bogor. Penelitian menggunakan desain cross-sectional terhadap 126 siswa dari tiga SMA Negeri di Kota Bogor yang dipilih melalui cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan pengukuran antropometri, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman, Mann-Whitney, dan regresi linier berganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa frekuensi FAFH (rs=0,210; p=0,018), kualitas diet (rs=-0,200; p=0,024), dan aktivitas sedentari (rs=0,333; p=0,000) berhubungan signifikan dengan z-score IMT/U. Pada analisis multivariat, aktivitas sedentari (ß=0,291; 95% CI: 0,047–0,173; p=0,001) dan kualitas diet (ß=-0,178; 95% CI: -0,032–-0,001; p=0,033) tetap menjadi prediktor independen yang signifikan setelah dikontrol oleh variabel lain, sedangkan frekuensi FAFH tidak lagi berhubungan signifikan (ß=0,118; 95% CI: -0,015–0,087; p=0,164). Ketujuh variabel dalam model menjelaskan 22,0% variasi z-score IMT/U. Penelitian ini menyimpulkan bahwa aktivitas sedentari dan kualitas diet merupakan determinan yang lebih konsisten terhadap risiko obesitas remaja dibandingkan dengan frekuensi FAFH, sehingga pencegahan obesitas remaja perlu difokuskan pada peningkatan kualitas diet dan pengurangan aktivitas sedentari.; Adolescent obesity is an increasing public health concern, particularly in urban areas with high access to fast food and sedentary lifestyles. This study aimed to examine the associations of food away from home (FAFH) frequency, diet quality, and sedentary activity with obesity risk among adolescents in Bogor City, Indonesia. This study employed a cross-sectional design involving 126 students from three public senior high schools in Bogor City, selected through cluster random sampling at the district level. Data were collected through questionnaires, interviews, and anthropometric measurements and analyzed using Spearman correlation, Mann–Whitney, and multiple linear regression. Bivariate analysis showed significant associations between FAFH frequency (rs = 0.210, p = 0.018), diet quality (rs = -0.200, p = 0.024), sedentary activity (rs = 0.333, p &lt; 0.001), and BMI-for-age z-score. In the multivariable analysis, sedentary activity (ß = 0.291; 95% CI: 0.047–0.173; p = 0.001) and diet quality (ß = -0.178; 95% CI: -0.032 to -0.001; p = 0.033) remained significant independent predictors of BMI-for-age z-score after adjustment for potential confounders, whereas FAFH frequency was no longer significantly associated with BMI-for-age z-score (ß = 0.118; 95% CI: -0.015 to 0.087; p = 0.164). The model explained 22.0% of the variation in BMI-for-age z-scores (R² = 0.220). These findings indicate that sedentary behavior and diet quality are stronger predictors of adolescent obesity risk than FAFH frequency. Therefore, obesity prevention should focus on reducing sedentary behavior and improving diet quality.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177411</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengukuran Indeks Kekenyangan Nasi Rempah Instan dengan Penambahan Daging Ayam dan Jamur Kuping</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177385</link>
<description>Pengukuran Indeks Kekenyangan Nasi Rempah Instan dengan Penambahan Daging Ayam dan Jamur Kuping
Kanani, Nadia Zahra
Obesitas dan overweight masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang dipengaruhi oleh konsumsi energi berlebih. Perubahan pola hidup yang serba cepat meningkatkan kebutuhan akan pangan praktis yang mampu memberikan rasa kenyang lebih lama untuk membantu mengendalikan asupan energi. Penelitian ini bertujuan menganalisis indeks kekenyangan nasi rempah instan dengan penambahan daging ayam dan jamur kuping dibandingkan roti putih (SI=100%) dan nasi putih. Penelitian menggunakan desain crossover pada 15 dewasa muda sehat berusia 19–29 tahun. Pangan uji diberikan isokalori 240 kkal dan tingkat kekenyangan diukur menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) selama 180 menit setelah konsumsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasi rempah instan menghasilkan rasa lapar, keinginan makan, dan perkiraan kemampuan makan yang lebih rendah serta rasa kenyang yang lebih tinggi dibandingkan roti putih dan nasi putih. Nilai satiety index (SI) nasi rempah instan sebesar 113,26 ± 13,48, dapat memberikan efek kenyang 1,13% lebih besar dibandingkan roti putih sebagai standar. Nasi rempah instan berpotensi menjadi alternatif pangan praktis yang mampu meningkatkan rasa kenyang untuk menghindari konsumsi energi berlebih yang merupakan salah satu faktor awal yang berkontribusi terhadap obesitas.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177385</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
